Bismillah, andai
ada sesuatu dibalik sesuatu seperti Tuhan memberi hikmah terhadap segala
sesuatu. Itu bukanlah kewajiban kita untuk tahu apa hikmah dibalik
narasi, yang harus tahu adalah syukur dalam segala posisi.
Heum
Right! Ibaratnya saya melemparkan sebuah pena ke lantai, lantas saya
bertanya itu salah siapa? Heiii itu salah siapa? Ko pena bisa tergeletak
gitu aja dilantai, coba kalo ke injek kan sayang, terus gimna kalo
orang yang menginjaknya jatuh kepeleset?
Betul memang saya yang
melempar (andai saya mau mengaku itu juga). Terus? Manusia sebagai insan
intelek yang bertahun-tahun menyelesaikan beban management fakultatif
dengan nilai bagus lagi, harusnya bisa melihat sesuatu dibalik sesuatu.
Mengapa kita selalu berfokus pada "masalahnya"? mengapa tidak berfokus
pada "cara pemecahan masalahnya". Gak perlu ribut bukan, yang pasti
ambil pulpennya, taruh pada tempatnya dan selesai. kalau kata Bapak
Gusdur,
githu aja kok repottt!
Saya pun sering begitu,
melihat masalah melalui kacamata minus. Siapa yang bersalah, mengapa ia
melakukan demikian, mengapa itu bisa terjadi dan kalimat mengapa lainnya
yang sering saya indikasi sebagai perincian masalah. Termasuk pandangam
saya saat melihat kasus Hambalang yang tak kunjung usai setelah
menambah satu aktor lain (jenuh #@*). Lantas ketika hari ini ada
kesadaran bahwa jangan lagi melihat siapa dan mengapa tapi "bagaimana
cara menyelesaikan masalah itu?" Ah rasanya seperti ingin mengambil
pulpen dan menaruh kembali pada tempatnya, tapi pulpennya itu bukan
berada ditempat saya saat ini berada, tapi dibelahan dunia lain yang
saya sangat sulit menjangkaunya, kecuali untuk menelepon atau sms
orang-orang yang berada dekat dengan pulpen itu. Ah itu pun saya tak
punya koneksi, saya bukan seseorang yang punya kenalan penegak hukum
atau lainnya yang bisa saya mintai tolong.
Wah kok malah ngelantur ke masalah itu, balik lagi ke posisi.
Melihat
sesuatu dibalik sesuatu seperti melihat masalah dari sisi pemecahannya,
menginspirasi saya untuk mengulas masalah organisasi dikampus ini.
Kampus tercinta yang kita berada didalamnya, apakah akan menjadikannya
dinamis atau statis. Kedinamisan ini tentu saja selain diindikatori oleh
prestasi akademik juga oleh prestasi organisasinya. Organisasi seperti
ibadah tambahan bagi seorang mahasiswa, apakah boleh dikatakan
pelengkap? Beban mata kuliah yang saat ini didapatkan, sebagian dapat
langsung diaplikasikan didalam organisasi sebagai medianya.
Seperti inikah?
Saat
ini, saya belajar IPS tentang keterkaitan antara fakta, data, konsep,
dan generalisasi. Saat diruang kuliah itu cukup jadi bahan diskusi,
lantas bagaimana penerapannya di sehari-hari? Salah satu medianya adalah
organisasi. Kita melihat bagaimana fakta minat berorganisasi saat ini
di kampus, kita kumpulkan fakta2 itu bisa diperoleh dari pengumpulan
data mulai dari wawancara, angket, pengamatan dan banyak cara lainnya.
Lantas setelah pengumpulan fakta? Kita memperoleh data bagaimana
sesungguhnya minat berorganisasi.
Nah kita apakan data ini? data
ini kita olah untuk menghasilkan sebuah kesimpulan berdasarkan
konsep-konsep yang telah kita abtraksikan dari data, baik berupa
pendapat atau teori atau malah hukum (hukum berorganisasi mungkin
hahahamh): misal "Minat berorganisasi di UPI Tasik ini cukup rendah."
Cetusan itu muncul karena misalkan: orang-orang yang berada di beberapa
organisasi ya dia lagi-dia lagi.
Lalu setelah dapat cetusan aneh itu, apa yang dapat kita lakukan? Ya jelas lihat sesuatu dibalik sesuatu.
Problem Solving.
1. Kampus tidak mewajibkan seorang mahasiswa untuk berorganisasi
di dalam kampus.
2. Kampus tidak membatasi seorang mahasiswa untuk ikut dalam beberapa organisasi di dalam kampus.
3. Mahasiswa merasa tidak punya keuntungan dalam segi material jika berorganisasi di dalam kampus.
4. Tidak punya waktu untuk berorganisasi didalam kampus.
dan
banyak rentetan lainnya yang jadi jawaban mengapa, yang jadi jawaban
bagaimana adalah kebalikan dari mengapa (untuk kasus ini).
Krisis
pengkaderan dalam berorganisasi (pusing nyari penerus) dikarenakan
minimnya minat mahasiswa dalam berorganisasi. Ah, mana tugas mahasiswa
itu,
iron stock ya dimanakah ia? Tugas mahasiswa selain jadi
agent of change dan social control? Bagaimana akan jadi iron stocke jika
kondisi di kampusnya pun begini adanya? saling tunjuk menunjuk dan
nemlehkeun.
Bukan saling berkompetisi untuk mengambil kesempatan sebagai bukti jiwa
mudanya malah saling hujat. Mengapa yang berjiwa muda malah lesu?
Lihat yang tua-tua aja masih pada mau nyalonin diri di pemilu
(contohnya, maaf)? Kebalik sama faktanya kan, beri aku sepuluh pemuda
itu kini hanya pemanis pidato. Saya rindu bukti, bukti dari kata Bung
Karno itu.
Jika ikut berorganisasi hanya untuk materi,
popularitas, nyari jodoh, atau dekat dengan dosen biar nilai akademik
bagus, ayo TOBAT! Gak papa lah biar ngikut istilah Pak Anis Mata, Taubat
Nasional. Tapi benar itu 100%, saya yakin minat mahasiswa berorganisasi
rendah karena gak tahu tujuan dalam organisasi. Hanya ingin untung, apa
sih keuntungan saya berorganisasi? Hanya itu yag ada dibenaknya. (galak
banget ya?). tapi gak pernah mau bertanya, apa yang bisa saya berikan
untuk kampus dan organisasi? mental memberi yang belum tumbuh. Yups oleh
karena itu ada sebuah teka-teki yang harus dijawab oleh kita bersama:
wahai
Para Mahasiswa yang berjiwa muda, anda mau jadi mahasiswa yang
sesungguhnya sebagai iron stocke atau jadi mahasiswa yang sekedar punya
selembar ijazah? Berorganisasilah sebagai ibadah tambahan untuk
mengaplikasikan ilmu mu, ini bukan perintah tapi sebuah permintaan mohon
bantuan, lihatlah mimpimu disana dan lihatlah disana membutuhkan tangan
dan perjuanganmu.
Akhirnya saya sadar, jika saya tak
perlu menunggu koneksi untuk memberi tahu bagaimana harusnya pulpen itu
diletakan. Saya punya media, saya punya tangan. Menulislah. Toh biar
tidak sampai pun, akan ada orang yang mau membaca dan sama2 memikirkan
nasib pulpen yang jatuh itu. Seperti tak perlu menunggu sempurna untuk
mengajak orang lain. Karena Kesempurnaan mutlak milik yang Kuasa, kita
hanya harus berusaha dan berdoa.
Doa penutup untuk tulisan
yang hanya unek-unek, "Robbisrohli sodri wa yaa sirli amri, wah lul'uk
datammilisani yapkohu kouli, AAmiin." Semoga bermanfaat,
Wallohu 'alam bissowab. (AZ)