Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

4 Desember 2015

Rumah bernama Entah

Standard
Ada sebuah rumah bernama entah, dibangun di atas tanah bernama kemungkinan. Berdiri sendiri di tengah padang rumput... sekelilingnya hutan belantara, hanya adu satu jalan masuk, lurus ke arah barat, mengikuti jejak-jejak kaki kuda. Selain itu, tidak bisa dilewati, pohonnya terlalu rapat, jebakan lumpur isap, juga hewan-hewan ganas.
Jalan satu-satunya itu akan mengarah ke danau. Dari danau dibutuhkan sampan kecil untuk melintas dan lalu sampai di jalan raya. benar, daratan ini tepat berada di tengah-tengah danau, pulau kecil saja, dengan satu rumah bernama entah.

Di sanalah aku tinggal, pada mulanya berbanyakan. Sekian lama waktu membuat kebersamaan kami semakin lekat. Lalu satu persatu pergi, jemputan yang kami sering gosipkan menjadi kenyataan... Aku hanya seorang putri biasa, jemputan tak kunjung datang.
Sering bertanya, mengapa jemputanku belum juga ada? Adakah si penunggang terkena celaka?

Kabar demi kabar kudengar, si burung dara mengicaukan nama-nama penunggang yang hari ke hari berpaling jalan.
"Kau tahu, hati itu bisa berubah putri! Si penunggang melewati danau, ah bahkan sebelum sempat ia menemukan kudanya, ia amat mengagumi kedalaman danau, lalu ia tenggelam sebelum sempat menemukanmu."
"Itu ceritamu hari kemarin," sergahku, gusar.
"Aku lupa, si penunggang yang lainnya. Bukankah ia yang telah maaf, mmm.. mmmm.. sempat bertemu denganmu?"
"Ya pesta yang salah, aku harusnya tidak datang."
"Dia sudah melupakanmu kupikir. Kau tahu apa yang membuatnya melupakanmu? Hahaha, kau keras kepala putri. Dia tidak melihatmu dari awal, dia melihat ketangguhanmu saja, kelebihanmu saja, habis kau tak ada lagi yang perlu dibanggakan, adakah alasan lain seseorang untuk tinggal?"
"Ada. Pasti ada alasan."
"Cinta? Kau pikir, cinta terus ada jika tak kau pelihara?"
"AKu tidak memelihara sesuatu yang sudah pasti ada."

"Putri, kau tahu? Seminggu lalu aku terbang ke negri sebrang. Heran sungguh aku dibuatnya. Wajah penunggang yang kau sering lukis di kanvas, terpampang jelas di tembok-tembok kota, di kertas-kertas besar...
"Apakah itu pertanda yang kutakutkan?"
"Aku melihatnya. Ia bahagia dan siap dengan pilihannya. Itu berarti kau putri harus segera mengetahui berapa ukuran tubuhmu, lakukanlah..."
"Lalu ada berita lainnya? selain itu?"
"Seorang wanita muda, aku takut jika menyebutkan aku pernah mengenalnya, berpakaian sepertimu, menangis diam-diam di hadapan poster-poster itu...
"Apakah kau sudah menjelma menjadi seorang penguping, dara?"
"Ah kau pasti tersentak mendengar apa yang ia katakan...
"Kau telah berhasil membuatku penasaran. Katakan!"

ANgin menelisik pagi, menyuai embun yang gemelayut. Putri adalah diriku yang sepi, menunggu.
Sebuah rumah bernama entah. ditengah padang runput dengan satu jalan keluar masuk.

Apakah aku siap berjalan sendirian? Tentu jalan yang kulewati akan sedikit berbeda. Menembus belantara bukan ide bagus, tapi satu-satunya. Sebelum penyihir itu datang dan menenggelamkan rumah.
"Tenanglah, aku akan memandumu."
Hatiku seolah berkata.
Sjauhnya kuberjalan, menyusuri jejak-jejak yang tak berbekas, berharap selekas-lekasnya jauh dari rumah.
Hingga gelap itu tiba, ada sedikit takut. Aku memutuskan beritirahat di sana, di bawah pohon akasia besar. Menanti, jika saja ada binatang yang bisa berbicara dan menunjukku arah yang benar.

Gemintang di langit. Dulu saat si penunggang itu menemuinya di pesta dengan sinar yang melimpah. Ia teringat benda angkasa bercahaya. Menunjuki bahwa dirinya tak salah menatap. Ah, menyesakkan.
Tapi cukuplah perjalanan malam ini, sebagai penutup bahwa tatapan tak boleh hanya pada satu arah, harus ada kemungkinan lainnya, kemungkinan yang boleh terjadi sebab yang Maha Kuasa menginginkan itu terjadi.

"Apa yang dikatakan perempuan itu?"
"Ulang, perempuan dengan pakaian sepertimu...
"Apa yang dikatakannya? Mengapa ia menangis?"

"Ia menginginkan sesuatu, yang kau miliki. Tapi aku melihat, kau menginginkan sesuatu yang perempuan itu miliki, kau ingin bebas... Ya lupa aku, kau sudah meredeka!"


Rumahku lenyap, dan diriku lenyap, hanya ada satu pasang mata, mengintipku dari celah jendela, menuliskan nama-nama, dan melupakannya begitu saja.

(Az, 05/12/15)





13 Agustus 2015

BUNGA

Standard
Sekuntum bunga yang tumbuh di sebuah pot di sudut rumah akan berbeda dengan sekuntum bunga yang tumbuh di taman terbuka.
Ada banyak cerita yang akan di lewati oleh si bunga pot di sudut rumah. Tapi amboi, bunga di taman terbuka akan rentan sekali oleh jamah tangan pendosa.

Bukankah...
Sebagai bunga, ia tak bisa protes atau sesukanya berpindah tempat, ia hanya menerima.
Toh bunga yang di pot di sudut rumah, ia tak mampu berkata, mungkin saja ia tak pernah memimpikan pergi ke taman, bukan? Saat pagi hari si empunya datang menyiraminya, mengambil helai daunnya yang jatuh, ia begitu suka cita. Itu sudak cukup baginya.

Begitu juga, bunga di taman terbuka mungkin ia selalu menantikan seseorang di sana, sekedar lewat atau duduk sebentar, lalu bercakap padanya lewat seulas senyum. Itu telah membuatnya lebih bermekaran setiap harinya.

namun yangg pasti, diantara keduanya... tak pernah memimpikan apa yang ada di luar keduanya, sehingga menyiksa semuanya. Cukup, itu baginya sudah cukup.

Keduanya begitu tekun dan istikomah dengan rasa penerimaannya.

Keduanya lebih sibuk memikirkan nikmat daripada rasa inginnya atau mimpinya.
Apa yang telah ia terima kini jadi semacam mabuk yang meinmbulkan syukur...

Ya, posisi keduanya, tempat keduanya memang membuat ia dan ia akan berbeda..
Keduanya pasti berbeda...
Tapi masing-masing ia, masing-masing mereka menjadi dirinya.

Adapun aku bukan bunga, aku bisa bergerak dan memutuskan.
Entah untuk ke depan, jika saja rasa jenuh telah membuatku lelah jadi bunga liar di taman terbuka, dengan ijin Mu Rabb, sampaikanlah rasa ingin tertutupku, untuk jadi bunga di pot sudut rumah.

Rabbi...

Jika aku masih senang menjadi bunga yang amat liar, dalam pandangan mereka yang tak terjaga, dalam hidup yang peuh liku, ke sana-sini sendiri. Suatu saat, dimana aku sungguh merindukan sebuah hunian, yang amat sepi karena buah hati yang tidur pulas, lalu ku putar surat Al-kahfi perlahan...

Dimana, bukan debu jalan yang singgah di wajahku, tetapi asap debu dapur untuk menyenangkan perut si teman hidup. Akan ada dimana bunga menjadi mekar di pot rumah, setelah ia diambil dengan terhormat oleh tukang kebun taman, dan dihadiahkan pada anak sulungnya yang salih.

Lalu ditempatkannya aku di sudut rumah, memberikan warna wangi dan kesegaran hijau.
Setiap pagi, menyapaku, bahkan sebelum embun.
Lalu, dimana nikmat yang kudustakan.

Begitulah saat ini, aku masih menunggu takdirku, tentang tukang kebun yang akan datang padaku. Memindahkanku dengan hati-hati, pada tahun-tahun ini, atau tahun-tahun depan, saat kemarau berlalu, dan musim penghujan datang, mengusir pergi.

Hatiku telah bahagia, kini dengan memimpikannya, sudah cukup membahagiakan. Tak boleh ada yang berteriak di rumahku, cukup senyap, lalu senyuman, lalu tertawa yang di tahan, saling sapa, saling mendoakan, saling meyayangi, hanya itu.

Impian sekuntum bunga di taman belakang. Mungkin hanya bunga rumput, yang tetiba bermimpi: angin menghantarkannya pada sebuah pot di sudut rumah. Bagaimana jika sebaliknya?

13 November 2011

Rindu Rasul

Standard
Seperti dalam konteks pecakapan beliau dengan para Sahabat2nya….

Dan bukti Nyata Cinta beliau kepada umatnya benar2 Suci adanya…...
Hingga akhir hayatnya Beliau buktikan cintanya kepada kita…..

Engkau berkata lirih
Ayyu khalaqi a'jabu ilakum I'ma'nan ?
(Siapa makhluk yang imannya paling sempurna ?)
para sahabatnya pun menjawab;
..... Malaikat, ya Rasulullah !

Bagaimana Malaikat tak beriman,
Bukankah mereka berada di samping Tuhan ?
ujar Nabi…

..... Para Nabi, ya Rasulullah !
Para sahabat mencoba menjawabnya lagi….

Bagaimana Nabi tak beriman, Bukankah pada mereka turun wahyu, Jawab nabi !
..... Kalau begitu siapakah mereka, ya Rasulullah? Tanya Para sahabat..?!

(Langit Madinah bening, bumi Madinah hening
Kami termangu, menunggu jawaban dari beliau…)

Siapa gerangan mereka yang imannya paling mempesona Kami dengar sabda’mu,

Yang paling mempesona imannya adalah:
Mereka yang datang sesudah’ku !
Mereka beriman kepadaku….
padahal tidak pernah melihat atau berjumpa dengan’ku sebelumnya…

Yang paling mempesona imannya
mereka yang tiba setelah aku kelak tiada !!!
yang membenarkanku
tanpa pernah melihatku !!!!

Bukankah kami ini saudaramu juga, ya Rasulullah jawab para Sahabat….
Bukan ! jawab Nabi….
Kalian adalah sahabat-sahabatku…..
Tetapi, Saudaraku adalah…
Mereka yang tidak pernah berjumpa dengan’ku !
Mereka beriman pada yang ghaib
Mendirikan sholat, puasa,
berkurban utk ALLAH SWT dan,
Menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka…

(Kami terpaku,....
Langit Madinah yg bening,
bumi Madinah yg hening)

Kami dengar lagi engkau bersabda……
Alangkah rindunya daku pada mereka
Alangkah bahagianya aku memenuhi mereka kelak..

Suaramu parau,
Butir-butir air matamu mulai tergenang...
Kau rindukan mereka ya Rasulullah...
Kau dambakan pertemuan dengan mereka,
Ya Nabi Allah !

Subhanallah…..


(Dan, ini adalah sebuah Alkisah tentang totalitas cinta
yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya....)

Pagi itu, meski langit telah mulai menguning,
burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.....

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah ;
Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya.
Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya.
Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an.
Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku
dan kelak orang-orang yang mencintaiku,
akan bersama-sama masuk surga bersama aku.;

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah
yang teduh menatap sahabatnya satu persatu.
Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca,
Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya.
Ustman menghela napas panjang dan...
Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

Rasulullah akan meninggalkan kita semua; desah hati semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat,
tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang
limbung saat turun dari mimbar.

Saat itu,
seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan
menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.

Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup.
Sedang di dalamnya,
Rasulullah sedang terbaring lemah
dengan keningnya yang berkeringat

dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
Bolehkah saya masuk?; tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk;
Maafkanlah, ayahku sedang demam, kata Fatimah yang
membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya
yang ternyata sudah membuka mata
dan bertanya pada Fatimah,
Siapakah itu wahai anakku?
Tak tahulah aku ayah,
sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya; tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.
Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang.
Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara,
dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut; kata Rasulullah,
Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri,
tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah? ;
Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu; kata jibril.

Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
Engkau tidak senang mendengar kabar ini? ; Tanya Jibril lagi.

Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

Jangan khawatir, wahai Rasul Allah,
aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:
'Kuharamkan surga bagi siapa saja,
kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya' ; kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas.
Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh,
urat-urat lehernya menegang.

Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini..
Lirih Rasulullah mengaduh.

Fatimah terpejam,
Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.
Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?
Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal ; kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik,
karena sakit yang tak tertahankan lagi.
Ya Allah, dahsyat niat maut ini,
timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku,
jangan pada umatku.

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu,
Ali segera mendekatkan telinganya.
Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku
(peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu)

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya,
dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
Ummatii, ummatii, ummatiii? (Umatku, umatku, umatku)
Dan, pupuslah kembang hidup manusia nan mulia itu.....


Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi


Sodara2ku sekalian....
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Kini, mampukah kita mencinta sepertinya......?!!!
dengan Cinta nan suci...?!

Mudah2an Renungan ini dapat Menghadirkan kesadaran di hati kita kembali,
untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencinta kita.
Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka !

Assalamualaika ayyuhan Nabiyuu wa rahmatullahi wabarakattuh
Assalamualaika ayyuhan Nabiyuu wa rahmatullahi wabarakattuh

Allahumma sholli 'ala Sayidinna Muhammad
wa 'ala alihii wa baarik wa saliim 'adzmaiin....