Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI. Tampilkan semua postingan

31 Mei 2015

Bolak-Balik

Standard
Bergemuruh dalam jiwaku, rasa sesal yang tak bisa kutarik kembali. telah berlalu sebuah masa, saat amanah tak bisa kujaga. Tak bisa kutarik semua yang telah keluar, dan lalu hilang terbang melayang...

Ada saatnya Allah mengajarkan dengan sebaik pengajaran, bahwa setiap titipan akan diambil kembali. Sejak mula kita tak membawa apa-apa... termasuk hati kita sendiri.

Jangan kaget jika pada mulanya senang berubah jadi tidak senang, karena Allah yang bolak-balikkan hati dengan sekejap. Jangan kaget juga jika asalnya gak seneng, eh malah doyan, itu karena Allah yag buat demikian.

Jadi, jangan minta ke orang buat seneng dengan diri kita, minta Allah saja yang maha membolak-balik hati..... da urusan hati mah Allah yang urus, kita mah, berusaha jadi orang yang disenangi Allah saja. Cukup. Da kita dimuliakan Allah atau dihinakan bukan karena orang lain, tapi karena diri kita sendiri.


_____________________

11 Mei 2015

SKRIPSI

Standard
Skripsi terbaik angkatan 2011, itu salah satu mimpi yang saya tulis di buku "One Hundred Dream"

Ada yang menjadi konsekwensinya, Allah akan menguji sesuatu yang kita yakini. Untuk menguji sudah kukuhkan kita dengan keyakinan itu?
Jika ujian itu semakin membuat dekat kepada Nya, itulah keberuntungan.

Jika ingin menjadi orang dengan skripsi terbaik, tentu langkah yang diambil harus berbeda. Usaha yang dikeluarkan harus lebih ekstra. Jangan fokus pada tujuan akhir yang baik, sekarang fokus pada prosesnya.

Terkadang ingin berlari dan berteriak, tapi sadarlah di dunia ini yang harus sempurna adalah ikhtiarnya. Banyak orang di luar sana yang sedang kebingungan, sama! Tetapi hanya sedikit yang bergerak mencari jalan keluar.

Jika sayang orang tua segera selesaikan, optimalkan. Bersemangat!
Bersihkan hati, maafkan diri, maafkan orang lain, taubat, perbaiki ibadah. Ya Allah, semangat.... zahraa!

Menunda-nunda tak akan menyelesaikan masalah.

10 Desember 2014

Terlahir lagi dengan Lagu Kematian

Standard
Sudah sejak 2 tahun lalu, aku vakum menulis cerpen, dulu masa yang membanggakan mungkin, 2012. saat beberapa kali cerpen-cerpen itu dimuat di media lokal. Ada rasa bahagia, tak percaya, kok aku bisa menulis?

Aku tidak tahu, jariku hanya bergerak, dan kepalaku terus mengayuh, mencari pembenaran atas imajinasi yang tak bisa kubatasi. aku melamunkan diriku sendiri dan melamunkan banyak hal, terutama hal-hal yang memang ingin kusampaikan dengan cara yang tak biasa. katakanlah lagu kematian, cerpen ini telah mengganggu waktu normalku, ia terus menghentka-hentak minta dituliskan.

temanya hanya sederhana: kematian, tapi dibalik kematian itu aku ingin menyampaikan betapa banyak mati yang konyol sia-sia, padahal untuk sebuah nyawa kita rela membayar jutaan di rumah sakit yang tiada segan menarifkan harga tak kira-tanpakasih.

lebih jauh, aku menyindir diriku sendiri, yang kere dengan karya, aku tak menghasilkan apa-apa, tidak sebuah cerita bahkan tidka pula uang.

Lalu, aku terus menulis saja sesukaku, merasa terlahirkan. Adapun ide utama tentang Bunda, adalah nyata. Beliau adalah sahabat dari emak yang amat kusayangi yang teah terebih dahulu berpamit 1 Agustus lalu. Bulan ini, hari ibu, aku ingin menulis cerpen lagi tentang ibu, tentang ibu, mungkin setelah lagu kematian ini, aku akan menulis lagi cerpen yang lainnya, Ibu, Jas Hujan, Nun, kebun bayam, sampai skripsi yang tak kelar.

Seorang cerpenis mestilah humanis, aku hanya berusaha mewujudkan itu, biarkan aku menajdi hujan, atau api, atau udara, atau tanah, dan menyatulah diriku dalam kara-kata.

Untuk hidup yang tak boleh biasa, aku kembali akan menulis cerpen, aku akan hidup dengannya, bermesra dengannya. Mungkin, jika tak bisa denganmu, aku bisa menuliskan satu nama dalam cerpenku, semauku bukan? dan nama itu kupinjam sebagai seseorang.

Selamat lahir lagi Az.
Biarkan lagu kematian sebagai penghantar, karena kematian hanyalah awalan, bukan?

LIFE is WAY

Standard


Jika hidup ini sebuah cermin, lantas isyarat apa yang mampu menyiratkan hidup, bahwa kehidupan adalah sosok kita… atau… sesosok kehidupan adalah penampakan dari wujud kita yang telah terpantulkan melalui lembaran-lembaran perjalanan… Maka, jika hidup ini sebuah cermin, seharusnya kita lebih mengerti dan memahami hidup apa dan bagaimana yang telah dan akan dilalui, agar mampu menempatkan diri padanya. Maka, bila hidup ini layaknya sebuah cermin, seharusnya kita dapat bersentuhan lebih dekat padanya, agar kita mengetahui dengan jelas benar, segala kekurangan yang terpantul dari cermin itu. Namun sayang, kita sering mengangap jika hidup adalah cermin cembung yang melebih-lebihkan kekurangan dan mengurang-ngurangkan segala kelebihan yang kita miliki. Atau…. Kita sering menganggap bahwahidup ini adalah cermin cekung, yang selalu memberikan kekecewaan pada apa yang dipantulkannya.dan menganggap cermin kehidupan….adalah wujud yang lari dari kenyataan.
Bismillah adiku semua, Assalamualaikum wr wb… Ahlan wa sahlan di kampus tercinta UPI Tasikmalaya ini. MOKAKU adalah langkah pertama dari sebuah babak juang yang akan ditempuh, empat tahun mendatang engkau akan selalu berada di sini, menuntut ilmu, mencurahkan segenap kemampuan, dan mencari jati diri yang sebenarnya, sebelum akhirnya kembali ke masyarakat sebagai pribadi baru yang diliputi oleh ilmu, yang dituntut menebar manfaat dan bersinergis dengan berbagai kepribadian manusia yang berbeda-beda.
Adikku , kita kembali pada perjalanan awal, sebagai sebuah titik awal perjuangan, sudahkah kita luruskan niat? Mengapa engkau berada di sini? Di UPI Tasik ini? Ya, percayalah ini bukan kebetulan, ini bukan tanpa perjuangan, ini bukan sekedar salah memilih, salah contreng, atau paksaan orang tua, semua ini adalah…. Ya ini adalah kehendak Allah, atas ijin Allah, atas iradat Nya kita berada di sini. Lalu, apa yang diinginkan Allah dari kita sehingga mentakdirkan kita berada di UPI Tasik ini? Benar adikku, Allah menghendaki kehidupan terbaik dari diri kita. Luruskan niat, jika semata-mata kita di sini adalah untuk mencari ilmu agar mendapat Ridho Allah Swt, untuk memperbaiki kualitas diri, untuk menjadi hamba Allah yang lebih bermanfaat untuk orang lain, dan berbagai niat baik lain…
Ah selamat memulai perjalanan adikku, tetap bawa dan gunakan Kompas Al-Quran sebagai penunjuk jalan, Allah telah menyiapkan segalanya di sana. Sertai langkah kakimu dalam Jemaah yang soleh dan salihah, karena mereka adalah pengganti dan pemotivasi jika kakimu mulai kendur, jika kepalamu mulai pening… dan Jemaah yag akan sealu memngingatkanmu akan tujuan perjalan kehidupan. Ohh iya adikku, bawalah selalu cermin.. bercerminlah dari kehidupan manusia di sekitarmu, agar hidup selalu penuh dengan kebaikan.
Andai kita mampu melihat cermin kehidupan kita seperti cermin datar… yang setiap hari kita berkaca padanya, melihat noda hitam di wajah dengan jelas, dan pelan-pelan menutupnya dengan polesan bedak atau sekedar lotion, bukankah itu lebih mudah? Berapa kali kita bercermin untuk sekedar memperindah penampilan jasad? Namun, ketika itu, sudahkah kita bercemin pada kehidupan?
Menutupi kesalahan  dengan amal soleh yang kita perbuat, dan menjadikan kelebihan sebagai jalan untuk dekat denganNya seperti yang setiap hari kita lakukan. Sudahkah?
Atau jangan-jangan, ya mungkin memang KITA MALU UNTUK MELIHAT segala kekurangan kita, melalui cermin kehidupan yang ada di depan mata…. 
 
 (Az., 29/08/14)

19 November 2014

Menulis (lagi)

Standard
Menulis adalah pekerjaan halus, ia terjadi dalam diam, duduk tanpa berkata-kata, hanya berkutat dengan pemikiran, mengheningkan diri dari hiruk pikuk, lalu mendamaikan diri dalam hati yang tenang… 

Tulisan memang kadang jadi perwakilan atas ketidak hadiran seseorang, bahkan lebih jauh ia jadi wakil atas kata yang sebenarnya ada dalam hati, walau tak tergoreskan pena. Tulisan pun jadi cermin bagaimana isi hati dan emosi seseorang saat menulisnya.

Sejujurnya aku tak tahu sejak kapan aku mulai suka menulis, tapi akhir-akhir ini, tulisanku terhenti pada satu topic bernama “daun subuh dan gerimis”, sebuah novel yang harus kurampung kan di sisa tahun.

Aku berhenti, benar-benar berhenti dan terkadang ingin membuang file bernama itu. Namun, aku melihat tujuan menulisku? Akankah kandas hanya karena topic yang kutulis terlalu sensitive? Tidak, tujuan menulis ku bukan karena sesuatu.

Maka sejak kini, setelah semuanya (baik-baik-buruk-buruk) telah ku sesapi, aku mulai menata diri, untuk fokus 100% pada tujuanku pada awalnya sebagai penulis.

Aku ingin menjadi seorang penulis, bukan yang terus menerus dikungkung oleh berbagai arahan membingungkan, aku ingin menentukan arahku, biarkan aku jadi navigator atas tujuan hidupku, aku ingin menulis tanpa henti tanpa terhenti, dan membaca sebanyak aku bisa membaca.

Jadi…. Biarkan waktu memacuku dan bertanya: akankah janjimu tertepati?
Sebuah novel yang lahir dari kesusah payahan hidupku… menentang hantu bernama malas dan tidak fokus.

Lalu, Tuhan sertailah diriku, dan ampuni kebodohanku, kelemahanku, jadikanlah semuanya berkah dan indah tepat pada saatnya semua telah siap. Insya Allah 2015, bisa terwujud impian itu, menjadi pemateri untuk buku-buku yang tercipta di tahun ini. Basmallah.

"Bermimpi besar, bertindak besar, berkeyakinan kuat, dan bekerja penuh cinta." Semangat sayang.... :)

4 November 2014

Gejolak

Standard
Berapa hebat gejolak yang terjadi?

Entah mengapa selalu ada harapan. Kita akan terus berjalan seiring harapan akan terjadi kemungkinan-kemungkinan yang terbaik. Entahlah Tuhan, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi kepada, namun ada selalu ada harapan. Bukan?

Bagaimanapun, kita hanyalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Terkadang ada sisi prustasi, dan ingin berteriak......................

Lalu berpengaruh pada sikap yang sangat tidak menyenangkan di pandang mata. Sudah sepantasnya kita sadar: harus bisa lebih dewasa menyikapi ini...
 
Ruang di sekitar akan nampak panas dan gersang jika kita mengisi pikiran kita dengan bibit api dan kering kesabaran...

Melajulah, hidup ini sebentar. Bersabarlah dan tetap menjadi dirimu.

9 Oktober 2014

Seminar Sumpah Pemuda di BSI

Standard
Mengapa selalu pertanyaan itu yang keluar...

Detik ini dengan agak jengkel saya meng"close" tab akun facebook dan fokus menulis di laman blog. Jengkel juga lama-lama... loh kenapa?

Sudah hampir dua minggu ini, selalu saja ditanya: teh sudah nikah, semua tentang jodoh. Hiy, malas balas.

Mulai dari orang baru yang invite BBm dan bertanya demikian, lalu tetangga sebelah yang bilang: neng udah punya calon? Kalo belum mau dijodohin sama saudara ibu, orang kaya, 30 tahunan. Aduh, apalagi ini?

Sampai Prof X_X, Gusti: jodoh-jodohin orang membuat saya alergi dengan kata "jodoh".

Hallo, saya masih muda, belum tua sampai harus diingetin buat nikah!

Tapi, oke makasih udah nanya, semoga jadi doa untuk menyegerakan menikah dengan manusia yang tepat (tentunya).

Hari ini (malam ini) saya share tentang pengalaman seminarr di BSI tadi siang.

Seminar apa sih?

Awalnya saya suudzon sama seminar ini, soalnya dijadwal jam 13, nah nah sudah hampir jam 14.00 masih saja promosi kampus BSI.

Tapi tayangannya keren, tidak membuat bosan. Nah sampai tiba-tiba, materi akan dimulai, saya lirik kiri kanan, mana ya pematerinya?

Huaaa, ternyata pemateri luar biasa itu adalah sosok bapak yang mulanya saya komentarin dalam hati: heum keterlaluan ini BSI, operatornya kok bapak-bapak, gak ada lagi apa anak muda?

Ini dia, ternyata sang operator ini adalah PEMATERInya....

Makanya pelajaran 1. Jangan nilai seseorang dari luar.

Ketika seminar akan dimulai sudha terasa aura seminar ini akan keren, pemateri minta perhatian dengan mengsilent hp, menegur peserta, dan mengatakan semata-mata ia lakukan itu karena ingin menyelamatakan kami.... agar tidak korup terhadap uang yang kami keluarkan untuk ikut seninar ini.

Bapak Yulee, begitu panggilan akrab beliau, mulai menghipnotis kami dengan materinya, pasti pada penasaran.

Materi dimulai dengan peringatan bahwa tinggal 2 bulan lagi kita akan terjajah, 2015 AEC (Asean Economy Community) terjadi.

Jika Indonesia 350 tahun di jajah oleh VOC (sebuah perusahaan loh) bukan negara belanda secara keseluruhan. Kini kita harus bersiap di jajah oleh MNC (multi perusahaan, nah nah loh) banyak banget. 

Jika pemuda pada tidur, bagaimana nasib negeri ini?

Katanya kita negara paling luas di asean dgn luas lima juta km persegi, kita juga negara maritim, agraris. Tapi siapakah penghasil keledai terbanyak di dunia? Amerika. Siapa penghasil garam? 

Bahkan untuk kurban idul adha kemarin, kita impor sapi dari Australia....

Lalu lihat perusahaan-perusahaan yang menguasai tanah ini mulai dari sabang sampai merauke, semua asing!!!!

Dimana para pemuda?

Maka begitu hipnotisnya: Beli Indonesia dengan cara:
  1. Membeli produk Indonesia (Bukan karena lebih baik, lebih murah, tapi karena milik bangsa Indonesia).
  2. Membela bangsa Indonesia (Sikap jelas dalam pembelaan, membela martabat bangsa, membela kejayaan bangsa).
  3. Menghidupkan semangat persaudaraan (Aku ada untuk kamu, kamu ada untuk aku, kita ada untuk tolong-menolong).
Dan yang paling berkesan adalah: beliau mengajak semua orang untuk jadi pengusaha, yeah mendirikan C. Company, perusahaan........... 

Selain itu diseminar ini juga dibahas tentang pengembangan diri-sampai ingin jadi apa anda dimasa depan?
Kutipan favorit saya diseminar ini adalah:
"Seburuk apapun masalalu, masadepan kita masih suci...."
"One talent is more than enough to make your success!"

Di sesi-sesi akhir beliau menayangkan sebuah film pendek tentang bahaya narkotika, dan seluruh ruangan gelap karena lampu dimatikan untuk memfokuskan tayangan. Beliau lalu mendekat, tanpa berkata apapun memberikan sebuah buku kepangkuan saya: "Subhanallah, ada apa ini?" dalam hati bertanya, sambil tiada henti istigfar, takut-takut saya jadi takabbur dan lain-lain. Ada alasan disetiap yang terjadi, dan Allah (mungkin) menginginkan saya membaca buku beliau. Ketika smeinar ditutup, panitia membolehkan peserta seminar langsung meminta ttd pemateri. 

Ya sudah sekalian saja saya minta pesan beliau: Lalu dengan sungguh-sungguh beliau menulis (dengan tinta biru) "Change your action and change your life". Selepas menulis itu beliau bertanya, namanya siapa? "Eli" jawab saya datar, malu tidak tentu. Lalu beliau menulis lagi: Special for Eli, Mas Yulee.

Banyak sekali ilmu dari seminar ini, saya bersyukur kepada Allah diberi niat dan kecondongan hati untuk datang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari takdir dan skenario Nya. Insya Allah, aku bisa!

"Hidup ini sekali, jika tidak hari ini, kapan lagi? Jika tidak segera bertindak, mau kapan? Hidup tak boleh seperti benalu, harus malu jika minta melulu."

Pemuda harus bangkit, Allahu Akbar!

Az. (10-10-14, 00:21)

26 Juli 2014

Apakah Kau Kesepian?

Standard
Jika kau kesepian, itu bukan salah orang-orang yang ada di sekitarmu, juga bukan salahmu yang memiliki sifat tertutup seperti ini. Lalu ini salah siapa?
Ini hanyalah sebuah perjalanan, dan perjalanan harus disertai dengan belajar. Sudah waktunya kita belajar.

Jika kau merasa tak dicintai, itu bukan salah lingkunganmu. Sesungguhnya hidupmu ditaburi cinta, hanya kau sering tidak merasakannya atau bahkan tidak menggubrisnya, karena cinta yang tulus kadang sering tak terlihat. Di dunia ini banya sekali hal yang harus kita percayai, meski ia tak terlihat rupanya. Untuk alasan inilah orang-orang percaya angin, orang-oarang percaya gravitasi, orang-orang percaya TUHAN. Bukan semata karena angin, garvitasi bahkan Tuhan disebutkan lalu diimani, melainkan..... keberadaannya sungguh dapat dibuktikan. Melalui tanda-tanda alam, melalui kode-kode semesta, lewat sinyal-sinyal yang harus kita tangkap, akal kita yang membacanya dan pikiran kita yang mengolahnya.

Cinta itu selalu ada untukmu, maka terbukalah.........
Lihatlah kode-kodenya, seperti melihat orang tua yang mencintaimu dengan tatapan yang lebih mendalam lagi terasa....

Az.

30 Maret 2014

Melepaskan Rasa Rendah Diri

Standard
Aku pernah berkata ingin menjadi rumput saja yang tenang, tanpa melakukan apapun aku akan bahagia dan tidak mengapa terinjak sekalipun aku bertahan, aku tenang dan senang dimainkan angin.

Nayatanya pernyataanku menjadikan diri tidak bisa bersaing, aku lebih suka membiarkan orang lain menjadi terbaik sementara diri bersorak atas kemenangannya tanpa mengambil bagianku untuk bisa menjadi terbaik pula.

Inilah pangkalnya, "mangga tipayun?" aku selalu berkata demikian. Ini pangkal saat aku mulai merasa tidak berguna dan merasa tidak memiliki apapun untuk kubanggakan pada diriku sendiri.

Rupanya penyakit ini semakin lama, semakin merasuk pada jiwa. Aku mengalami banyak ketakutan, ucapanku tidak fokus, lalu aku mencari diriku. Apa yang aku inginkan, aku pun tak tahu.

Tiba-tiba saja aku merasa punya sikap untuk menjadi demikian-demikian, nyatanya aku menutup kelemahanku tentang rasa rendah diriku yang teramat dalam. Aku ketakutan.

Tekanan demi tekanan terus memaksaku menjadi rumput yang tak lagi tenang, aku bergoyang ditiup angin, berembun tersering aku menangis, orang mulai mengataiku aku rumput liar, aku rumput yang tak gna. Lalu aku mengambil hati untuk semua perkataan itu. Lalu semakin dalam lah persaan rendah diriku.

Sampai suatu ketika, dalam ambang ketakutanku, semakin tak sanggup ajalani hidup dengan mental seperti ini. Aku mencari seseorang. Seseorang itu menunjukkan aku untuk membatalkan pikiranku yang hanya ingin jadi rumput, "Berprestasilah!" tunjukkan yang kamu bisa. Dunia ini kehidupan ini seni drama, seorang aktor harus menunjukan permainannya.

Aku sadar, benar. Hidup ini perlombaan, fastabikul khairat! Tidak ada yang meang yang kalah, semua akan masuk ek garis finish, hanya akan jadi yang pertama atau terakhir.

Lalu, kemenangan sejati tidak terletak pada hasil proses. melainkan pada sikap kita menjalaninya.

Bersikaplah sebagai seorang pemenang, walau hatimu berkecamuk kencang, walau jiwamu mengacau. Sebutlah Allah sebanyak-banyaknya.

Ini hidup yang harus diperjuangkan sebagai anak tangga menuju kehidupan yang kekal.
Contohlah para istri yang luar biasa, mereka tawadhu namun berprestasi: Khadijah Al-Kubra, Aisyah binti Abu Bakar, Fatimah binti Rasullulah!
Contohlah, mereka tak pernah rendah diri, mereka percaya pada kekuatan dirinya dan melakukan yang terbaik dengan sikap yang sederhana. Tawadhu bersahaja dalam prestasi yang tak bisa diukur dunia. Keagungan bersikap. Jadilah dirimu sholeha, meski tak mampu memotivasi orang, kamu harus jadi motivasi untuk dirimu sendiri, siapa tahu menginspirasi!

Az.

1 Januari 2014

Plin-Plan

Standard
Pernah tidak dikatain orang plin-plan?
Pernah, terus?
Sakit hati gak?
Iya, terus?
Terus kalau udah gitu kamu ngapain? Marah gak?
Enggak, terus?
Kok gak marah?

Dear, sahabatku aku tidak marah karena apa yang mereka katakan adalah apa yang mereka lihat, mereka dengar dan mereka rasakan. Adapun hatiku adalah lebih tahu liku-likunya mengapa diriku berbuat demikian, sehingga dinilai plin-plan.
Apalagi jika berkata  tentang masalalu, aku bukan orang sempurna. Sakit hati bolehlah, selama tidak menganggu, wajar namanya juga punya hati. Tapi untuk marah?

Eh, gak nyangka loh, ternyata si A itu dulunya............
Sudah, tidak usah didengarkan. Setiap orang punya masalalu termasuk kamu, dan itu sudah jauh untuk disesali atau dirubah, mustahil.

So, dengarkan saja semua yang mereka katakan, ambil yang baiknya, abaikan yang buruknya, perbaiki jika memang yang mereka katakan suatu kebaikan. Kiebaikan kadang datang dari sesuatu yang  menyakitkan.

Benar, sperti minum obat.
Itu, tahu.
Iya, hehe :)

Tuhan Tahu yang Terbaik Untuk Mu!

Standard


Setiap jiwa dibekali bakat dan karakter yang bebeda, karena hakikatnya manusia itu unik. Namun sedikit yang sadar dengan keunikannya itu, orang lebih cenderung selalu membandingkan dirinya dengan orang lain, seperti orang yang berwajah biasa-biasa membandingkan wajahnya dengan artis korea yang putih dan cantik, dia melakukan segala cara agar wajahnya bisa sedikit mendekati. Sahabat, sadarkah kita? Terkadang ada rasa iri menyelinap dalam hati ketika kita melihat sekeliling kita banyak yang lebih beruntung, seperti ada orang yang berkata “ orang itu udah cantik bersih ramah soleha pinter lagi, kaya lagi! Beda dengan aku udah item, jelek, hidup lagi.” Masya Allah, sahabat hati-hati dengan kata-kata itu. Jika sseorang tidak suka dengan keadaan dirinya sendiri berarti telah menghina Tuhan dong? Maha Pencipta yang lebih tahu apa yang terbaik untuk mu.
Seperti kata pepatah, rumput tetangga selalu kelihatan hijau. Padahal itu belum tentu, cantik buat kamu mungkin malah jadi derita, kaya jadi mudarat, putih jadi musibah, atau kepintaran jadi ketakutan. Dan untuk hal itu hanya Allah yang tahu, kita tidak usah menebak-nebak untung rugi apabila kita ditakdirkan seperti itu, tapi tetaplah berbaik sangka pada Nya, karena seperti firman Allah “Aku berada pada prasangka hambaku.” Tetap berhusnudhon apapun yang kita miliki saat ini adalah yang Allah percayakan pada kita, terbaik dan terindah yang tidak Allah berikan kepada selain kamu.
Perhatikanlah apa yang telah Allah berikan untukmu, banyak sekali bukan? Bahkan kalkulator tercanggih sekalipun tak tahu betapa banyak limpah curahan Allah kepada seluruh umat ini. Lalu bandingkan dengan brapa dan apa yang telah engkau lakukan untk Allah? Jika belum, ayo kita menjabat tangan ini dan memulai semuanya dengan ceria dan cemerlang!!!!
Ya Allah tunjukilah kami untuk senantisa bersyukur atas nikmat Mu ini, aamiin. Tetap semangat! Semangat tak pernah padam saat apapun, selalu optimis dalam kehidupan, sesakit apapun yang kau temui dibumi ini, ingatlah bahwa Allagh maha memgawasi dan tahu apa yang terbaik untuk kita. Semangat!

Brave to Dream and Brave to Action

Standard
(Sebuah catatan motivasi yang diikut sertakan dalam sebuah lomba)
Mari kita baca dan renungikan.


Ada seorang teman yang murung ketika mata kuliah hampir selesai, kemudian saya bertanya,”Ada apa, mengapa menangis?”, dia menjawab, “Saya mau pindah kampus, gak kuat disini”, apa yang membuatnya tidak betah dengan kampus ini? Setelah lama terdiam akhirnya dia mau bercerita bahwa kampus ini bukan pilihan dia, kampus ini adalah pilihan kedua orang tuanya. “Saya terpaksa kuliah disini karena kasihan sama orang tua”, kemudian dia begitu bersemangat menceritakan keinginan dan harapannya masuk ke salah satu kampus terkenal dan mengambil jurusan psikologi, dan diakhirnya ia menyalahkan ayah dan ibunya yang seolah “mematahkan” impian-impiannya itu. Sahabat mengapa mengeluh dengan keadaan yang kau jalani sekarang, begitu banyak yang ingin masuk perguruan tinggi ini, mereka rela berlama-lama mengantri untuk membeli formulir meskipun pada akhirnya tidak diterima atau mereka tercekat dalam kurangnya dana hingga tak mampu melanjutkan.
Terkadang kita merasa kehidupan begitu penat dengan pilihan-pilihan yang tak terduga. Impian yang menjauh dan ketakberdayaan dalam meraih mimpi hingga merasa jatuh lunglai ketanah. Ya, tahukah jika diluar sana banyak orang yang tak sempat mengeluh karena waktu mereka habis untuk bekerja demi menyambung nyawa, jangankan sekolah yang ada dalam benaknya adalah bagaimana esok makan. Tapi sesungguhnya mereka punya harta karun yang terpendam dan terlupakan, ya mereka masih memiliki mimpi, mimpi seperti kita saat ini. Bermimpi adalah kekuatan (dream is power), yang membuat orang lemah menjadi kuat, menjadikan orang sengsara menjadi bahagia, menjadikan orang tak punya menjadi besar harapan, itulah mimpi. Orang yang tidak berani bermimpi adalah orang termiskin di dunia ini. Bermimpi itu milik semua orang, gratis tanpa dikenakan biaya sepeser pun dan tak terbatas waktu maupun tempat. Seperti celetuk seorang teman bahwa mimpi adalah dimensi penembus waktu, mimpi ibarat keinginan dan harapan yang tak bisa dibendung kecuali oleh tangan-tangan takdir, menghujam kedalam dada tak ternilai dan tak kadaluarsa.
Dengan mimpi kita hidup, mimpi menghiasi hari-hari yang redup dan hampa, boleh jadi hari ini hari yang kita lewati adalah mimpi-mimpi masa dulu yang tak disadari, kita tak sadar karena disibukkan dengan mimpi-mimpi lain saat ini. Seperti seorang anak SMA yang bermimpi menjadi seorang mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi terkenal, dan sekarang ia telah berada ditengah-tengah kampus yang dulu ia idam-idamkan. Tetapi ia tidak menyadarinya bahwa mimpi masa SMAnya telah terwujud, karena ia terlalu bersibuk dengan mimpinya yang lain.
Tapi sahabat ingatlah perbedaan mimpi dan angan-angan, janganlah engkau berani bermimpi saja sedangkan engkau takut untuk mewujudkannya, itu ibarat ingin melukis sebuah gambar pada kanvas tanpa koas dan cat. Mimpi yang kau sendiripun bingung bagaimana mewujudkannya ibarat angan-angan atau mimpi dalam tidur yang ketika terbangun kita lupa apa yang tadi diimpikan, kita terus berangan bebas tanpa tahu jalan untuk merealisasikannya. Bagaimana seseorang bisa jadi profesor tanpa belajar dan sekolah? Bagaimana seseorang mau keliling dunia jika ia tak mau bergaul dan enggan berlayar? Semua memiliki jalannya sendiri-sendiri.
Ada dua resep utama agar kita bisa mencapai sukses. Beranilah bermimpi dan berani pula mewujudkannya.
Ketika seorang teman saya tanya, “Apa mimpi anda setelah lulus kuliah?”, ia menjawab, “Mimpi saya tidak tinggi-tinggi cukup menjadi PNS saja”, lalu saya bertanya “Mengapa anda tidak terpikir untuk bermimpi menjadi seorang profesor atau pengusaha sukses?”, dan jawabannya sangat mengejutkan, adalah karena dia takut mimpi itu tidak terwujud sehingga orang-orang di sekelilingnya mencemooh dan mengejeknya. Sahabat melemahkan diri dengan persepsi diri anda sendiri adalah bahaya paling menakutkan, mengapa anda takut padahal anda berhak mencapai semuanya jika anda mau. Jangan biarkan kata-kata anda sendiri yang akan menghalangi terwujudnya mimpi anda. Beranilah untuk bermimpi, sebagaimana Allah menyatakan dalam firman-Nya, “Berdoalah kepadaku niscaya Aku perkenankan bagimu” (QS. 40: 60), jangan khawatir mimpi mu tidak akan tercapai, jangan takut dengan penilaian manusia, karena yang menentukan anda berhasil dalam mimpi anda adalah anda sendiri, ya sahabat lah yang akan menentukan itu. Mimpi yang anda bangun pun jangan terlepas dari melibatkan Allah SWT dalam menggapainya, sesungguhnya tangan-tangan Allah tiada berlepas dari setiap yang diusahakan hambanya, melibatkan Dia dalam mimpi adalah kekuatan yang dibangun dalam pondasi kokoh nan tegak. Kita bermimpi tiada lain adalah dengan tujuan menggapai kebahagiaan dan kesuksesan, sedang kita semua tahu bahwa pemilik kebahagiaan itu adalah Allah, pemilik kesuksesan adalah Dia, lantas kita menjauh dari Nya? Apakah Dia akan memberikan apa yang kita inginkan dan idamkan? Tidak. Maka dekatilah Dia, libatkan dalam proyek mimpi anda, bersenandunglah untuk merayu ridha dan karunia Nya yang berlimpah tiada putus-putus. Analoginya seperti seorang anak yang ingin boneka, kemudian ia menyisihkan uang jajannya untuk ditabung demi membeli boneka tersebut, ia menceritakan (baca: melibatkan) keinginannya membeli boneka kepada orang tuanya. Ketika tabungannya sudah cukup banyak ia hendak membelikan uang tersebut pada boneka yang sudah lama diidam-idamkannya, sayang sekali ternyata uangnya masih kurang dan saat itu pula kedua orang tuanya membantu menambahkan atau malah mungkin langsung membelikan boneka untuk anaknya tanpa uang yang dikumpulkan si anak tadi. Begitu pula kita dalam bermimpi atau bercita-cita, Allah akan selalu membantu usaha kita, atau malah mungkin membuka jalan yang tak pernah kita sangka-sangka, karena apabila Allah telah berkehendak “kunpayakun” (jadilah maka jadi), tiada yang bisa menghalangi Nya. Maka sahabat, jangan takut untuk bermimpi, tuliskan mimpi-mimpi anda, Allah akan merangkul mimpi mu dengan caranya yang indah, teriakan mimpi dalam setiap hembusan napas dan yakinlah bahwa mimpi anda akan tercapai dengan usaha-usaha anda saat ini. Jangan takut dan goyah dengan perkataan dan cemoohan orang tentang mimpi anda, berazamlah bahwa mimpi kita akan terwujud dengan cara yang indah melalui perantara Yang Maha Kuasa. Pertanyaan: bermimpikah anda untuk wafat dalam khusnul khotimah? Itu adalah mimpi terbesar dan misi teragung bukan?
Selain harus berani bermimpi, kita juga harus berani mewujudkan mimpi (real action). Banyak orang yang saat ini tengah bermimpi, meneriakan ledakan cita-cita yang tak terbendung, terbuai dengan angan-angannya yang indah, dan suatu saat ia tersadar bahwa ia sudah mulai tua dan mimpinya belum juga tergapai. Kita mendapati diri dalam keadaan tertawan mimpi, itu karena kita hanya berani bermimpi tanpa real action yang sungguh-sungguh. Mimpi itu seperti bunga tidur apabila tidak diwujudkan, bangunlah dari mimpi-mimpimu, bergeraklah dan mulailah melangkah mendekatinya, ayunan langkah kita mungkin akan terasa berat untuk yang pertama, namun apabila kita benar-benar mau dan bersungguh-sungguh maka seiring waktu berputar semua akan terbiasa dan langkah berikutnya akan terasa lebih ringan. Berusahalah sekuat yang kita mampu, berperih-perihlah dengan jalan yang akan kita temui, sesungguhnya itulah nikmat yang sebenarnya, kita tak akan mungkin mencapai hal yang luar biasa dengan cara-cara yang biasa. Bersiaplah untuk jadi pemenang wujudkan mimpimu, lakukanlah sekarang juga. Jika anda bermimpi menjadi penulis, mulailah dengan serius menulis, tuangkan ide-ide anda pada tulisan, ikuti setiap lomba, jangan takut karya anda jelek karena penulis terbaik pun berawal dari penulis yang “ecek-ecek” (baca: biasa), tidak ada yang namanya “ujug-ujug” (baca: tiba-tiba) semua butuh proses dan proses itu adalah langkah-langkah kita mencapai mimpi. Apabila kita merasa amat sakit karena mimpi itu, bersiaplah sahabat karena mimpi itu akan segera tercapai. Namun, apabila anda merasa memiliki mimpi tapi tidak mampu membayangkan jalan menuju mimpi itu, maka lakukanlah yang terbaik saat ini. Jika anda seorang mahasiswa maka belajarlah dengan serius dan sungguh-sungguh, atau jika anda seorang pekerja maka abdikan diri anda untuk bekerja sekeras dan segigih mungkin, karena mimpi itupun seperti pesanan, apakah akan dipenuhi pesanan kita atau tidak itu tergantung pada penerima pesanan. Namun alangkah baiknya jika pesanan itu kita titipkan lewat doa yang khusuk, dan dijemput dengan usaha-usaha.
Sahabat bermimpilah dan berani pula mewujudkan mimpi, agar mimpi tidak sekedar kata. Agar mimpi tidak sekedar penghias kehidupan namun juga sebagai penopang rasa haus dan lelah. Mimpi yang kau bangun dengan landasan yang kuat dan rancangan bangunan yang jelas. Elang pun jika terbang ia memikirkan seberapa jauh yang akan ia tempuh, berapa bukit yang akan dilewati, begitu pula kita dalam membidik mimpi-mimpi kita, tak luput dari hitungan apakah mimpi itu dapat kita gapai atau tidak? Sudah terbayang atau tidak cara-cara menggapainya? Bermimpilah namun tetap berpijak pada bumi yang logis. Jangan hendak seperti katak yang ingin terbang. Diceritakan ada seekor katak yang ingin bisa terbang, katak ini sangat iri dengan kepiawaian burung mengepakan sayap dan tertarik sekali pada cerita bahwa dunia ini sangat indah apabila dilihat dari angkasa. Suatu hari ia menceritakan keinginannya itu pada seekor bango yang telah jadi sahabatnya, ia menceritakan mimpinya untuk melihat belahan dunia dari angkasa. Bango itu sangat terenyuh dan ingin sekali mewujudkan mimpi sang katak. Kemudian sang bango menawarkan sang katak untuk ikut terbang bersamanya, dengan cara sang katak berpegangan pada kedua kakinya. Sang katak sangat gembira ketika ia terbang di angkasa, ia dapat melihat dunia ini dengan jelas dan memang sungguh indah, kemudian ia minta pada sang bango untuk terbang lebih tinggi dan cepat, sang bango menuruti permintaan sang katak. Namun sang katak terlalu gembira dengan pemandangan dibawahnya, sehingga ia lupa menggenggam kaki sang bango dengan kuat. Tiba-tiba ia jatuh meliuk-liuk ke tanah dan akhir kisahnya sangat tragis, sang katak mati menggenaskan. Begitu pula sahabat, jangan sampai mimpi-mimpi membunuh karakter dan pribadi kita, tetaplah membumi ketika mimpi kita melangit.
Ingatlah pula bahwa mimpi untuk dunia ini hanyalah fatamorgana, fana dan terbatas. Kita bisa menggenggam dunia dengan mimpi tapi ingatlah ada yang menggenggam nafs atau jiwa kita, Dia bisa memisahkan jiwa kita dari raga dengan satu helaan napas saja. Mimpi-mimpi yang telah dan akan kita capai tiada terlepas dari kemurahan dan kasih sayang Nya yang bergulung-gulung tiada terbendung. Kemudian Dia menambahkan kita nikmat beribu kali ketika kita bersyukur. Bersyukurlah karena Allah telah menanamkan pada jiwa kita untuk berani bermimpi dan berani mewujudkannya. Terus belajar dan berkarya, sesungguhnya orang yang sukses bukanlah orang yang menggapai suatu gelar atau menduduki suatu jabatan, tetapi adalah ia yang bermanfaat untuk sesamanya, tegar dan teguh  menjalani hidup, bersyukur dengan keadaan ia saat ini, dan tentunya orang yang selalu menyadari keberadaannya di dunia adalah sementara.
“Nah, sekarang bagaimana udah ikhlas kuliah disini?” Akhirnya ia tersenyum, mengangguk dengan mata yang berbinar. Sahabat mimpi mu yang indah jangan kau anggap musnah dengan keadaan mu sekarang, mungkin kamu bisa menggapainya suatu saat, atau kamu bisa jadi psikolog yang memahami hati kawan-kawanmu meskipun tanpa kuliah di psikologi. Dan hari-hari semakin indah dengan mimpi dan teriakan “man jada wa jada”, kami para pemimpi yang telah terbangun siap mengguncang dunia. Kami para pendekar tangguh siap menebar cinta dengan mimpi yang indah. Sambutlah kami dengan merekahnya pagi.
Jangan lemah sahabat, andai hari ini mimpimu tercekat dan masih jauh di depan sana. Teruskan perjuangan, tetap semangat dan ikhlaskan semua dalam tangan-tangan Nya yang indah nan elok. Dialah yang akan mewujudkannya untuk mu, untuk membalas tangis mu dengan surga Nya. Ganbatte!
 Az.
Ditulis saat kuliah @UPI Tasikmalaya semester 2.