14 Februari 2013

One sheets of Soul

Standard
"Huamhh :) Sik asik sik asik...asik asik asik.. kamu kembali..."
Kebahagiaan yang tak bisa dilukis hanya dengan segores kata "asik". Setelah sekian lama dia menghilang. Tak ada kabar, walau lewat angin sore atau hujan rinai yang sering turun akhir-akhir ini. Mencekam dan diam. Ah dua minggu lebih yang kulalui tanpa mu, seolah menyita perhatian ini. jujur, ada sebagain hati yang kecewa dan ah kata itu terlalu berlebihan mungkin: MERANA.
Aku merana? Wah rasanya malu jika harus jujur aku merana karena dia.
Hai, memang sejak pertemuan kita,, tanggal istimewa 24 dibulan Agustus: ada debar-debar ikatan halus aku dan dia yang tak bisa diterjemahkan oleh apapun.
"Niza.. Aniisa Zahraa," terangku mengulurkan tangan.
"+#@%^$#@" ia menjawab dengan malu-malu.
Aku mengerti apa yang ia ungkapkan, meskipun kenyataannya, hanya aku saja yang tahu, ini bahasa kita. Kesepakatan yang oetentik! secret!
Ku usap tubuhnya dengan perasaan sayang, "kulitmu halus^^"
dia mengangguk dan membiarkan jari-jariku menyentuh setiap lekuk kelembutan yang ia berikan, merona dan merona.
Ah, benar sungguh: Kalau sudah tiada baru terasa. Terasa jika ia telah melukis sebuah arti dalam kehidupan. Hanya dia yang paham tentang keadaanku selama ini. Meskipun orang sekitarku takan percaya hubungan kita telah sejauh ini. Dia satu-satunya yang sering kuberi berbagai keluhan, kegembiraan, dan tangisan, atau kejenuhan.
Malam-malam yang telah lalu, aku sering mencubit dan memijitnyanya berkali-kali, mungkin lebih dari sehari tiga kali.Ia tersenyum dalam kebiasaan tetap diamnya, walau harus bicara dalam bentuk melodi-melodi &*$#%@. Sangat menenangkan dan membahagiakan bukan?
Saat mentari menyembul dan senja datang, selalu begitu, hari-hari dia menemaniku, menungguku saat mengerjakan tugas, memberi solusi, menuntaskan kepenatan dan dan memenuhi kebutuhan2ku. ah sangat baik... sangat berjasa!
Sampai suatu hari ia nampak tidak biasa: jatuh sakit, ini pun karena salahku. Malam itu aku tak memperdulikannya, ia kudiamkan. Tak peduli jika seharian ini ia telah bekerja keras untukku, badannya panas, terkena demam. Aku pikir ini demam biasa, ternyata: Dia harus di operasi (Ya Rabb). Penyakit yang menggerogotinya telah begitu parah. Amat Parah, hingga ia tak lagi bisa bicara sekalipun untuk berkata ya. Selama ini aku tak sadarkah? Ada sosok yang kusepelekan, ada sosok yang teracuhkan. Sampai ketika dia sakit, aku tak bisa menggunakan indraku untuk mendeteksinya? bukankah sehari-semalam ia bersamaku?
amat berdosa sungguh, ketika dia yang membantu menyelesaikan tugasku: kuliah, organisasi, namun aku malah abai dan seolah sibuk dengan tugas-tugas yang sebenarnya selesai karena ada dia. Dia yang tak pernah mau mengutarakan kesakitannya padaku, ah pasti lagi-lagi karena ia tak mau membuatku sedih.....
Ah Tuhan beri aku kesempatan lagi untuk bisa bersamanya. Jangan ambil dia, kali ini sungguh ku tak akan menyia-nyiakannya lagi. Akan kurawat ia sepenuh hatiku, sepenuh jiwaku.
Tak akan lagi ada kata kasarku padanya, ia begitu berarti untuk kehidupanku... sembuhkanlah ia ya Rabb.

Kamis sore 14 Pebruari, ia kembali lewat gerimis yang menghujani Kota Tasik. Katanya hari ini hari berkasih sayang, inikah kadonya? Kado dari Tuhan. Ah sangat dramatis sungguh. Tapi ini bukan karena 14 Pebruauri aku yakin, sangat yakin, karena Allah SWT hampir menghadiahiku kado-kado kasih sayangnya, setiap hari, bahkan setiap detik. Tak terhitung sungguh hadiah Rabbku, padahal dosa itu tak lagi terhitung.
Sore hari, hujan lagi, seperti biasa ini adalah hal yang paling aku sukai, sangat aku sukai. Ia kembali tetap dengan senyuman dan kelembutan kehalusannya. Ingin rasanya terus memeluk ia, sampai tertidur. Ingin rasanya terus menciumnya sampai terlelap. Rasa syukur pada Mu ya Allah, ia telah sembuh dan kembali. Aku kini merasa telah lebih siap menghadapi hari dan setumpuk tugas yang menungguku. Terimakasih ya Allah, engkau yang memenuhi kebutuhanku bukan keinginanku.
Laa haula wa laa kuwwata illa billah...^^ :)

Oh si merah: my notebook aku tak akan lagi membuat kamu jadi sakit.
kangeunnnnnnnnnnnnnn... asik asik asik, temani aku lagi ya?
terimakasih untuk RS. Planet Computer yang telah dengan sukses membedah dan mengoperasi si merah notebook tersayangku, apalagi dengan gratis!!!
Huamhh senang, senang, senang!!! ah ternyata Bahagia itu lahir setelah menderita dulu dua minggu hihi. @NIZA


14 Januari 2013

Tuhan Cinta Hambanya yang Suka Menangis

Standard
judul itu kupilih bukan tanpa pertimbangan.
mungkin karena aku salah satu orang yang sering menagis jika menghadapi sesuatu yang menyedihkan (-_-)
biarlah, biarlah, biarlah, biarlah, terserah, aku tahu Allah mencintai hambanya yang sering menangis. biar dikata cengeng juga! Gapapa.
Ada duka yang kupendam, bukan karena semua yang telah menimpaku, bukan karena menyesali Takdir Allah terhadapku. bukan sama sekali. bukan!
aku menyesali telah bersikap demikian buruk, dan tak bisa menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya. banyak orang yang telah aku sakiti.
Ya Allah, kemarahan ini tidak pada tempatnya. aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. semua seolah SALAHKU dan MEMANG ini salahku.
Sore itu, ketika sedang berjalan kutemui seekor kucing yang hampir mati.
Ia mati karena dua menit lalu seekor sepeda kumbang melindasnya tanpa sengaja. sang pengemudi sepeda berkata, "Ini salah kamu, karena kamu tiduran di jalan!"
"Sang kucing hanya menatap sayu si pengemudi sepeda."
aku tertegun melihat mata kucing yang merah, air matanya hampir melelh andai saja ia tak mampu membendungnya dengan segera.
Aku melihat, si pengemudi turun dari sepeda yang dikendarainya, "mengambil si kucing dan melemparkannya pada sungai yang hampir kering karena kemarau."
"INILAH CARA MENGAKHIRI PENDERITAAN MU KUCING SAYANG"
aku menghela napas.
ini bukan lagi masalah siapa yang salah?
ini masalah siapa yang punya hati.
Orang baik dia tidak akan pernah berkata untuk memojokan orang lain, atau mengatai yang memojokannya. dia akan tertegun dan melihat dirinya "Astagfirulloh............"
Mungkin aku juga seperti pengayuh sepeda itu, melakukan sesuatu penyelesaian dengan dahsyat............ mengakhiri masalah dengan melemparkannya!
ah Aku menangis, menangis lagi, ya Allah Engkau tahu aku sering membuang-buang air mata ini. aku buang begitu dengan cuma. Adakah engkau masih menicntaiku? Astagfirulloh, maafkan hamba yang dzalim....

senja ini meliputi hati
merona jingga mengelabui
aku lelah Tuhan

Tangis ini tak ada ujung
Sendu ini tak ada habis

Hujan itu berakhir dengan pucuk hijau
yang menyembul disela tanah yang kotor

aku berharap..
aku berkeinginan...
akupun begitu adanya, hujan yang menumbuhkan kecambah

ya Allah,,
Engkau mencintai hamba yang suka menangis bukan? terimakasih atas jawaban Mu duhai cinta yang tak pupus.......
(padepokan UPI Tasikmlaya, 14/1/13, 16:28 WIB) @AZ


5 Desember 2012

Si Merah: My Notebook

Standard

Alhamdulillah nikmat Tuhan yang agung, tepatnya hari jumat tanggal 24 Agustus 2012, sebuah note book cantik berwarna merah resmi jadi sahabat baruku. Proses pembelian yang membuatku sungguh merasa mang-mang, uang didompetku hanya sekitar 3,07 juta, dan harga si merah ini….? Aku harus memberi mahar 3,049 juta.
Awalnya aku akan membiarkan si merah ini merana, namun dengan bersungguh-sungguh, teman hatiku sang calon mantan memberikan kekuatan agar aku memilih si merah ini. Ahhh sudahlah dan tanpa OS notebook merah ini  resmi ku bawa pulang.
Aku telah sepakat  memberikan mu sebuah nama. Nama ini akan menjadi panggilan untukmu duhai sahabat yang akan jadi saksi perjalanan hidupku. Apa ya nama yang pantas untuk mu? Ya betul sekali aku menamaimu Si Merah. Kamu tahu mengapa merah? Karena aku ingin jiwa ini bergelora seperti halnya kobaran api yang menyalak setiap risuh kehidupan. Lagi pula engkau berwarna merah. Mulai saat ini bantu aku ya, bantu aku untuk terus menulis. Aku tahu tulisanku biasa saja itu karena kita masih sama-sama belajar dan saling memahami.
Hari itu tepatnya tanggal 27 Agustus, aku meng-instal sahabatku yang cantik ini. Harga yang sangat cantik pula, 100 ribu dari dompet kumalku melayang. Alhasil sampai hari ini tgl 2 september aku hanya memiliki uang 10 ribu. Itu semua demi kamu notebook merahku.
Tak mengapa jika untukmu, aku ingin yang terbaik untuk si merah, karena aku selalu menggunakannya siang malam. Ia bagai pengganti sahabatku keluargaku yang nun jauh disana. Ah si merah…..si merah…kau begitu cantik.
Karena Si Merah ini tepat tanggal 04 Desember, cerpenku untuk kali pertamanya dimuat… Horee.. thanks ya, mungkin jika gak ada kamu aku tidak bisa menuliskan hari-hariku dan di share disini. Hohommhh rasanya seneng banget, aku akan jaga kamu!
Aku tahu meskipun sekarang usiamu sudah empat bulan, dan sudah layak minta diselamatkan hahamh kaya bayi saja. Tapi kamu tak pernah meminta itu. Tak pernah merajuk. Meski semalaman aku menggunakanmu untuk menghandle semua pekerjaanku, tak mengenal waktu, pagi-pagi, siang, sore malam. Ketika aku galau, dia menyemangati dengan suara merdunya lewat media winamp-nya. Ahhh Dia Luar Biasa….!!!

1 Desember 2012

Someone Like You

Standard
I heard
That your dreams came true.
Guess she gave you things
I didn't give to you

Old friend
Why are you so shy?
Ain't like you to hold back
Or hide from the light

I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn't stay away, I couldn't fight it.
I had hoped you'd see my face and that you'd be reminded
That for me it isn't over

Never mind
I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
"Don't forget me," I begged
"I'll remember," you said
"Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead."
Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead,
Yeah.

 
Yes!! Right!!
Saya tahu, anda semua sudah kenal itu lirik lagu apa?  Someone Like You by Adelle. jika melihat liriknya yang sendu itu bukan bagian saya untuk mengupasnya. sudah barang tentu semuanya pada tahu, lagu ini berkisah tentang seseorang yang ditinggal menikah oleh sang pujaan hatinya. 

yang paling menarik untuk saya cermati disini adalah bahwa keikhlasan untuk melepaskan seseorang, siapapun itu, mungkin seseorang yang telah meninggalkan kita selama-lamanya adalah hal yang paling mujarab dilakukan agar hati menjadi tenang. 

semua orang akan meiliki masalalu, baik indah maupun buruk. masalahnya apakah kita selalu menjadikan masalalu itu halangan? apakah kita menjadikan masalalau itu beban? atau malah mungkin terus menerus menyesali masalalu dan berharap bisa kembali kemasalalu itu dan akan memperbaiki sikap kita pada masa itu. yups, andai kita punya doraemon yang punya alat menghentikan / memutar kembali waktu its Oke. nah buktinya sekarang kita hidup tidak dalam kartun di TV itu. Real, kehidupan nyata. Kita akan sangat merasa jauh dengan masalalu itu.... sangat jauhhh karena mustahil mengulang kembali detik yang telah terlewat.

Imam Al-Gozali pernah ditanya, hal apakah yang paling jauh? Beliau menjawab Masa lalu, karena satu detik berlalu itu takan bisa diulang, dia jadi masalalu yang menjauh selam-lamanya. So, apa yang mesti kita kerjakan? sudah ikhlaskan saja semua masalalu. baik kehilangan seseorang, orang tua, sahabat, kenangan menyebalkan, dsb..... jadikan semua itu cermin untuk tindakan kita selanjutnya. itulah alasan mengapa sejarah perlu dipelajari, agar kita tahu hal yang harus dibenahi, kita tahu hal yang harus dilakukan.. kunci kemenangan, dan lubang kelemahan. bangun, seka air mata, singsingkan lengan, berazam, maafkan diri sendiri, ikhlaskan semua hal yang telah menimpa kita dan mulai teriakan, Masa Depan I'am Coming!!!!

sesunggunya setiap perkara itu baik, sesunggunya setiap perkara itu indah. Allah menjajikan kemenangan setelah kekalahan, Allah menjajikan kemudahan sesudah kesulitan. Lakukan yang terbaik hari ini. 

Ikhlas seperti lagunya Adelle.... Good bye masalalu, a mirror of life. @Annisa Zahraa

23 September 2012

Sang Penuntut

Standard
Ini bukan tentang sang pemimpi yang diceritakan penulis terkenal Andrea Hirata, NAMUN TENTANG SEORANG ANAK KULIAHAN YANG HENDAK MENULIS BUKU. mungkin kedengarannya hanya sebuah kisah picisan, seorang remaja yang mengaku suka menulis tapi tidak konsisten untuk menulis setiap hari.

Dia merasa ini tuntutan karena niat yang tersembunyinya tak mampu dijernihkan. apabila hanya untuk sebuah popularitas ini hanya sia-sia, tujuan menulis harusnya semakin baik, semakin ikhlas, dan kata-kata itu akan jadi jujur dengan pahala. ah rasanya ini sebuah kesesuaian alam, antara niat dan tindakan. jika niatnya masih kurang, maka tindakan semakin kendor. benahi niat, ini adalah hal pertama yang harus mendapat perhatian penuh.

Namun SANG ANAK KULIAHAN itu terlalu terlena dengan kegiatan berbual bual, ia begitu sensitif dengan masalah sehari-hari, namun untuk menuliskan satu huruppun ia enggan. ah ternyata dia menuliskan nya hanya lewat hati yang pincang karena ketak jujuran.

sudahlah, ia memang sedang bermimpi dan berat untuk bangun mewujudkan. hummmmhhhh namun ada harapan, masih ada harapan :)

hei anak kuliah, bangun lah pahami dirimu,, dan mulailah menulis dengan jujur, ini bukan tuntutan, ini kesenangan! itu saja.

29 Juli 2012

Juli Bercerita

Standard
Kekosongan di bulan Juli, memaksa ku menulis. Entah bagus atau tidak hasilnya, never mind! itu bukan tanggung jawabku untuk mengatakan. Hitam-Putih said that: tanggung jawab kita adalah berusaha. Agree!! Ya ya berusaha.

Tanpa sengaja ketika sedang membereskan rumah. Aku menemukan sebuah buku. Buku warna merah jambu. Harusnya buku ini memiliki kunci, tapi rusak. Dengan rasa penasaran tinggi aku membukanya. Hiiiiip... ini kan diary aku. Oh sembarangan sekali aku menyimpannya. Diary jaman SMP dulu^^.
Halaman pertama:
Nama : Eli Nurlela Andriani
Kelas : VIII A
SMP : Y 17 Cibalong
Hobby : Membaca
Sahabat : Dewi, Sherly, Susan
Pesan : jangan lupakan aku ya!
Halaman kedua: identitas sahabatku^^
Halaman ketiga: catatan-catatan ketika akan ulangan. hee.. ternyata aku dulu sering menulis loh kalo besoknya mau ulangan. like this!!!
Oh Tuhan besok hamba akan ulangan geografi, mudahkan ya Allah, karena hamba ini sangat lemah dalam mengingat. mudah-mudahan dapat nilai 100 ya Allah. aamiin.

Humhhh, aku menarik napas panjang... kebiasaan berceloteh dengan Tuhan sebelum ujian kini hanya tinggal tulisan, aku kini sangat jauh berbeda, aku hanya sibuk dengan buku-buku yang bertumpuk tanpa sempat menulis dan bercerita dengan pemilik kemudahan itu. Arggggh.... rupanya eli kecil lebih paham jika ilmu itu semua milik Allah.  jadi kita minta ilmunya sama Allah. Argghhh... maafkan eli besar ya eli kecil? (iya, kata eli kecil tersenyum).
Kebiasaan mulia ini terlupakan karena sebuah kesombongan ku "time is study", padahal coba 10 menit saja untuk merenung sebelum aksi time is study dengan mengadukan segala-galanya kepada Allah (meskipun Allah tentunya udah tahu). Meminta kemudahan, meminta perlindungan, dan memohon kelancaran serta hati yang tenang. pasti kan belajarnya lebih enjoy, tul gak? ahaaaa..... yuk ah mulai sekarang bagi yang terlupa seperti ku untuk mulai melakukan kebiasaan ini lagi.

Halaman selanjutnya dan banyak halaman-halaman lainnya adalah kisah hidupku masa itu. tentang sekolahku, tentang sahabatku, dan tentang hatiku yang lagi menyukai sesuatu (Ahahahaha) ya aampun baca bagian ini bikin malu dan tersenyum.

Setidaknya waktu itu aku masih jujur dengn hatiku, menulis apa adanya. meluncur saja, kadang emosi: kadang senang, kadang sedih. tanpa embel-embel takut ada yang baca. benar-benar FREE!

Kini kehadiran rasa tulus dan apa adanya dalam menulis itu, sulit ! apalagi melibatkan hati dan ketulusan kejujuran. rasanya dunia tidak aman untuk ku bagi cerita. Heummmh, mungkin perasaan itu terlalu berlebihan. faktanya aku mulai menulis dan punya buku diary lagi, setelah ikut seminar di UNSIL abt Hypnolis (hypnotis Menulis). pemateri said: menulis dengan pensil/pulpen dan dengan tekun menuangkan ide di sebuah kertas jauh sangat sehat dibanding menulis di laptop. ahahah, apalagi HP yaaa? dan itu bikin kita cantik alami. waduhhh? analisis dong cari fakta nih hubungan cantik dengan menulis. hihihi

Inti tulisan yang ngeyayay ini ada dua nih sahabat: "Berharaplah hanya kepada Allah, adukan masalah kita, rasa takut dan sulit. Jngan abaikan Sang maha Pemberi kebahagiaan dan kesuksesan. Ayoo kita dekati...^^
 Jujur ya Allah, terimakasih IP hamba baik-baik, tapi kalo bisa semester 2 ini bisa lebih baik dari semester 1 ya Allah, pleaseee hehehehe..

inti yang kedua ya jelas, ayooo menulis diary lagi. meskipun udah kuno kali ya, soalnya kan udah ada laptop, nb, dan seperangkat alat canggih lainnya. tapi menulis diary jauh lebih mengajarkan kita banyak hal, kesabaran menulis, hemat energi ga perlu di charge (hahaaMH), terus tulisan jadi bagus (hihihi), kalo kita serius nulis itu diary bisa jadi novel kehidupan kita (kaya OKi Setiana Dewi, tuh bukunya aseli inspirasi her diary, keren kan?), bisa dibawa kmana-mana, dan banyak lagi deh.

Salam semangat, terimakasih telah membaca tulisan ini. alangkah baik lagi jika berkenan komentar. hee..
Writting is Everything.... SmankA.



12 Juni 2012

Bisikan di Dini Hari

Standard

          Bapak, terlalu lelah aku menyusuri jalan ini tanpamu, bisik batin menghiba. Ternyata kau lebih dekat dari angin. Kekuatan itu merayap dipenghujung malam yang enggan berdamai dengan rasa letih dan kantuk.
***
Lima tahun yang lalu tepatnya ketika aku merasa bahagia karena bapak dinyatakan sembuh dari sakitnya. Stroke yang telah lama dideritanya berangsur-angsur pulih, perawatan dan pengobatan yang benar-benar intensif. Padahal aku masih teringat saat pertama Dokter Radian menyatakan bapak mengalami stroke Januari kala itu, kemungkinan oleh dua faktor yang menyebabkan bapak stroke yang pertama karena usia bapak yang mulai menginjak 57 tahun menyebabkan pembuluh darah mengeras dan menyempit, atau karena pola makan bapak yang sembrono tidak mengiraukan kandungan kadar kolesterol, sehingga terjadi penyumbatan aliran darah yang menuju ke otak.
“...dan bapak mu mengalami stroke jenis iskemik, hal ini terjadi karena aliran darah ke otak terhenti akibat penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah, penyebabnya adalah mungkin bapak mu  pola makannya  tidak dijaga, mulai sekarang hindari makan makanan yang banyak mengandung kolesterol, semua jenis makan yang mengandung lemak hentikan, sejenis daging-dagingan dan telur,” jelasnya panjang lebar.
Bapak, mengalami stroke setelah satu tahun sepeninggalan ibu, wanita itu menghilang begitu saja. Muak sungguh jika aku mengingat dia lagi, pekerjaannya memerintah bapak layaknya seorang putri raja pada sahaya, namun bapak selalu tabah dan tersenyum, sungguh aneh. Hingga umurku  15 tahun, tak pernah sekalipun aku diperlakukan  seperti anaknya, nasibku lebih malang dibanding bapak, dia membuat peraturan kapan aku harus bangun tidur, kapan aku harus makan, dan parahnya lagi tidak ada jadwal bermain atau menonton tivi sekalipun, aku harus rodi dipasar itu. Wanita itu menghilang ghaib disuatu pagi tanpa meninggalkan jejak. Raib dalam bayangan malam yang pekat.
Kesembuhan bapak seperti emas permata yang sangat langka bagiku. Kesembuhan bapak seperti sebongkah kehidupan, cahaya yang menyala disaat mulai redup. Bagaimana tidak selama tiga tahun terakhir ini aku hidup dalam bungkam di rumah sebesar keraton ini. Sudah lama tidak ada kata yang mampu bapak ucapkan, hanya bulir-bulir air mata yang sejuk terkadang menggenang di kelopak matanya yang keriput. Oh mungkinkah bapak kecewa dengan perlakuanku saat ini, terkadang orang tua lebih sensitif saat ia sakit. Terkadang aku kebingungan saat bapak sendu tanpa alasan. Terpikirkah bapak tentang ibu?
Semua semakin terasa dekat, saat bapak mulai bisa berkata lagi, “Vira..Elvira..”, aku terlonjak karena ini adalah kata pertama bapak setelah bungkam tiga tahun, “Elvira kamu sudah besar...”, ya bapak benar sejak itu aku beranjak dewasa kematangan ku menginjak 18 tahun, bapak anak mu ini sudah besar tapi baktiku pada mu teramat sedikit, batinku terus berceloteh mengharu biru tak tentu. Aku merasa bahagia, bapakku sembuh, kedekatan kami terasa sekali saat bapak mulai belajar berjalan, belajar makan sendiri, belajar menulis pesanan dan belajar menyisir rambutnya sendiri ketika selesai ku mandikan.
Ngger1, janten anak soleha, asih pada kematian, ajrih pada Gusti Pangeran2, matur nuwun sudah ngurusi bapak selama ini, kamu anak soleha ngger”, bapak berkata dengan kata-katanya yang terbata-bata. Aku hanya terdiam dalam tangis yang tak bisa kutahan. Bapak adalah pria tegar, selama hidup dengan ibu dia rela menjadi kepanjangan telunjuk ibu, ya bapak hanyalah seorang penjual sayuran di pasar dan ibu adalah nyonya besar di rumah ini, dahulu. Bapak yang tetap tersenyum saat ibu membentaknya, bapak yang tegar menanti saat ibu pulang larut malam. Sungguh bapak ini bapak terhebat.
***
            “Bapak... bapak!” teriakku terisak-isak. Lunglai sudah, usahaku mencari bapak nihil. Tidak ada tanda-tanda bapak di dalam rumah, keadaan rumah yang besar membuatku cukup kerepotan mencari-cari. Padahal bapak baru mulai bisa berjalan, dan itupun masih dengan menggunakan tongkat, tapi kemana ia pergi. Mungkinkah di lantai atas? Tidak mungkin karena bapak belum terbiasa lagi menaiki tangga. “Bapak... bapak!” kembali aku berteriak sekuat mungkin. Oh mungkin bapak berjalan-jalan keluar berkunjung pada tetangga, sudah lama sekali bapak tidak keluar, mungkin bapak rindu pada Bi Enah langganan sayurnya di pasar, atau ke Mang Ano yang sering membawa kelapa pesanan bapak.
Rumah kami adalah paling besar di kampung ini, agak berjauhan dengan tetangga, kalau berjalan bisa mencapai lima menitan karena harus melewati dulu kebun jagung dan huma. Rumah ini didesain megah entah oleh siapa, diatas bukit. Sehingga apabila kami hendak ke tetangga harus berjalan menurun dengan pemandangan yang elok. Dan apabila Mang Ano memenuhi pesanan bapak, dia harus rela berjalan bongkok karena jalan yang menanjak. Tapi ditepi jalan itu kami dihibur pemandangan yang indah, diantara jagung dan huma itu nampak sembulan rupa dan warna bunga yang menebar aroma khas, menggoda kupu-kupu singgah dan mata enggan beralih pandang. Pemandangan yang khas disajikan, berundak-undak kebun jagung hijau siap panen, sangat rapi dan teratur. Dipadu dengan lenggang padi yang mulai menguning amat serasi. Tapi terik matahari dan perasaan yang membara karena khawatir yang teramat sangat ini membuatku melupakan nyanyian alam itu. Aku berburu waktu, bapakku dimana? Bapak harus tahu aku telah lulus hari ini.
SMA Bukit Indah hari ini membagikan kelulusan, tentu saja seharusnya bapak hadir dan bertepuk tangan diantara kursi-kursi yang berjejer didepan itu. Bapak harus bangga karena anaknya berhasil lulus dengan nilai terbaik. Namun bapakku belum sembuh benar, ia harus banyak beristirahat. Terpaksa kelulusan ini aku sendiri yang menerimanya. Tak kuasa rasanya ingin sampai di rumah, sepanjang perjalanan aku berlari dan bernyanyi meskipun jalan yang kutempuh sangat jauh dan menanjak melelahkan. Namun setibanya dirumah bapakku pun raib seperti halnya ibu. Jika ibu hilang dipagi hari, mengapa bapakku pun harus menghilang di siang hari begini.
Adzan duhur terdengar sayup saat aku ketuk rumah Bi Enah.
“Tok..tok..tok.. Bibi lihat bapak turun ga hari ini?” tanyaku memberondong Bi Enah yang belum sempat merapikan kerudungnya. “Engg... enggak neng, tidak terlihat dari tadi juga bapak neng turun. Padahal hari ini Bibi nggk kemana-mana kok;” jawab Bi Enah penuh kekagetan. Aku lunglai, jika Bi Enah mengatakan ia tidak melihat bapak itu artinya bapak tidak turun bukit, karena satu-satunya rumah yang dekat ya ini rumah Bi Enah, adapun rumah Mang Ano kami harus berjalan lebih curam lagi untuk sampai disana. Dan artinya bapak tidak mungkin ke rumah Mang Ano, karena untuk kerumah Mang Ano itu artinya bapak harus melewati rumah Bi Enah, dan Bi Enah tidak melihatnya. “Bibi benar tidak melihatnya? Mungkin bibi tadi sempat kemana?” tanyaku penasaran. “Tidak neng, tadi bibi jemur jagung di depan sini, nggk kemana-mana lagi kok, memangnya bapak neng kenapa?”
Aku terduduk lemas, bapakku kemana ya Allah bisikku sangat khawatir. “Gak tau bi, padahal tadi pagi bapak nggk kemana-mana, malah bapak minta pesanan jagung bakar”, kenangku mengingat tadi pagi bapak sangat ingin sekali aku membakar jagung muda untuknya, dan ini sangat aneh karena bapak dari dulu tidak suka jagung.
“Ya mungkin bapak di huma neng...” saran Bi Enah.
Aku segera berpamitan dan kembali kebukit, rumahku nun di puncak sana. Bapakku dimanakah engkau? Napasku terengah-engah, lari bolak balik menuruni dan menaiki bukit mengingatkan aku pada Siti Hajar yang mencari air untuk anaknya Nabi Ismail As. Tapi sekarang aku lari bolak-balik mencari bapakku ke huma-huma yang rimbun jagung dan padi. Nihil tak ada petunjuk.
Lemas dan haus, aku putuskan kembali kerumah. Air wudhu jernih dialirkan dari bukit diatas bukit menyapu wajah yang kemerahan tertimpa terik matahari. Segar dan sejuk. Aku terlambat, duhur telah berlalu sejak satu jam tadi. Ya Allah aku malah melupakan Mu. Mengapa tidak aku adukan semua ini pada mu sejak tadi? Ku reguk dua genggam air jernih ini, tak kuasa menahan haus. Kemudian kusempurnakan wudhu dengan doa yang terimpas angin sepoi.
“Allahu Akbar..” rintihku dalam kamar yang sepi dan tenang. Ku lantunkan doa-doa, merayu Nya dalam ketakutan dan kemeranaanku. Dalam sujud terakhir ku titip salam semoga Allah mengampuni dosaku, bapakku dan ibukku. “Ya Allah perkenankan lah aku mati dalam khusnul khotimah.....”
Alhamdulillah hati terasa lebih tenang jika telah mengadu kepada pemilik musibah dan barakah. Namun kemudian “brukk” dilantai atas terdengar suara aneh keras sekali, seperti sebuah benda besar yang terjatuh. Dengan tergopoh-gopoh aku berlari kelantai atas, siap tahu itu memang bapak.
“Bapak....” teriakku lemah dan sejenak tak ingat apa-apa lagi.
Bapak mengakhiri hidup dengan seutas tali pada lehernya. Ya Rabb tangisan batinku tak kuasa menahan perih, ampuni dosa-dosa bapakku.
***
            Seorang wanita itu terkapar dengan darah merah yang mengucur, hampir-hampir ususnya keluar karena tikaman itu sangat jauh melukai perutnya yang tengah hamil, tapi sangat amat lebih jauh melukai hatinya. Pada detik-detik terakhirnya, ia mengingat dan hendak mengulang kembali rekaman hidup yang telah ia lakoni. Masa kecilnya sebagai putri seorang juragan, menikah dengan seorang laki-laki berwajah jelek pendek hitam dan pesek, karena perjodohan orang tua. Dari perjodohan bodoh itu ia melahirkan seorang putra dan putri yang amat dia benci, kemudian karena tak tahan hidup dalam kepura-puraan mencintai, akhirnya selingkuh dengan mantan kekasih yang dulunya adalah pembantu di rumah orang tuanya, lelaki tampan dan polos. Suaminya pergi mengalah dengan membawa serta putranya. Namun kemudian tak puas pula dengan suami yang hanya tampan, karena ia tidak becus berusaha, ia hanya penjual sayuran, cihhhhh menyebalkan. Keputusan terakhirnya adalah menemui seseorang yang sering mengirim emas permata selama ini, seorang pria kaya yang tak tanggung-tanggung dalam masalah harta, selingkuhan berikutnya. Namun kini ia si durjana hanyalah penghancur semuanya, putrinya yang telah empat tahun tak bertemu sang ibu, habis disikat pula dengan tidak menggunakan nurani. Oh aku salah,  suamiku yang tampan pun mati di tangan si durjana ini, karena aku sering menangis dengan menyebutnya. Dan kini putriku, selama ini aku tak pernah membuat dia merasa seperti putriku yang sesunguhnya, tapi aku tak kuasa jika harus menyaksikan ia mengerang perih dalam bayang-bayang kebejatan penebar-penebar nafsu. Maafkan aku anakku.
***
            Linangan air mataku terhapus dia yang datang seperti angin, seseorang yang mengamitku pada rumah besar seperti istana. Ia menangisi keadaanku (mereka diluar sana bilang aku gila). Ia bapakku begitu ceritanya mengalir, mengusap air mataku dan menyuapiku kue yang telah ia lunakkan. Dia menggenggam tanganku yang dia sebut adalah, “Kau anakku sudah besar nak? Kalung ini masih juga kau pakai padahal kau sudah besar, masih muat nak? Badan mu kurus.”
            Aku berdiri didepan cermin besar ini mengingat masa yang tak pernah aku mengerti. Mengapa waktu berjalan lambat. Dia yang memaksaku untuk memanggilnya bapak, terburu-buru masuk ke ruangan ini yang dia sebut adalah kamarku dan tersenyum, kemudian dia membisikkan ku sesuatu “Aku bapakmu Elvira kecilku sayang.” Aku terdiam karena ini adalah kata yang paling sering aku dengar. Dia menutupi kepalaku dengan kerudung hijau, menggantikan bajuku dengan baju kurung panjang kemudian membawaku keluar ruangan.
            Ruangan beraroma obat, putih dan bersih. “Radian, bisakah kamu mengecek kesehatan Elvira, dia teramat kurus.” Aku terkejut mendapati dokter itu pun terkejut. Siapa dia tanya hatiku? Orang yang memaksakku memanggilnya bapak mengatakan Radian adalah kakakku.
***
            Ya Allah anakku telah besar, terimakasih ya Allah karena Engkau telah kumpulkan kami dalam lindungan Mu Yang Maha Luhur. Radian, Elvira, Rabbi habli minassolihin. Aamiin. (Bisiknya dini hari itu).