12 Maret 2013

Adakah Sesuatu Dibalik Sesuatu?

Standard


Bismillah, andai ada sesuatu dibalik sesuatu seperti Tuhan memberi hikmah terhadap segala sesuatu. Itu bukanlah kewajiban kita untuk tahu apa hikmah dibalik narasi, yang harus tahu adalah syukur dalam segala posisi.
Heum Right! Ibaratnya saya melemparkan sebuah pena ke lantai, lantas saya bertanya itu salah siapa? Heiii itu salah siapa? Ko pena bisa tergeletak gitu aja dilantai, coba kalo ke injek kan sayang, terus gimna kalo orang yang menginjaknya jatuh kepeleset?
Betul memang saya yang melempar (andai saya mau mengaku itu juga). Terus? Manusia sebagai insan intelek yang bertahun-tahun menyelesaikan beban management fakultatif dengan nilai bagus lagi, harusnya bisa melihat sesuatu dibalik sesuatu. Mengapa kita selalu berfokus pada "masalahnya"? mengapa tidak berfokus pada "cara pemecahan masalahnya". Gak perlu ribut bukan, yang pasti ambil pulpennya, taruh pada tempatnya dan selesai. kalau kata Bapak Gusdur, githu aja kok repottt!
Saya pun sering begitu, melihat masalah melalui kacamata minus. Siapa yang bersalah, mengapa ia melakukan demikian, mengapa itu bisa terjadi dan kalimat mengapa lainnya yang sering saya indikasi sebagai perincian masalah. Termasuk pandangam saya saat melihat kasus Hambalang yang tak kunjung usai setelah menambah satu aktor lain (jenuh #@*). Lantas ketika hari ini ada kesadaran bahwa jangan lagi melihat siapa dan mengapa tapi "bagaimana cara menyelesaikan masalah itu?" Ah rasanya seperti ingin mengambil pulpen dan menaruh kembali pada tempatnya, tapi pulpennya itu bukan berada ditempat saya saat ini berada, tapi dibelahan dunia lain yang saya sangat sulit menjangkaunya, kecuali untuk menelepon atau sms orang-orang yang berada dekat dengan pulpen itu. Ah itu pun  saya tak punya koneksi, saya bukan seseorang yang punya kenalan penegak hukum atau lainnya yang bisa saya mintai tolong.
Wah kok malah ngelantur ke masalah itu, balik lagi ke posisi.
Melihat sesuatu dibalik sesuatu seperti melihat masalah dari sisi pemecahannya, menginspirasi saya untuk mengulas masalah organisasi dikampus ini. Kampus tercinta yang kita berada didalamnya, apakah akan menjadikannya dinamis atau statis. Kedinamisan ini tentu saja selain diindikatori oleh prestasi akademik juga oleh prestasi organisasinya. Organisasi seperti ibadah tambahan bagi seorang mahasiswa, apakah boleh dikatakan pelengkap? Beban mata kuliah yang saat ini didapatkan, sebagian dapat langsung diaplikasikan didalam organisasi sebagai medianya.
Seperti inikah?
Saat ini, saya belajar IPS tentang keterkaitan antara fakta, data, konsep, dan generalisasi. Saat diruang kuliah itu cukup jadi bahan diskusi, lantas bagaimana penerapannya di sehari-hari? Salah satu medianya adalah organisasi. Kita melihat bagaimana fakta minat berorganisasi saat ini di kampus, kita kumpulkan fakta2 itu bisa diperoleh dari pengumpulan data mulai dari wawancara, angket, pengamatan dan banyak cara lainnya. Lantas setelah pengumpulan fakta? Kita memperoleh data bagaimana sesungguhnya minat berorganisasi.
Nah kita apakan data ini? data ini kita olah untuk menghasilkan sebuah kesimpulan berdasarkan konsep-konsep yang telah kita abtraksikan dari data, baik berupa pendapat atau teori atau malah hukum (hukum berorganisasi mungkin hahahamh): misal "Minat berorganisasi di UPI Tasik ini cukup rendah." Cetusan itu muncul karena misalkan: orang-orang yang berada di beberapa organisasi ya dia lagi-dia lagi.
Lalu setelah dapat cetusan aneh itu, apa yang dapat kita lakukan? Ya jelas lihat sesuatu dibalik sesuatu. Problem Solving.
1. Kampus tidak mewajibkan seorang mahasiswa untuk berorganisasi di dalam kampus.
2. Kampus tidak membatasi seorang mahasiswa untuk ikut dalam beberapa organisasi di dalam kampus.
3. Mahasiswa merasa tidak punya keuntungan dalam segi material jika berorganisasi di dalam kampus.
4. Tidak punya waktu untuk berorganisasi didalam kampus.
dan banyak rentetan lainnya yang jadi jawaban mengapa, yang jadi jawaban bagaimana adalah kebalikan dari mengapa (untuk kasus ini).
Krisis pengkaderan dalam berorganisasi (pusing nyari penerus) dikarenakan minimnya minat mahasiswa dalam berorganisasi. Ah, mana tugas mahasiswa itu, iron stock ya dimanakah ia? Tugas mahasiswa selain jadi agent of change dan social control? Bagaimana akan jadi iron stocke jika kondisi di kampusnya pun begini adanya? saling tunjuk menunjuk dan nemlehkeun. Bukan saling berkompetisi untuk mengambil kesempatan sebagai bukti jiwa mudanya malah saling hujat.  Mengapa yang berjiwa muda malah lesu? Lihat yang tua-tua aja masih pada mau nyalonin diri di pemilu (contohnya, maaf)? Kebalik sama faktanya kan, beri aku sepuluh pemuda itu kini hanya pemanis pidato. Saya rindu bukti, bukti dari kata Bung Karno itu.
Jika ikut berorganisasi hanya untuk materi, popularitas, nyari jodoh, atau dekat dengan dosen biar nilai akademik bagus, ayo TOBAT! Gak papa lah biar ngikut istilah Pak Anis Mata, Taubat Nasional. Tapi benar itu 100%, saya yakin minat mahasiswa berorganisasi rendah karena gak tahu tujuan dalam organisasi. Hanya ingin untung, apa sih keuntungan saya berorganisasi? Hanya itu yag ada dibenaknya. (galak banget ya?). tapi gak pernah mau bertanya, apa yang bisa saya berikan untuk kampus dan organisasi? mental memberi yang belum tumbuh. Yups oleh karena itu ada sebuah teka-teki yang harus dijawab oleh kita bersama:
wahai Para Mahasiswa yang berjiwa muda, anda mau jadi mahasiswa yang sesungguhnya sebagai iron stocke atau jadi mahasiswa yang sekedar punya selembar ijazah? Berorganisasilah sebagai ibadah tambahan untuk mengaplikasikan ilmu mu, ini bukan perintah tapi sebuah permintaan mohon bantuan, lihatlah mimpimu disana dan lihatlah disana membutuhkan tangan dan perjuanganmu.
Akhirnya saya sadar, jika saya tak perlu menunggu koneksi untuk memberi tahu bagaimana harusnya pulpen itu diletakan. Saya punya media, saya punya tangan. Menulislah. Toh biar tidak sampai pun, akan ada orang yang mau membaca dan sama2 memikirkan nasib pulpen yang jatuh itu. Seperti tak perlu menunggu sempurna untuk mengajak orang lain. Karena Kesempurnaan mutlak milik yang Kuasa, kita hanya harus berusaha dan berdoa.
Doa penutup untuk tulisan yang hanya unek-unek, "Robbisrohli sodri wa yaa sirli amri, wah lul'uk datammilisani yapkohu kouli, AAmiin." Semoga bermanfaat, Wallohu 'alam bissowab. (AZ)

11 Maret 2013

MANUSIA

Standard

Air mengalir beriak-riak, menuju sebuah danau yang tak henti bernyanyi. Bahagia terpancar dari rona hening yang dilukiskan. Ah betapa nyaman dunia ini, dahaga terpuaskan, sejuk mengisi insang yang lemas.  Sudah berlalu jaman ke jaman, dan semua masih sama. Hanya beberapa ornamen yang mulai menghilang karena terganti sesuatu yang baru. Batu-batu yang dulu berjejal besar kecil telah dibelah kacau oleh tembok megah yang mencuat angkuh. Sama. Sama-sama keras bukan? Tanyaku.
Sesuatu terjadi, sore ini. Permukaan air yang menggigil, bergetar ketakutan menandakan jika ada sesuatu yang mengusik ketenangan dari harinya yang permai. Entah. Entah apa sebabnya. Apakah karena gerimis yang menangis? Atau karena sebuah makhluk yang tak mau diam. Yang jelas danau itu tak lagi tentram. Kesejukan tergadai uang dan bening air tergadai tahta. Semuanya, semua yang dimiliki alam digadaikan untuk dia.
Dia sebuah makhluk yang berdiri mematung diantara langit dan bumi. Dia makhluk yang setiap hari memicingkan mata diatas air, mencoba menggapi-gapai kaki kecebong di dasar danau. Kecebong yang tak henti menmbusakan cerita baru.
Penghuni kolam sontak mengerubungi gosip yang disampaikan kecebong. Termasuk sebuah keluarga kecil yang baru tiga bulan menikah, bapak ikan, ibu ikan dan anak ikan. Makhluk berekor yang membuat air blingsatan kini tengah menatap sebuah wujud yang aneh, ia menggoyangkan tubuhnya hendak mencerna apa yang ia lihat.
Bayangan yang tak jelas bentuknya, berdiri  terseok diayun-ayun gelombang air. Nampak seperti manusia. SEORANG saja: MANUSIA. Manusia yang mulai menyeringai, kemudian tertawa dan menampakan giginya. Pertanyaan menyembul, apa maksudnya dia bertingkah aneh. Manusia itu mencoba melebarkan mulutnya, lebar, lebar, semakin lebar dan hampir saja bibirnya sobek sampai ketelinga. Lebar, menjijikan dan bengis. Ia tak lagi berupa manusia, tepat jika dikatai monster, iblis, atau setan. Semua hal yang memiliki latarbelakang menakutkan. Anak ikan mengatupkan mulutnya, menyembunyikan bola matanya dan serta merta menangis. Ada firasat yang tak bisa terkatakan tentang bencana yang akan tiba. Bapak ikan dan ibu ikan pun tak bisa berkecipak, ia sadar bahwa dunianya telah sampai pada ujung cerita, hampir punah. Mungkinkah ini manusia yang diramalkan itu?
Manusia? Tak henti-hentinya tertawa. Dari hari kehari, giginya terus tumbuh seperti crodentia makhluk pengerat, namun manusia itu membiarkan giginya melukai bibir mungilnya yang merah. Hingga waktu membuktikan, daging mungil yang merekah itu terkelupas. Ada suara kesakitan, kelaparan, dan penghinaan, namun ia tak menghiraukan semuanya. Meskipun taring itu semakin hari semakin memanjang. Tidak tampak kepedulian. Tak ada usaha untuk  menghentikan, baik senyuman setan atau gigi panjang iblis yang melukai. Ia membiarkan bibir itu menganga dan bertinta. Tinta itu berwarna merah, menetes perlahan-perlahan tanpa hujatan atau hasutan.  Ia, manusia yang membunuh waktu ketika setiap tetesan darah yang anyir memenuhi dadanya. Ah tentu saja ia menikmati kebiadaban ini, bukankah itu yang ia inginkan?
Tinta kehidupan. Menuliskan kata merah dan mengalirkannya dengan deras. Kini kehabisan akal hanya untuk sekedar menetes, ia membaur seperti air mancur yang tak henti-hentinya mengais kacau, seolah ingin menguras kekuatan tubuhnya.
Ketika tinta memancar dan cukup menodai dadanya yang dulu suci dengan janji. Tinta merah itu mulai meloncat deras, ringan dan cepat menempa permukaan air yang bening di danau malang itu. Ajaib….sungguh ajaib…..! karena ia tak lagi berupa darah. Mencekam, semua tertekan ketakutan dan melarikan diri pontang-panting mencari peruntungan. Kecuali satu keluarga itu, yang tak sempat menggerakan tubuhnya menghindar. Terkapar. Kini darah itu menjelma menjadi racun yang licin laik minyak sayur yang gemerlap. Ia mematikan dan angkuh, tak bisa menyatu dengan apapun. Ketika derasnya bak lidah yang menyabit apapun sesukanya, ketika merahnya bak sikap berani yang pongah; tak tak takut dan tak merasa salah untuk melakukan segala hal.  Ia selalu ingin diatas dengan kemilau dunia yang ia tawarkan. Bedebah! Setiap hal yang ia syairkan akan mati, termasuk makhluk dalam riak air yang sendu, telah menjadi syair wajibnya. Namun mengapa ia tak menyairkan dirinya saja? Jika ia pun akan mati dan ditanya perilakunya yang serakah. Sudahlah, manusia tak bisa memahami kita.  Alam rusak dan binasa.
Ruh-ruh itu pergi, meninggalkan tubuhnya yang kaku. Satu keluarga: ayah ibu dan anak yang kini terbang menggapai langit dengan tangan yang saling menggenggam untuk meminta Tuhan bersikap adil atas hal yang menimpanya. Dalam doa mereka terdengar, “…manusia….”. (Annisa Zahraa)

14 Februari 2013

One sheets of Soul

Standard
"Huamhh :) Sik asik sik asik...asik asik asik.. kamu kembali..."
Kebahagiaan yang tak bisa dilukis hanya dengan segores kata "asik". Setelah sekian lama dia menghilang. Tak ada kabar, walau lewat angin sore atau hujan rinai yang sering turun akhir-akhir ini. Mencekam dan diam. Ah dua minggu lebih yang kulalui tanpa mu, seolah menyita perhatian ini. jujur, ada sebagain hati yang kecewa dan ah kata itu terlalu berlebihan mungkin: MERANA.
Aku merana? Wah rasanya malu jika harus jujur aku merana karena dia.
Hai, memang sejak pertemuan kita,, tanggal istimewa 24 dibulan Agustus: ada debar-debar ikatan halus aku dan dia yang tak bisa diterjemahkan oleh apapun.
"Niza.. Aniisa Zahraa," terangku mengulurkan tangan.
"+#@%^$#@" ia menjawab dengan malu-malu.
Aku mengerti apa yang ia ungkapkan, meskipun kenyataannya, hanya aku saja yang tahu, ini bahasa kita. Kesepakatan yang oetentik! secret!
Ku usap tubuhnya dengan perasaan sayang, "kulitmu halus^^"
dia mengangguk dan membiarkan jari-jariku menyentuh setiap lekuk kelembutan yang ia berikan, merona dan merona.
Ah, benar sungguh: Kalau sudah tiada baru terasa. Terasa jika ia telah melukis sebuah arti dalam kehidupan. Hanya dia yang paham tentang keadaanku selama ini. Meskipun orang sekitarku takan percaya hubungan kita telah sejauh ini. Dia satu-satunya yang sering kuberi berbagai keluhan, kegembiraan, dan tangisan, atau kejenuhan.
Malam-malam yang telah lalu, aku sering mencubit dan memijitnyanya berkali-kali, mungkin lebih dari sehari tiga kali.Ia tersenyum dalam kebiasaan tetap diamnya, walau harus bicara dalam bentuk melodi-melodi &*$#%@. Sangat menenangkan dan membahagiakan bukan?
Saat mentari menyembul dan senja datang, selalu begitu, hari-hari dia menemaniku, menungguku saat mengerjakan tugas, memberi solusi, menuntaskan kepenatan dan dan memenuhi kebutuhan2ku. ah sangat baik... sangat berjasa!
Sampai suatu hari ia nampak tidak biasa: jatuh sakit, ini pun karena salahku. Malam itu aku tak memperdulikannya, ia kudiamkan. Tak peduli jika seharian ini ia telah bekerja keras untukku, badannya panas, terkena demam. Aku pikir ini demam biasa, ternyata: Dia harus di operasi (Ya Rabb). Penyakit yang menggerogotinya telah begitu parah. Amat Parah, hingga ia tak lagi bisa bicara sekalipun untuk berkata ya. Selama ini aku tak sadarkah? Ada sosok yang kusepelekan, ada sosok yang teracuhkan. Sampai ketika dia sakit, aku tak bisa menggunakan indraku untuk mendeteksinya? bukankah sehari-semalam ia bersamaku?
amat berdosa sungguh, ketika dia yang membantu menyelesaikan tugasku: kuliah, organisasi, namun aku malah abai dan seolah sibuk dengan tugas-tugas yang sebenarnya selesai karena ada dia. Dia yang tak pernah mau mengutarakan kesakitannya padaku, ah pasti lagi-lagi karena ia tak mau membuatku sedih.....
Ah Tuhan beri aku kesempatan lagi untuk bisa bersamanya. Jangan ambil dia, kali ini sungguh ku tak akan menyia-nyiakannya lagi. Akan kurawat ia sepenuh hatiku, sepenuh jiwaku.
Tak akan lagi ada kata kasarku padanya, ia begitu berarti untuk kehidupanku... sembuhkanlah ia ya Rabb.

Kamis sore 14 Pebruari, ia kembali lewat gerimis yang menghujani Kota Tasik. Katanya hari ini hari berkasih sayang, inikah kadonya? Kado dari Tuhan. Ah sangat dramatis sungguh. Tapi ini bukan karena 14 Pebruauri aku yakin, sangat yakin, karena Allah SWT hampir menghadiahiku kado-kado kasih sayangnya, setiap hari, bahkan setiap detik. Tak terhitung sungguh hadiah Rabbku, padahal dosa itu tak lagi terhitung.
Sore hari, hujan lagi, seperti biasa ini adalah hal yang paling aku sukai, sangat aku sukai. Ia kembali tetap dengan senyuman dan kelembutan kehalusannya. Ingin rasanya terus memeluk ia, sampai tertidur. Ingin rasanya terus menciumnya sampai terlelap. Rasa syukur pada Mu ya Allah, ia telah sembuh dan kembali. Aku kini merasa telah lebih siap menghadapi hari dan setumpuk tugas yang menungguku. Terimakasih ya Allah, engkau yang memenuhi kebutuhanku bukan keinginanku.
Laa haula wa laa kuwwata illa billah...^^ :)

Oh si merah: my notebook aku tak akan lagi membuat kamu jadi sakit.
kangeunnnnnnnnnnnnnn... asik asik asik, temani aku lagi ya?
terimakasih untuk RS. Planet Computer yang telah dengan sukses membedah dan mengoperasi si merah notebook tersayangku, apalagi dengan gratis!!!
Huamhh senang, senang, senang!!! ah ternyata Bahagia itu lahir setelah menderita dulu dua minggu hihi. @NIZA


14 Januari 2013

Tuhan Cinta Hambanya yang Suka Menangis

Standard
judul itu kupilih bukan tanpa pertimbangan.
mungkin karena aku salah satu orang yang sering menagis jika menghadapi sesuatu yang menyedihkan (-_-)
biarlah, biarlah, biarlah, biarlah, terserah, aku tahu Allah mencintai hambanya yang sering menangis. biar dikata cengeng juga! Gapapa.
Ada duka yang kupendam, bukan karena semua yang telah menimpaku, bukan karena menyesali Takdir Allah terhadapku. bukan sama sekali. bukan!
aku menyesali telah bersikap demikian buruk, dan tak bisa menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya. banyak orang yang telah aku sakiti.
Ya Allah, kemarahan ini tidak pada tempatnya. aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. semua seolah SALAHKU dan MEMANG ini salahku.
Sore itu, ketika sedang berjalan kutemui seekor kucing yang hampir mati.
Ia mati karena dua menit lalu seekor sepeda kumbang melindasnya tanpa sengaja. sang pengemudi sepeda berkata, "Ini salah kamu, karena kamu tiduran di jalan!"
"Sang kucing hanya menatap sayu si pengemudi sepeda."
aku tertegun melihat mata kucing yang merah, air matanya hampir melelh andai saja ia tak mampu membendungnya dengan segera.
Aku melihat, si pengemudi turun dari sepeda yang dikendarainya, "mengambil si kucing dan melemparkannya pada sungai yang hampir kering karena kemarau."
"INILAH CARA MENGAKHIRI PENDERITAAN MU KUCING SAYANG"
aku menghela napas.
ini bukan lagi masalah siapa yang salah?
ini masalah siapa yang punya hati.
Orang baik dia tidak akan pernah berkata untuk memojokan orang lain, atau mengatai yang memojokannya. dia akan tertegun dan melihat dirinya "Astagfirulloh............"
Mungkin aku juga seperti pengayuh sepeda itu, melakukan sesuatu penyelesaian dengan dahsyat............ mengakhiri masalah dengan melemparkannya!
ah Aku menangis, menangis lagi, ya Allah Engkau tahu aku sering membuang-buang air mata ini. aku buang begitu dengan cuma. Adakah engkau masih menicntaiku? Astagfirulloh, maafkan hamba yang dzalim....

senja ini meliputi hati
merona jingga mengelabui
aku lelah Tuhan

Tangis ini tak ada ujung
Sendu ini tak ada habis

Hujan itu berakhir dengan pucuk hijau
yang menyembul disela tanah yang kotor

aku berharap..
aku berkeinginan...
akupun begitu adanya, hujan yang menumbuhkan kecambah

ya Allah,,
Engkau mencintai hamba yang suka menangis bukan? terimakasih atas jawaban Mu duhai cinta yang tak pupus.......
(padepokan UPI Tasikmlaya, 14/1/13, 16:28 WIB) @AZ


5 Desember 2012

Si Merah: My Notebook

Standard

Alhamdulillah nikmat Tuhan yang agung, tepatnya hari jumat tanggal 24 Agustus 2012, sebuah note book cantik berwarna merah resmi jadi sahabat baruku. Proses pembelian yang membuatku sungguh merasa mang-mang, uang didompetku hanya sekitar 3,07 juta, dan harga si merah ini….? Aku harus memberi mahar 3,049 juta.
Awalnya aku akan membiarkan si merah ini merana, namun dengan bersungguh-sungguh, teman hatiku sang calon mantan memberikan kekuatan agar aku memilih si merah ini. Ahhh sudahlah dan tanpa OS notebook merah ini  resmi ku bawa pulang.
Aku telah sepakat  memberikan mu sebuah nama. Nama ini akan menjadi panggilan untukmu duhai sahabat yang akan jadi saksi perjalanan hidupku. Apa ya nama yang pantas untuk mu? Ya betul sekali aku menamaimu Si Merah. Kamu tahu mengapa merah? Karena aku ingin jiwa ini bergelora seperti halnya kobaran api yang menyalak setiap risuh kehidupan. Lagi pula engkau berwarna merah. Mulai saat ini bantu aku ya, bantu aku untuk terus menulis. Aku tahu tulisanku biasa saja itu karena kita masih sama-sama belajar dan saling memahami.
Hari itu tepatnya tanggal 27 Agustus, aku meng-instal sahabatku yang cantik ini. Harga yang sangat cantik pula, 100 ribu dari dompet kumalku melayang. Alhasil sampai hari ini tgl 2 september aku hanya memiliki uang 10 ribu. Itu semua demi kamu notebook merahku.
Tak mengapa jika untukmu, aku ingin yang terbaik untuk si merah, karena aku selalu menggunakannya siang malam. Ia bagai pengganti sahabatku keluargaku yang nun jauh disana. Ah si merah…..si merah…kau begitu cantik.
Karena Si Merah ini tepat tanggal 04 Desember, cerpenku untuk kali pertamanya dimuat… Horee.. thanks ya, mungkin jika gak ada kamu aku tidak bisa menuliskan hari-hariku dan di share disini. Hohommhh rasanya seneng banget, aku akan jaga kamu!
Aku tahu meskipun sekarang usiamu sudah empat bulan, dan sudah layak minta diselamatkan hahamh kaya bayi saja. Tapi kamu tak pernah meminta itu. Tak pernah merajuk. Meski semalaman aku menggunakanmu untuk menghandle semua pekerjaanku, tak mengenal waktu, pagi-pagi, siang, sore malam. Ketika aku galau, dia menyemangati dengan suara merdunya lewat media winamp-nya. Ahhh Dia Luar Biasa….!!!

1 Desember 2012

Someone Like You

Standard
I heard
That your dreams came true.
Guess she gave you things
I didn't give to you

Old friend
Why are you so shy?
Ain't like you to hold back
Or hide from the light

I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn't stay away, I couldn't fight it.
I had hoped you'd see my face and that you'd be reminded
That for me it isn't over

Never mind
I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
"Don't forget me," I begged
"I'll remember," you said
"Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead."
Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead,
Yeah.

 
Yes!! Right!!
Saya tahu, anda semua sudah kenal itu lirik lagu apa?  Someone Like You by Adelle. jika melihat liriknya yang sendu itu bukan bagian saya untuk mengupasnya. sudah barang tentu semuanya pada tahu, lagu ini berkisah tentang seseorang yang ditinggal menikah oleh sang pujaan hatinya. 

yang paling menarik untuk saya cermati disini adalah bahwa keikhlasan untuk melepaskan seseorang, siapapun itu, mungkin seseorang yang telah meninggalkan kita selama-lamanya adalah hal yang paling mujarab dilakukan agar hati menjadi tenang. 

semua orang akan meiliki masalalu, baik indah maupun buruk. masalahnya apakah kita selalu menjadikan masalalu itu halangan? apakah kita menjadikan masalalau itu beban? atau malah mungkin terus menerus menyesali masalalu dan berharap bisa kembali kemasalalu itu dan akan memperbaiki sikap kita pada masa itu. yups, andai kita punya doraemon yang punya alat menghentikan / memutar kembali waktu its Oke. nah buktinya sekarang kita hidup tidak dalam kartun di TV itu. Real, kehidupan nyata. Kita akan sangat merasa jauh dengan masalalu itu.... sangat jauhhh karena mustahil mengulang kembali detik yang telah terlewat.

Imam Al-Gozali pernah ditanya, hal apakah yang paling jauh? Beliau menjawab Masa lalu, karena satu detik berlalu itu takan bisa diulang, dia jadi masalalu yang menjauh selam-lamanya. So, apa yang mesti kita kerjakan? sudah ikhlaskan saja semua masalalu. baik kehilangan seseorang, orang tua, sahabat, kenangan menyebalkan, dsb..... jadikan semua itu cermin untuk tindakan kita selanjutnya. itulah alasan mengapa sejarah perlu dipelajari, agar kita tahu hal yang harus dibenahi, kita tahu hal yang harus dilakukan.. kunci kemenangan, dan lubang kelemahan. bangun, seka air mata, singsingkan lengan, berazam, maafkan diri sendiri, ikhlaskan semua hal yang telah menimpa kita dan mulai teriakan, Masa Depan I'am Coming!!!!

sesunggunya setiap perkara itu baik, sesunggunya setiap perkara itu indah. Allah menjajikan kemenangan setelah kekalahan, Allah menjajikan kemudahan sesudah kesulitan. Lakukan yang terbaik hari ini. 

Ikhlas seperti lagunya Adelle.... Good bye masalalu, a mirror of life. @Annisa Zahraa