16 November 2013

Catatan Harian Zahraa (Annisa Zahraa Bidadari Allah)

Standard


 Mengedit sebuah karya, seperti terjerumus kedalam karya itu sendiri. Mengaduk-aduk perasaan, menyelami kata dan isyarat maknanya. Memang asyik, tapi melelahkan jika tidak sepenuh hati.

Di pagi buta ini, aku telah duduk dan siap kembali menyabik-nyabik karya. Peralatannya sudah terkumpul, pisau pikiran yang focus dan tajam, dua cawan yang mengimpun darah salahnya, dan sedikit penghilang sakit, kopi hitam manis. Mimpiku untuk sebuah organisasi kepenulisan: membuat sebuah buku perdana, “Antologi Cerpen” menjadi pemicunya. Buku ini harus “harus” terbit sebelum masa kepercayaan ini berlalu. Sebelum mentari pergi dan hanya nama yang dijadikan pajangan untuk dikenang. Sebelum 05 Pebruari nanti.
Dalam hidupku, inilah satu-satunya organisasi yang sangat kunikmati perjalanannya. Sangat terasa hari-harinya, mulai dari nol saat ada tekad untuk merubah haluannya, mulai dari mengandung dengan rasa bebannya dan sampai saat anak itu telah lahir, kini sedang belajar mengunyah kata….dan mendengar banyak bunyi.
“Semangat Zahraa….!” Bisik bathinnya sendiri.
Ada banyak cara Tuhan untuk menguji mimpinya ini, telah banyak tangisan yang ia berikan untuk melahirkan mimpi ini. Terluka memang, ada. Tapi di sisi lain, Tuhan tak pernah berhenti mengirimkan kecupan-kecupan penyemangat hatinya. Tuhan berikan ujian sepaket dengan cara penyelesaiannya, Tuhan berikan sakit dihati sepaket dengan obat pelipurnya, Tuhan berikan panas sepaket dengan kesejukannya. Tuhan berikan kesempatan ini sepaket dengan akhir yang pasti menyenangkan. Yakini itu Zahraa.
Baru empat cerita pendek yang ia rampungkan dan terasa sempurna baik dalam pemilihan kata, penulisan kata, tata letak, dan tanda baca. Dan masih ada 21 cerpen lainya mengantri untuk dibedah.
Ini bukan pertama kalinya ia terus mengotak-atik cerpen ini. Namun selalu saja ada yang kurang lengkap di matanya. Zahraa memang menginginkan yang terbaik untuk karya pertama ini, tak ingin ada kesalahan pun luput dari pantauannya. Tak ingin, bahkan satu koma atau titik pun harus berada pada tempatnya.
November, bulan ini terlalu cepat berjalan kah? Ataukah mimpinya yang berjalan seperti keong, amat sangat lambat? Mimpinya untuk menerbitkan dan melounching buku antologi cerpen  telah ia rancang sejak Juni lalu. Dan memang jauh dari perkiraan, jika prosesnya akan sedemikian lama dan rumit,  sampai dengan kini nasibnya masih terseok tanpa penyelesaian. Proses, ya proses.
“Zahraa, menulis itu bukan masalah bagaimana tulisan ini cepat selesai dan buku segera jadi. Tapi  menulis itu bagaimana kamu menghasilkan karya yang baik, yang berkualitas, yang bukan sekedar tumpukan kata, yang bukan hanya berisi kata-kata sampah tak guna.”
Astagfirulloh, Subhanalloh, tamparan yang keras, tapi rasanya nasihat ini begitu menyejukan J. Nasihat seorang tua, seorang kakak, atau seorang pemerhati, atau seorang kawan kepadanya.
Benar, proses menulis itu jauh lebih indah untuk dituliskan. Benar proses menulis itu jauh kebih mengesankan dibanding menikmati tulisan dan berkata-kata rumit.
Kini tak ada lagi kata “main-main” dengan proses. Kini tak ada lagi kata “asal jadi” dalam proses. Kini tak ada lagi kata “menyerah” dalam proses. Proses bagi Zahraa seperti daur yang tak henti-henti yang harus diperjuangkan dengan keras dan penuh perasaan. Proses, kata ini begitu nikmat jika disandingkan dengan kata hamasah. Proses dan hamasah. Satu paket. Aku dan kamu satu paket. Baca dan Tulis satu paket. Cinta dan Benci satu paket.
Zahraa..
Satu paket tulisan ini, naskah ini telah kugauli setiap malam, setelah hari-hari lalu kuabaikan ia, kubiarkan sepi sendiri tanpa pemenuhan harapan.
Tanggal 22 November ini, sore hari mudah-mudahan mendung, Zahraa berniat bertemu dengan orang yang akan menjamah paket tulisannya lebih jauh di Bumi Siliwangi sana. Yang akan menerbangkan kata dan ceritanya seperti kunang-kunang dimalam pekat. Yang akan membuat dan menyuguhkan tarian untuk para pecinta hujan, langit dan senja (adik-adik). Yang akan memberikan jawaban atas kegundahan hati para pujangga.
Naskah ini, satu paket, telah kububuhi cinta. Setiap subuhnya kujejali ia dengan  bumbu-bumbu kopi hitam manis dari cangkirku. Naskah ini akan segera terbit akhir November ini, dan segera ku lounchingkan dalam gemerincing rindu awal Desember. I will make it happened!
Keindahan dibulan Desember akan terbit. Daku merindu. Biarkan hujan tetap datang, dan tanah gembira menyambutnya, dan pohon bunga rumput bernyanyi riang. Biarkan mendung mendayung sendu, daku tetap berjalan dan menjelmakan asa di hatiku sendiri. Hanya ketika aku sendiri yang mengerti, dan  akan tiba pada akhirnya, merekapun akan mengerti: Jika langit basah bukan karena hujan, melainkan karena sesuatu yang masuk kedalamnya, kedalaman hatinya.
Zahraa masih berkutat dengan cerita yang menunggu ia bedah dengan secangkir kopi hitam manis. “Ini proses Neng, bersemangatlah. Penulis hebat lahir dari seriusnya ia berproses! Never Give up! Be Best, Be Strong, and Be Your Self. Tanpa citra dan penilaian makhluk. Keep Do Best for your God, your parents and for everyone who loving you.”
Zahraa tersenyum, diliriknya kalender dan jam dinding kamarnya. 17 November 2013, 07:00. Tepat, tanggal ini menakjubkan, dimana ia menyadari tentang hati, tentang pengorbanan, tentang sakit, tentang keluarga, tentang cita-cita.
Tanggal ini pula dia dan seorang sahabatnya bermimpi: Menjadi KAYA. Hehehe J
KAYA Hati, Kaya Harta, Kaya Harti, Kaya karya. Aamiin.
Allahku, Rabbku, Tuhanku yang Maha Lembut, Zahraa tersenyum memanggil-manggil nama Tuhannya. Terimakasih ya Allah, hari ini begitu melegakan. Cintamu bukan cinta yang lain, akan kujaga untuk senantiasa dan selamanya mengisi hari-hariku, menjadi penyemangatku, menjadi inspirasi setiap tulisanku. Menjadi cinta yang kudendang disetiap malamku. Biarlah hanya hati yang mengerti, ampuni kelalaian selama ini. Saat ini Engkau pasti tengah mengawasiku, selalu mengawasiku, betapa sejuknya^_^. I’am everything I’am, because You love me.....
Rancabango, November di pagi hari.

WANITA DALAM POLITIK

Standard
Dinukil dari buku : fiqih wanita 4 Madzhab. Dr. Muhammad Utsman Al-Khasyt.
 
Allah berfirman dalam surat At-Taubah (9) ayat 71, Allah memposisikan sebuah komunitas (masyarakat) sebagai sebuah amanah yang harus diemban  setiap mukmin dan mukminah yang mendambakan “cahaya”. Allah menetapkan bahwa masing-masing dari mereka sebagai penanggung jawab atas amanah tersebut, tidak ada pengecualian, baik laki-laki maupun wanita. Tentu saja, seorang  wanita tersebut berbuat masih dalam koridor yang sesuai dengan fitrah dan keilmuan wanita yang memudahkan mereka memahami berbagai persoalan dan menyampaikan kritik (amar ma’ruf nahi munkar) sesuai kemampuan.

“Man lam yuhtamma biamril muslimiina falaisa minhum”, barang siapa yang tidak memiliki kepedulian terhadap urusan muslimin, maka ia bukan termasuk golongan mereka.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Berangkat dari hak seorang wanita, tugas dan amanah yang Allah berikan yang merujuk pada ayat Al-Quran dan hadist di atas, maka merupakan sebuah hak untuk wanita menyalurkan suara dalam pemilihan atau mencalon dirinya untuk dipilih. Bagi wanita yang kompeten, mereka memiliki hak untuk mengkritik dan mengawasi, karena dengan dua pekerjaan itu tercakup amal ma’ruf dan nahi munkar. Hak ini juga termasuk dalam kerangka memperhatikan urusan muslimin, dimana Rasul menetapkan memperhatikan urusan muslimin sebagai bentuk afiliasi terhadap jama’atul muslimin. Apalagi jika untuk urusan yang khusus berkaitan dengan kaum wanita, dimana kaum wanita tentunya lebih paham dari kaum laki-laki.

Dibenarkan pula seorang wanita menjadi pemimpin dalam wilayah kekuasaan yang khusus seperti kepala sekolah, kepala rumah sakit, lembaga-lembaga social, atau bahkan lembaga-lembaga ekonomi. Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab sebagaimana diketengahkan oleh Ibnu Hazm bahwasanya Umar pernah mengangkat As-Syifa’ untuk menjadi kepala pasar.

Namun, ada wilayah kekuasaan yang dilarang bagi kaum wanita untuk menjabatnya, yakni yang berkaitan dengan al-wilayatul uzhma (wilayah kekuasaan yang sifatnya menyeluruh) yakni khilafah (termasuk didalamnya adalah menjadi PRESIDEN, RATU, dan JABATAN SEJENIS).

Rasululloh berkata: Layyufliha koumuw wala u amrohumum ro atan, tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan kekuasaan mereka kepada seorang wanita (HR. Bukhari, Tirmidzi, dan Ahmad).

Hadist ini dimaksudkan kepada cakupan wilayah yang sifatnya menyeluruh, bukan berkenaan dengan al-wilayah al-khoshshosh. Sebab Rasul mengucapkan ini adalah tatkala beliau mendengar kabar bahwa masyarakat Persia telah mengangkat Putri Kisra sebagai ratu mereka.

Nah, jadi sahabatku para wanita, wanita sholihah, para istri dan calon istri, para ibu dan calon ibu, telah terang benderang bahwa menjadi seorang politikus, perwakilan rakyat, atau sejenisnya dan bahkan menjadi pemimpin itu diperbolehkan, asalkan tidak dalam wilayah kekuasaan yang menyeluruh. Sesungguhnya Allah membatasi kita bukan karena tak percaya dengan kemampuan kita, namun karena kita adalah wanita teramat istimewa yang lebih banyak mendahulukan hati dan perasaannya dibandingkan akal dan logikanya J. Seorang wanita lebih peka dan sensitive, lebih lembut dan halus perangainya, maka berbuatlah dengan fitrah itu. Namun demikian, Seorang laki-laki, seorang pemimpin akan didampingi oleh seorang wanita yang kuat dan lembut, yang akan memberikan ketenangan dan kepercayaan kepadanya. Dan hanya wanita solhihah lah yang akan dipilih dan terpilih. Sebagaimana Khodijah Al-Kubra, marilah sahabatku kita berpolitik didalam rumah kita J mengarahkan, menenangkan, serta menyertai para suaminya untuk membuat keputusan yang Allah ridhoi, se-adil-adilnya dan sebijak-bijaknya. Bukan sebaliknya untuk memanasi suami untuk menumpuk harta dan menambah koleksi perhiasan L 

Wanita yang masih sendiri, yang menjanda, yang masih gadis… Mari berlomba-lomba mendapatkan jodoh seorang pemimpin, bahkan Presiden J agar secara tidak langsung engkaupun ikut mengurus ummat secara keseluruhan, dengan keringat, darah, segep perhatian yang tercurah menyertai para suaminya.

Dibalik kesuksesan seorang laki-laki soleh nan hebat, pasti ada seorang wanita tegar nan sholihah yang menyertainya dan mencintainya. Berlian tak pernah jauh dari tangan seorang kaya-raya.

Allah memasangkan segalanya sesuai dengan derajat kepantasannya.

Jadi wanita, berjuanglah dan bersemangatlah. Peranmu dirindukan, peranmu dinantikan, majulah, dan tunjukanlah bahwa dirimu selain bisa dipimpin juga bisa memimpin. Wanita bergeraklah dan tundukanlah pandangan-pandangan jahil itu, tak ada yang berhak menyepelekan dan meremehkanmu. Namun demikian tetaplah dalam rumahmu tetaplah dalam fitrahmu, dengan penuh kerendahan hati, tetaplah dalam naungan suamimu atau orang tuamu dalam ketawaduan. Wanita kau begitu special, Tuhan memuliakanmu. Bahkan karena cintanya kepadamu, Allah mengabadikan mu dalam titah dan sabdanya, Ia namai “An-Nisa” bukan “Ar-Rijal”. Tersenyumlah wanita, wanita karir (pebisnis, guru, penulis, dokter, politisi, dll), wanita ibu rumah tangga (Ibu Negara, Pendidik Terbaik), wanita-wanita suci, mari memperbaiki diri menjadi wanita shalilah, kau satu-satunya perhiasan dunia yang paling MAHAL dan TAK TERBELI. Sekali lagi: ALLAH MEMULIAKAN MU karena kau amat sangat ISTIMEWA.

Ditulis oleh: Annisa Zahraa, pemerhati para muslimah J ehehehehe….
Tulisan ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan: Teteh mengapa sih ingin jadi istri PRESIDEN? Presiden loh the… ahahahha

30 Oktober 2013

27 September 2013

4 April 2013

1 April 2013

Sepenggal "Maaf"

Standard

Bismillah, Tuhan menurunkan manusia dilengkapi dua sisi yang berbeda, kebaikan hati dan kejahatan nafsu. Selalu berdampingan diantara keduanya, menyitir pilihan dan memain-mainkan sejarah. Banyak orang yang telah meremehkan dua hal ini, kebaikan dan kejahatan dibiarkan menjalar tanpa tahu mana yang harus dipupuk dan ditekan.
Kebaikan hati, ya kebaikan hati. Setiap orang sejahat apapun dia, yakinlah: bahwa dalam hatinya ada sisi baik walau sekecil biji zarah.
Namun banyak orang yang gagal memahami kebaikan orang lain. Misal: ketika marah pada atasan ia langsung mengundurkan diri, ketika marah pada sahabat langsung kirim pesan atau nge "wall" : Gua gak butuh loe lagi, atau gue benci sama loh, atau loe egois! dan berbagai cercaan lainnya. Naudzubillah...
Sudah, rem, stop, hentikan!!!
Cobalah lihat kebaikan-kebaikan ia sebelum kita memutuskan meluncurkan kata-kata itu.
Renungkanlah betapa banyak hal yang telah ia lakukan untuk kita, dan kita tak akan jadi apa-apa tanpa ada pengaruh dia sebelumnya.
Ya rabb betapa banyak kerugian yang diakibatkan beberapa kata karena nafsu itu. Bayangkanlah sahabatku, ketika saudara kita atau keluarga kita atau orang yang kita sayangi tiba-tiba wajahnya jadi merah karena marah atau malu, air matanya keluar perlahan, hatinya sesak, dunia terasa sempit, dan banyak hal lain yang timbul akibat perkataan itu seperti susah makan, susah tidur, susah segalanya. Betapa jahat kita? tak punya hatikah kita untuk memaklumi kekurangannya? Dan ternya kerugian itu tidak cukup sampai disana, tidak cukup untuk orang yang diberi kata, tapi juga berimplikasi pada diri yang memberi kata.  Hari ini Anda telah mengucapkan kata-kata diatas? Kata-kata kasar yang menyinggung orang? misal pada orang tua, teman sekamar, sekelas, seorganisasi misal (astagfirulloh), apa yang anda rasakan? Hidup tenang? Rido Allah ada nggak buat kita? Terus, bagaimana hukum untuk orang-orang yang bermusuhan lebih dari 3 hari?
Bismilah, untuk sahabatku yang saat ini sama-sama tengah menuju perbaikan, mari kita berbenah. Segera meminta maaf pada orang yang pernah kita kirim kata-kata pedas itu, lihat tangisannya dan rasakan jika kata-kata pedas itu adalah untukmu dari semua orang. Rasakanlah, setiap tetesan air mata itu tumpah karena kita, setiap isakannya adalah karena kita. Bagaimana mempertanggung jawabkannya dihadapan Allah? Masya Allah, ampuni salah dan dosa kami, ya Rabb.

12 Maret 2013

Adakah Sesuatu Dibalik Sesuatu?

Standard


Bismillah, andai ada sesuatu dibalik sesuatu seperti Tuhan memberi hikmah terhadap segala sesuatu. Itu bukanlah kewajiban kita untuk tahu apa hikmah dibalik narasi, yang harus tahu adalah syukur dalam segala posisi.
Heum Right! Ibaratnya saya melemparkan sebuah pena ke lantai, lantas saya bertanya itu salah siapa? Heiii itu salah siapa? Ko pena bisa tergeletak gitu aja dilantai, coba kalo ke injek kan sayang, terus gimna kalo orang yang menginjaknya jatuh kepeleset?
Betul memang saya yang melempar (andai saya mau mengaku itu juga). Terus? Manusia sebagai insan intelek yang bertahun-tahun menyelesaikan beban management fakultatif dengan nilai bagus lagi, harusnya bisa melihat sesuatu dibalik sesuatu. Mengapa kita selalu berfokus pada "masalahnya"? mengapa tidak berfokus pada "cara pemecahan masalahnya". Gak perlu ribut bukan, yang pasti ambil pulpennya, taruh pada tempatnya dan selesai. kalau kata Bapak Gusdur, githu aja kok repottt!
Saya pun sering begitu, melihat masalah melalui kacamata minus. Siapa yang bersalah, mengapa ia melakukan demikian, mengapa itu bisa terjadi dan kalimat mengapa lainnya yang sering saya indikasi sebagai perincian masalah. Termasuk pandangam saya saat melihat kasus Hambalang yang tak kunjung usai setelah menambah satu aktor lain (jenuh #@*). Lantas ketika hari ini ada kesadaran bahwa jangan lagi melihat siapa dan mengapa tapi "bagaimana cara menyelesaikan masalah itu?" Ah rasanya seperti ingin mengambil pulpen dan menaruh kembali pada tempatnya, tapi pulpennya itu bukan berada ditempat saya saat ini berada, tapi dibelahan dunia lain yang saya sangat sulit menjangkaunya, kecuali untuk menelepon atau sms orang-orang yang berada dekat dengan pulpen itu. Ah itu pun  saya tak punya koneksi, saya bukan seseorang yang punya kenalan penegak hukum atau lainnya yang bisa saya mintai tolong.
Wah kok malah ngelantur ke masalah itu, balik lagi ke posisi.
Melihat sesuatu dibalik sesuatu seperti melihat masalah dari sisi pemecahannya, menginspirasi saya untuk mengulas masalah organisasi dikampus ini. Kampus tercinta yang kita berada didalamnya, apakah akan menjadikannya dinamis atau statis. Kedinamisan ini tentu saja selain diindikatori oleh prestasi akademik juga oleh prestasi organisasinya. Organisasi seperti ibadah tambahan bagi seorang mahasiswa, apakah boleh dikatakan pelengkap? Beban mata kuliah yang saat ini didapatkan, sebagian dapat langsung diaplikasikan didalam organisasi sebagai medianya.
Seperti inikah?
Saat ini, saya belajar IPS tentang keterkaitan antara fakta, data, konsep, dan generalisasi. Saat diruang kuliah itu cukup jadi bahan diskusi, lantas bagaimana penerapannya di sehari-hari? Salah satu medianya adalah organisasi. Kita melihat bagaimana fakta minat berorganisasi saat ini di kampus, kita kumpulkan fakta2 itu bisa diperoleh dari pengumpulan data mulai dari wawancara, angket, pengamatan dan banyak cara lainnya. Lantas setelah pengumpulan fakta? Kita memperoleh data bagaimana sesungguhnya minat berorganisasi.
Nah kita apakan data ini? data ini kita olah untuk menghasilkan sebuah kesimpulan berdasarkan konsep-konsep yang telah kita abtraksikan dari data, baik berupa pendapat atau teori atau malah hukum (hukum berorganisasi mungkin hahahamh): misal "Minat berorganisasi di UPI Tasik ini cukup rendah." Cetusan itu muncul karena misalkan: orang-orang yang berada di beberapa organisasi ya dia lagi-dia lagi.
Lalu setelah dapat cetusan aneh itu, apa yang dapat kita lakukan? Ya jelas lihat sesuatu dibalik sesuatu. Problem Solving.
1. Kampus tidak mewajibkan seorang mahasiswa untuk berorganisasi di dalam kampus.
2. Kampus tidak membatasi seorang mahasiswa untuk ikut dalam beberapa organisasi di dalam kampus.
3. Mahasiswa merasa tidak punya keuntungan dalam segi material jika berorganisasi di dalam kampus.
4. Tidak punya waktu untuk berorganisasi didalam kampus.
dan banyak rentetan lainnya yang jadi jawaban mengapa, yang jadi jawaban bagaimana adalah kebalikan dari mengapa (untuk kasus ini).
Krisis pengkaderan dalam berorganisasi (pusing nyari penerus) dikarenakan minimnya minat mahasiswa dalam berorganisasi. Ah, mana tugas mahasiswa itu, iron stock ya dimanakah ia? Tugas mahasiswa selain jadi agent of change dan social control? Bagaimana akan jadi iron stocke jika kondisi di kampusnya pun begini adanya? saling tunjuk menunjuk dan nemlehkeun. Bukan saling berkompetisi untuk mengambil kesempatan sebagai bukti jiwa mudanya malah saling hujat.  Mengapa yang berjiwa muda malah lesu? Lihat yang tua-tua aja masih pada mau nyalonin diri di pemilu (contohnya, maaf)? Kebalik sama faktanya kan, beri aku sepuluh pemuda itu kini hanya pemanis pidato. Saya rindu bukti, bukti dari kata Bung Karno itu.
Jika ikut berorganisasi hanya untuk materi, popularitas, nyari jodoh, atau dekat dengan dosen biar nilai akademik bagus, ayo TOBAT! Gak papa lah biar ngikut istilah Pak Anis Mata, Taubat Nasional. Tapi benar itu 100%, saya yakin minat mahasiswa berorganisasi rendah karena gak tahu tujuan dalam organisasi. Hanya ingin untung, apa sih keuntungan saya berorganisasi? Hanya itu yag ada dibenaknya. (galak banget ya?). tapi gak pernah mau bertanya, apa yang bisa saya berikan untuk kampus dan organisasi? mental memberi yang belum tumbuh. Yups oleh karena itu ada sebuah teka-teki yang harus dijawab oleh kita bersama:
wahai Para Mahasiswa yang berjiwa muda, anda mau jadi mahasiswa yang sesungguhnya sebagai iron stocke atau jadi mahasiswa yang sekedar punya selembar ijazah? Berorganisasilah sebagai ibadah tambahan untuk mengaplikasikan ilmu mu, ini bukan perintah tapi sebuah permintaan mohon bantuan, lihatlah mimpimu disana dan lihatlah disana membutuhkan tangan dan perjuanganmu.
Akhirnya saya sadar, jika saya tak perlu menunggu koneksi untuk memberi tahu bagaimana harusnya pulpen itu diletakan. Saya punya media, saya punya tangan. Menulislah. Toh biar tidak sampai pun, akan ada orang yang mau membaca dan sama2 memikirkan nasib pulpen yang jatuh itu. Seperti tak perlu menunggu sempurna untuk mengajak orang lain. Karena Kesempurnaan mutlak milik yang Kuasa, kita hanya harus berusaha dan berdoa.
Doa penutup untuk tulisan yang hanya unek-unek, "Robbisrohli sodri wa yaa sirli amri, wah lul'uk datammilisani yapkohu kouli, AAmiin." Semoga bermanfaat, Wallohu 'alam bissowab. (AZ)

11 Maret 2013

MANUSIA

Standard

Air mengalir beriak-riak, menuju sebuah danau yang tak henti bernyanyi. Bahagia terpancar dari rona hening yang dilukiskan. Ah betapa nyaman dunia ini, dahaga terpuaskan, sejuk mengisi insang yang lemas.  Sudah berlalu jaman ke jaman, dan semua masih sama. Hanya beberapa ornamen yang mulai menghilang karena terganti sesuatu yang baru. Batu-batu yang dulu berjejal besar kecil telah dibelah kacau oleh tembok megah yang mencuat angkuh. Sama. Sama-sama keras bukan? Tanyaku.
Sesuatu terjadi, sore ini. Permukaan air yang menggigil, bergetar ketakutan menandakan jika ada sesuatu yang mengusik ketenangan dari harinya yang permai. Entah. Entah apa sebabnya. Apakah karena gerimis yang menangis? Atau karena sebuah makhluk yang tak mau diam. Yang jelas danau itu tak lagi tentram. Kesejukan tergadai uang dan bening air tergadai tahta. Semuanya, semua yang dimiliki alam digadaikan untuk dia.
Dia sebuah makhluk yang berdiri mematung diantara langit dan bumi. Dia makhluk yang setiap hari memicingkan mata diatas air, mencoba menggapi-gapai kaki kecebong di dasar danau. Kecebong yang tak henti menmbusakan cerita baru.
Penghuni kolam sontak mengerubungi gosip yang disampaikan kecebong. Termasuk sebuah keluarga kecil yang baru tiga bulan menikah, bapak ikan, ibu ikan dan anak ikan. Makhluk berekor yang membuat air blingsatan kini tengah menatap sebuah wujud yang aneh, ia menggoyangkan tubuhnya hendak mencerna apa yang ia lihat.
Bayangan yang tak jelas bentuknya, berdiri  terseok diayun-ayun gelombang air. Nampak seperti manusia. SEORANG saja: MANUSIA. Manusia yang mulai menyeringai, kemudian tertawa dan menampakan giginya. Pertanyaan menyembul, apa maksudnya dia bertingkah aneh. Manusia itu mencoba melebarkan mulutnya, lebar, lebar, semakin lebar dan hampir saja bibirnya sobek sampai ketelinga. Lebar, menjijikan dan bengis. Ia tak lagi berupa manusia, tepat jika dikatai monster, iblis, atau setan. Semua hal yang memiliki latarbelakang menakutkan. Anak ikan mengatupkan mulutnya, menyembunyikan bola matanya dan serta merta menangis. Ada firasat yang tak bisa terkatakan tentang bencana yang akan tiba. Bapak ikan dan ibu ikan pun tak bisa berkecipak, ia sadar bahwa dunianya telah sampai pada ujung cerita, hampir punah. Mungkinkah ini manusia yang diramalkan itu?
Manusia? Tak henti-hentinya tertawa. Dari hari kehari, giginya terus tumbuh seperti crodentia makhluk pengerat, namun manusia itu membiarkan giginya melukai bibir mungilnya yang merah. Hingga waktu membuktikan, daging mungil yang merekah itu terkelupas. Ada suara kesakitan, kelaparan, dan penghinaan, namun ia tak menghiraukan semuanya. Meskipun taring itu semakin hari semakin memanjang. Tidak tampak kepedulian. Tak ada usaha untuk  menghentikan, baik senyuman setan atau gigi panjang iblis yang melukai. Ia membiarkan bibir itu menganga dan bertinta. Tinta itu berwarna merah, menetes perlahan-perlahan tanpa hujatan atau hasutan.  Ia, manusia yang membunuh waktu ketika setiap tetesan darah yang anyir memenuhi dadanya. Ah tentu saja ia menikmati kebiadaban ini, bukankah itu yang ia inginkan?
Tinta kehidupan. Menuliskan kata merah dan mengalirkannya dengan deras. Kini kehabisan akal hanya untuk sekedar menetes, ia membaur seperti air mancur yang tak henti-hentinya mengais kacau, seolah ingin menguras kekuatan tubuhnya.
Ketika tinta memancar dan cukup menodai dadanya yang dulu suci dengan janji. Tinta merah itu mulai meloncat deras, ringan dan cepat menempa permukaan air yang bening di danau malang itu. Ajaib….sungguh ajaib…..! karena ia tak lagi berupa darah. Mencekam, semua tertekan ketakutan dan melarikan diri pontang-panting mencari peruntungan. Kecuali satu keluarga itu, yang tak sempat menggerakan tubuhnya menghindar. Terkapar. Kini darah itu menjelma menjadi racun yang licin laik minyak sayur yang gemerlap. Ia mematikan dan angkuh, tak bisa menyatu dengan apapun. Ketika derasnya bak lidah yang menyabit apapun sesukanya, ketika merahnya bak sikap berani yang pongah; tak tak takut dan tak merasa salah untuk melakukan segala hal.  Ia selalu ingin diatas dengan kemilau dunia yang ia tawarkan. Bedebah! Setiap hal yang ia syairkan akan mati, termasuk makhluk dalam riak air yang sendu, telah menjadi syair wajibnya. Namun mengapa ia tak menyairkan dirinya saja? Jika ia pun akan mati dan ditanya perilakunya yang serakah. Sudahlah, manusia tak bisa memahami kita.  Alam rusak dan binasa.
Ruh-ruh itu pergi, meninggalkan tubuhnya yang kaku. Satu keluarga: ayah ibu dan anak yang kini terbang menggapai langit dengan tangan yang saling menggenggam untuk meminta Tuhan bersikap adil atas hal yang menimpanya. Dalam doa mereka terdengar, “…manusia….”. (Annisa Zahraa)