28 April 2016

Simpang Siur

Standard
Waktu datang kepadaku, meminta banyak hal, dan aku tetap termangu...
Jatuh cinta, sesuatu yang tak ingin kuulangi, dan entah ..
Adakah kehadirannya telah memberiku sebuah kesempatan untuk berpikir ulang...
Ada jendela yang terbuka di pagi hari
Terasa segar udaramu menyeruak, menelusuri relung-relung
Menyusur ruang, dan sampailah tepat didepan kamarku
Mengetuknya perlahan, sangat pelan,

Lalu aku bangkit, memastikan ketukanmu yang terlampau halus,
Dan kau tersenyum amat lekat, meraih jemariku tanpa terasa
Udaramu menggigilkanku
Betapa terlampau jauh kau masuk
Dan aku mendapati diri sendiri
bahagia...

Esok hari adalah batas waktuku ada di sini, dan aku masih tetap tak bisa memaksa diriku sendiri menjadi super. Membereskan semua hal dalam sekejap, aku adalah yang tak mungkin mengerjakan segalamya dalam waktu yang amat singkat.

Merasakan jatuh cinta, adalah satu beban :) ...
Waktuku terlampau habis untuk tersenyum sendiri,
Lalu menjadi seperti gila membaca tulisan-tulisan

Tugasku entah lah lari kemana
Hatiku meluap
Jiwaku berlarian
Waktuku berlalu tanpa terasa...

Oh, tugasku bagaimana nasibnya?
Entahlah..
Janganlah kau menertawakanku...
Aku terlalu sibuk
dengan perasaanku sendiri...

Ingin membunuhnya, tapi selalu gagal. :(
Membuat gaduh
simpang siur.

17 April 2016

TIDAK MENGAPA :)

Standard
Cinta itu tanggung jawab! by Az.


Setiap hari kita bersapaan... denganmu yang tak tersentuh...
Setiap hari kita bersitatap satu sama lain, denganmu yang tak terjamah...

dan engkau masih mendiamkanku...
seperti udara...
seperti matahari...
dan sinarmu saja...
tepat menghangatku, setiap pagi...

apa salahku?

Sampai hari ini aku menjadi sebuah pohon tanpa akar, tumbang setiap hari
Sampai saat ini aku masih menjadi ilalang, terus bergoyang  terserah angin bertiup kemana

Tidak mengapa kah?
Jika sekejap malam ini aku beristirahat dari hal-hal yang telah menguras airmataku setiap selesai mengadu, lalu menumpahkannya di danau waktu lagi...

Danau yang kuberjanji padanya tak akan lagi membuang hal-hal lain,
Aku telah berdusta
Inilah hukuman untukku...

Sejak mula telah kuketahui ini adalah permainan yang sangat kotor. Menyukai banyak orang untuk melupakan banyak hal. Aku telah kalah sejak dalam pilihan. Ini telah terlanjur kutuai, Tuhan jangan hukum aku lagi, jangan Engkau hukum aku atas kesalahan-kesalahanku,... ampuni aku, ampuni.

Aku adalah seorang yang egois....
Bagaimana mungkin aku tidak egois, karena tak bisa menjaga hati?

Ketika perasaan itu terus mendesak ke ulu hati, lalu kutumbang, dan menemuimu dalam malu, sering kumohon, "Wafatkan aku dalam taubatku ini, jangan sampai diri ini jadi sebab rasa sakit orang lain, ah ya Allah wafatkanlah aku dalam tangisanku ini, jangan biarkan dosaku bertambah... Allah... sungguh aku tidak berputus asa akan ampunanMu, tapi kumohon beri aku sebuah jalan terbaik yang bisa kulalui, tanpa rasa sakit untuk semua orang. Apa yang harus kulakukan, agar setiap orang bahagia?"

Bahkan diri sendiri, aku tak berkuasa atasnya, aku adalah sebuah boneka, dan jelmaan.
Allah, misi hidup apa yang harus segera kutunaikan, apakah hidup ini belum selesai?

Tidak mengapa, engkau menangislah zahraa..
Dan jadilah kuat, seperti permintaan setiap orang.
Dan jadilah sabar, seperti permintaan semua orang.

Tidak mengapa, engkau menulislah zahraa...
dan jadilah yang tak terjamahkan, tak terjangkau, tak terkalahkan...
Jadilah engkau yang sibuk dengan amalan yang bisa mendekatkanmu pada cita-cita teragungmu,
membahagiakan ia yang telah tiada...
Apakah kau lupa?
apakah kau sibuk?

setiap hari, surat apa yang kau baca untuk menghadiahkannya pada ibu dan bapakmu?
setiap hari, amalan apa yang sellau kau dawamkan agar amal itu samapi kepada ibu dan bapakmu?
Kau seorang piatu
kau seorang yatim
balasannya bukan sekedar harta, mereka butuh kau jadi anak soleh...
berhentilah mengurusi hal yang tidak penting

perasaan itu bukan untuk kau tangisi lagi...
kau harus kuat, kau harus kuat, kau harus kuat...

Kuingatkan lagi zahraa: jangan kau gantungkan harapan pada selain Nya.
LURUSKAN NIATMU, PEJAMKAN MATAMU, MELONCATLAH, tidak ada yang lebih mengasihimu selain ALLAH. Lalu sayangi dirimu dengan tidak terjebak perasaan sendiri, berkasih sayanglah dengan banyak orang, dan jadilah diri yang bermanfaat hentikan arogansimu, kesombonganmu, mulailah kau tawadhu dengan dirimu, qonaahkan dirimu, tekan inginmu, dan tersenyumlah, tegarlah KAU. TEGARLAH ENGKAU!

KAU tahu? KEINGINAN KITA SERING MEMENJARAKAN DIRI KITA SENDIRI.
Pastikan kau tak lagi menginginkan apa yang tak pasti, kecuali kau inginkan dirimu jadi manusia yang baik.... bersemangatlah.. Allah mencintaimu, bersemangatlah... dan engkau adalah bidadari yang hanya akan ditemukan oleh seorang pejuang, tanpa engkau harus berjuang. tenanglah, perasaanmu bahwa kau rendah dan penuh dosa tak akan mengubah ketentuan Allah, ketentuan yang terbaik untukmu, soleha....

Jadi, sudah, hapus, hapus, sesal dan air matamu...
Mari berjalan bersamaku, melewati hari ke depan dengan lebih optimis, dengan cinta yang tak habis.
Aku adalah bagian dari dirimu, yang tak sanggup lagi melihat kau sakit terus menerus.
Aku adalah dirimu.

Zahraa, tersenyumlah :)

Dear, diriku yang sudah marah-marah dan mengamuk, makasih, saranghae :*
Aku tahu sejak dahulu, kau bagian dari diriku yang selalu menguatkan.
Ya, mari kita list tugas kita ke depan, dan kita akan jadi sibuk dengan hal itu, bukan?
Apa?
Tambah hapalan?
Mulai mengerjakan soal-soal TPA?
Menulis lagi, yang lebih serius dong?

Oke, jangan paksa dirimu terlalu keras, kau tulis saja apa yang kau suka.
Jika ada yang baca?
Jangan hirau, itu hak mereka kok! Maka tulislah yang baik-baik, solusi yang baik, semoga kita jadi manusia yang bisa sama-sama membaikan satu sama lain.

Selamat tidur :)

by Eli Nurlela Andriani untuk Annisa Zahraa, my soulmate, my self.
(17 April 2016).



15 April 2016

SEPASANG

Standard
Kita adalah sepasang
manusia yang tak saling mengenal
Lalu cerita kita dipersingkat
dengan kata sapaan

Aku mengenalmu
Dan kamu mengenalku

Catat baik-baik: ada sipat buruk, yang satu-satu akan diketahui.
Catat baik-baik: ada sipat baik, yang satu-satu akan diketahui.

saat semuanya telah diterima dengan kontan
dalam satu paket
dan sebuah buket

kita akan dituntut
menjaganya
agar
tidak lagi ada kata "tak saling mengenal" kemudian hari

Kita selalu menjadi sepasang
sepasang teman
atau sepasang doa
yang sejujurnya kita rangkai melalui Nya
dan memohon agar sampai

Singkatnya, agar kita sama-sama sampai, pada pemahaman terbaik...
bahwa apa yang kita jalani adalah media terbaik untuk belajar banyak hal
Lebih mengenal karakter kita, agar disempurnakannya kebaikan dan kebaikan...

Kita adalah sepasang manusia
yang ingin saling jatuh cinta, dan dalam ridhoNya.

29 Maret 2016

Berkawan

Standard
Disampingku, terlelap seorang kawan, Vira...
Betapa alamiah, tertidur dalam lelahnya ia melewati hari...
Allah, kekuatan apa yang terdapat di dalam hatinya, menyimpan segala macam file,
Malamnya menjadi lebih pendek atau panjang
Ia bisa tidak tidur seharian, atau lelap di awal waktu...
ada selalu ada
Permaasalahn diembannya
.....
Ada banyak hal yang telah ia lakukan, kadang disertai dengan rasa ingin tahu yang tinggi, yang kekanakan, yang lucu, atau hal yang benar-benar luar biasa...
.....
Aku mengamatinya detail,
Mengapa diantara kami sering sekali ada salah paham?
Ya, karena kami tidak sungkan lagi mengatakan pendapat satu sam alain
Kadang
Karena kekontrasan sifat diantara kita, bisa menjadikan masing-masing sebagai cermin..
Katakan saja aku orang yang paling senang "membuatnya menangis"
Hatinya terlampau lembut, dan karena itu sering aku gemas berbicara padanya...
----

Kini amanah baru di pundaknya sebagai BP sebuah komunitas yangg cukup besar...
Dan ia, terlihat sangat bersemangat dengan amanahnya tersebut...
----
Dan ia yang selalu minta didoakan, dan aku yang ingin diam-diam saja...
Dan ia yang unik. Semoga Allah menjagamu, aku, kita... tidak ada visi berkawan kita selain terus ingin saling mengingatkan tentang Allah.

Dan kadang aku yang paling sering tergelincir....

Ya, jika sudah menikah kelak, aku sering berpikir, "Apakah kami akan tetap seperti ini?"
Kita saling menemukan, satu sama lain.
Selalu temukan jalan untuk kembali berkumpul, sejauh apapun mencipta jarak.

Ataukah mungkin kita akan terus menyambungnya hingga tua keriput, atau satu diantara kami meninggal?

Ini adalah amanah Allah, aku mesti mampu melengkapimu, karena kau tela sempurna melengkapi kekuranganku...
Baiklah ya: Biar kau senang lah: Uhhibbuki Fillaaah.

Az
(T_T)

28 Maret 2016

Bagiku dan Selalu Begitu

Standard
Bagiku, keringat selalu jadi semacam bahagia....

Hari ini selalu ada bahagia, alhamdulillah tidak marah ke anak, tidak kesal, tahu kenapa? Karena bundanya sedang sariawan, walau kesal cukup istigfar, tidka ada kekuatan buat marah dan berteriak.... hehehehe

Ingat, beberapa hari lalu, bunda ketuk papan tulis berkali-kali dengan tongkat ukuran 30 cm, benar-benar lepas marah... selelsai itu menyesal... berusaha mengembalikan keadaan kelas yang mencekam menjadi hingar bingar lagi...

Oke, aku selalu berekspektasi bahwa kelas yang kondusif adalah kelas yang rapi, yang ketika guru menerangkan siswa bersodekap dengan antusias tekun dan penuh minat... aku sellau mengharapkan itu sebagai kondisi yang amat ideal...
Lalu jika pada nyatanya, anak malah sering berlomba dengan bundanya ketika bersuara, bahkan tiga kali menerangkan tak masuk juga karena anak sibuk dnegan kesibukannya, mulai dari mengganggu teman sampai berteriak dan berlari sana-sini. Baiklah...

Ada seorang anak mogok sekolah, "Mah, aku gak mau sekolah, di sekolah ada teman yang suka ganggu (banyak) ketika belajar, aku jadi gak fokus!"

Bagiku, kenakalan seorang anak adalah boleh, ya boleh, tapi... "nakal yang tidak mengganggu orang lain ketika belajar."
Ketika aku memiliki konsep ini, kelasku benar-benar diuji, beberapa yang nakal ya.. memang karena mengganggu teman yang lain, kadang suka kasihan kepada yang diganggu, "sabar ya nak, inilah jihadnya belajar harus kuat menghadapi teman yang Ma sya Allah, harus kita sayangi daripada dijauhi...."

Beberapa guru mengatakan kelasku kelas yang cukup kondusif, dan aku mengerti satu per satu sipat anak, bagaimana beberapa anak cukup membuat hari-hariku semakin berkeringat. Ya, mereka telah mengujiku, menguji kesabaranku, menguji ketulsan dan keikhlasanku, menguji prinsif hidupku....
mereka sebenarnya baik, dari rumah mereka adalah anak-anak yang baik, tidak ada satu pun anak yang tidak aku sayangi...

dulu sebelum ini, aku pernah mendeskriminasikan seorang anak, "Ya Allah kok ada anak begini?"
Tapi kucoba dekati (walaupun mulanya sangat takut dan enggan karena anak sering beraroma khas), mengaji bersama, diberi tambahan bersama, makan bersama, dan menemui ibu dan bapaknya.... akhirnya tumbuhlah cinta kepadanya, aku mencintainya kini, bahkan walupun ia tak menuliskan satu hurup pun hari ini, aku akn terus memakluminya, saat tiba-tiba hari itu ia dapat menyelasiakan tulisannya dengan susah payah, selesai satu wacana ditulisnya... walau tulisannya tidak terbaca, ma say Allah sennagnya....

hal yang menyenagkan memang sellau dari hal yang sulit seklai pada mulanya.

AKhir-akhir ini, aku merasa gagal menjadi diriku, mulai tidak nyaman dnegan pembelajaran di kelas, aku tidak cukup tahu untuk beberapa materi hapalan, ah apalagi mereka... aku gagal saat mereka bertanya dan aku menjawab tidka tahu...

aku menjadi manusia robot tanpa inovasi, tidak kreatif, dan membosankan, coba kalian pikir, aku harus datang ke kelas meneteng buku yang kubuka itu lagi itu lagi... ayo buka halaman sekian, kita belajar ini itu...

kemana larinya media? kemana larinya metode?
kemana?

inilah kejenuhan yang tidak hanya dirasakan olehku, tapi juga oleh anak-anakkku...

Bunda merasa gagal menajdi guru yang baik.

astagfirullah 'adzim...

Bagiku memang hal seperti ini sering datang, lalu aku ingin berhenti, dan ketika sudah berhenti lalu ingin skeolah, ada apa denganku ini?

Dua hari lalu, aku berkunjung ke rumah kakak, dengan anaknya 3,5 tahun 2 orang, aku menyaksikan bagaimana aktivitas anak sangat menjenuhkan, sehingga mereka mengganggu ayah ibunya... mereka merengek, mereka mencari perhatian dengan menangis minta jajan, atau menyebutkan barang-barang yang ingin mereka miliki...

ya, anak-anak kekurangan aktivitas belajar bersam aorang tuanya...
aku melihat sebagian anak yang lain beruntung, memiliki ayah atau ibu yang tahu "anak memerlukan aktivitas" yang menyenangkan...

aku sering merasa gagal ah kalau aku jadi ibu bagaimana aku, dan apa yang bisa aku lakukan pada mereka anakku...

Hari itu sedang keranjingan baca buku, dan keponakanku terus mengajakku bermain, bertanya ini itu, dan lainnya, mencari perhatianku, dan aku bibinya malah merasa terganggu dna asik dnegan bacaanku... setelah itu menyesal... aku telah salah...

Ya mungkin tidak tersirat kekecewaan mereka., tapi aku telah menyiakan masa emas mereka...
Hana dan Qoni berkali-kali bertanya seperti ini: "Bibi, bibi teh nuju naooooooooonnnnn?"

"Bibi nuju baca soleha..."

sudha sepuluh kali bertanya, aku baru tersadar itu bukan hanya sekedar tanya. Bagiku tentang anak-anak, selalu begitu: tahu bahwa mereka memerlukan yang terbaik, dan aku sellau salah memilih sikapku padanya... Allahu Rabbi, teguhkan dan kuatkanlah.

(Az, 28-03-2016)


11 Maret 2016

Pagi yang Hectic

Standard
Kau tahu aku sedang apa hari ini?
Selesai print skripsi bab 4 dan lembar pengesahan proposal bina desa, abi sempat ingin meramaikan blog, sambil cuci piring dan sebelah kiri gagang sapu...
Coba pekerjaan macam apa ini, jam 08.30 maunya udah siap berangkat ke kampus.

Okelah  hari ini amat menyenangkan. :)

28 Januari 2016

Rp 0 Biang kerok

Standard
Sebelum ini, sempat sekali berpikir tentang sesutau yang wah, tentang tema menulis di blog. Tapi ketika sudah ada waktunya kini menulis, sesuatu yang wah itu entah menguap kemana...
Sebagiannya sudah tertindih lagi oleh bagian-bagian lain, peristiwa sehari-hari yang bisa dibilang begitu cepat bergulir...
Hari kemarin alhamdulillah bisa merasakan lagi menangis sambil abwa motor, tenang.... pasalnya bukan patah hati...
kemarin sore sengaja berkunjung ke salah satu temanku, bercakap tentang sesuatu yang tak bisa kukendalikan,,,, mengapa mulut ini begitu mudah mengucapkan penghakiman kepada seseorang yang bahkan sebenarnya ia memiliki hati yang mulia...

Ku katakan padanya, sesuatu yang melukainya.
Aku tak suka tulisannya di mading tentang Rp 0....
aku juga tak suka status fb nya tentang profesional itu...
Lalu kuutarakan sesautu, dan ia menangis,
Aku merasa kejam telah jadi hakim
kesalahanku adalah terlalu ikut campur....


Ia jelas menangis di bahuku, dan aku menangis, "Kok dunia ini kaya kejam banget ya mempermainkan perasan kitanya, keterlaluan!!!!!"

Posisiku memang terjepit.
Satu diantara dua yang tak bisa saling terbuka...

Satu merasa benar. Dua juga sama.
Kalo sudah begitu, tak akan ketemu titik selesai. Kecuali mengusahakn salha satu dari keduanya untuk merasa diri salah, dan mau memperbaiki diri. Itu yang sedang kulakaukan, kepadanya, karena tahu posisi ia (ruhani) lebih kuat dari yang lainnya....

Dan ia kembali bbm, dengan cerianya menyapaku, syukurlah ia sudah sembuh!
Semoga kita dihindarkan dari pengaruh syaitan yang emebisiki kesalahan.


13 Januari 2016

Terbaik

Standard
Menjadi pemeran utama kadang tak enak, bahkan bisa menjadi beban pula.
Padahal kita sejatinya satu-satunya, pemegang lakon utama panggung hidup kita sendiri, bukan?
Selepas wisuda kemarin tanggal 15 Desember 2015, kemarin? bukannya hari ini sudah Januari tengah Bu?---kehidupan masih belum bnayak berubah, masih tetap sama, ya sama berjalan, sesuai tatanannya...
Satu-satunya yang berubah adalah status seorang sahabat, asalnya lajang menjadi "sudah menggenap".
Lagi-lagi membahas ini Zet?
Sebenarnya sudah sangat giung dengan tema menggenap, tetapi baiklah menjadi tetap bersikap netral.
Oktober lalu, setahun lalu, sempat ingin memberikan kesempatan pada seseorang untuk menjalani proses yang serius, tetapi desember awal kemarin, proses itu dengan penuh kesadaran sepenuhnya kuhentikan, lalu mengapa?
Pada mulanya seorang itu datang dengan maksud mulia, menggenapi.
Lalu i'tikad itu mulai berpudar seiring waktu, tak kunjung pula ia menentukan sikap, yang jelas ia malah meminta belajar bersama.
Bukan hanya belajar bersama, seolah aku pun mesti terus berkomunikasi dengannya.
Demi Allah, bukan itu yang diinginkan oleh hatiku.
Maka tak boleh ada yang bertentangan dengan syariat sesuai yang kupahami, walaupun seringnya ia berkali-kali mengatakan agama itu luwes.
Namun maaf, untuk masalah satu ini, keluwesan itu tak berlaku.

Aku benar-benar menginginkan keberkahan, jalan yang berkah, jika harus menyakiti diri sendiri pun, tak mengapa.
Jalan itu terus kulalui, seiring waktu....
Semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik, dan semoga niat ia menggenap menyampaikannya pula pada orang yang lebih baik daripada diriku yang fakir ilmu, fakir amal ini, dan lebih siap tentunya.

Januari menjelang, dan sempat pula menatapnya dengan sedikit ragu, "Allah ampuni atas ketidak mampuan diri melakukan yang terbaik".

Yang kupahami itulah yang mesti kujalani.


4 Desember 2015

Jika Kita Memutuskan Untuk Tak Memutuskan Apapun

Standard

Sederhananya,
jika orang yang kau cintai pergi,
bukan ada yg salah dgn mu,
tapi ada orang yg akan datang,
dan ia lebih siap mencintaimu....

Sederhananya,
yang pergi akan kembali,
mungkin dgn nama yg berbeda....

Syukuri saja, tak ada yg salah dgn mu, tetap perbaiki diri.

--------------------------------------------------------------------------------------------------

setiap manusia mesti bersyukur, Tuhan titipkan sebuah kemuliaan dalam dirinya, sesuatu yang benama "perasaan".
Perasaan yang datang pada kita, memainkan diri kita berlarut-larut, atau perasaan yang membuat sesuatu menjadi lebih indah, bermakna, lebihterasa ada "ruh" nya.

------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari-hari yang kita lewati telah tertulis dalam kitab induk yang nyata, akan terjadi. Pun dengan tulisan ini. Ada kalanya kita hanya harus memilih untuk melewatinya dengan bahagia, atau dengan hati yang keruh. Menulis dengan kekesalan, atau dengan pengharapan.
Itu namanya sebuah keputusan, memilih.

Tetapi ada sesuatu dianatara dua, anatara memilih, anatara tidak memilih. Ada keputusan untuk tak memutuskan apapun.
Benar, itu yang terjadi denganku,
Mengetahuimu, dan segenap masalah yang kau sebut aku tak akan mengerti, dan kau sellau tak tuntas. Rasa jengah membuatku untuk lebih hening, membiarkan belantara diriku hiruk pikuk.....
 Akhirnya, aku memvonis diriku, tak memberi keputusan apapun, ya apapun, agar mengalir kepada Nya.

Duhai Tuhan, inilah diriku, segenap kurangku
Kukembalikan segala apa yang tak pernah kumiliki, pada awalnya, akhirnya...
Engkau urusi diriku dari hal yang tak kumengerti dan kumengerti.. banyak hal yang tak kupahami, tapi kuyakini.

Az.


Rumah bernama Entah

Standard
Ada sebuah rumah bernama entah, dibangun di atas tanah bernama kemungkinan. Berdiri sendiri di tengah padang rumput... sekelilingnya hutan belantara, hanya adu satu jalan masuk, lurus ke arah barat, mengikuti jejak-jejak kaki kuda. Selain itu, tidak bisa dilewati, pohonnya terlalu rapat, jebakan lumpur isap, juga hewan-hewan ganas.
Jalan satu-satunya itu akan mengarah ke danau. Dari danau dibutuhkan sampan kecil untuk melintas dan lalu sampai di jalan raya. benar, daratan ini tepat berada di tengah-tengah danau, pulau kecil saja, dengan satu rumah bernama entah.

Di sanalah aku tinggal, pada mulanya berbanyakan. Sekian lama waktu membuat kebersamaan kami semakin lekat. Lalu satu persatu pergi, jemputan yang kami sering gosipkan menjadi kenyataan... Aku hanya seorang putri biasa, jemputan tak kunjung datang.
Sering bertanya, mengapa jemputanku belum juga ada? Adakah si penunggang terkena celaka?

Kabar demi kabar kudengar, si burung dara mengicaukan nama-nama penunggang yang hari ke hari berpaling jalan.
"Kau tahu, hati itu bisa berubah putri! Si penunggang melewati danau, ah bahkan sebelum sempat ia menemukan kudanya, ia amat mengagumi kedalaman danau, lalu ia tenggelam sebelum sempat menemukanmu."
"Itu ceritamu hari kemarin," sergahku, gusar.
"Aku lupa, si penunggang yang lainnya. Bukankah ia yang telah maaf, mmm.. mmmm.. sempat bertemu denganmu?"
"Ya pesta yang salah, aku harusnya tidak datang."
"Dia sudah melupakanmu kupikir. Kau tahu apa yang membuatnya melupakanmu? Hahaha, kau keras kepala putri. Dia tidak melihatmu dari awal, dia melihat ketangguhanmu saja, kelebihanmu saja, habis kau tak ada lagi yang perlu dibanggakan, adakah alasan lain seseorang untuk tinggal?"
"Ada. Pasti ada alasan."
"Cinta? Kau pikir, cinta terus ada jika tak kau pelihara?"
"AKu tidak memelihara sesuatu yang sudah pasti ada."

"Putri, kau tahu? Seminggu lalu aku terbang ke negri sebrang. Heran sungguh aku dibuatnya. Wajah penunggang yang kau sering lukis di kanvas, terpampang jelas di tembok-tembok kota, di kertas-kertas besar...
"Apakah itu pertanda yang kutakutkan?"
"Aku melihatnya. Ia bahagia dan siap dengan pilihannya. Itu berarti kau putri harus segera mengetahui berapa ukuran tubuhmu, lakukanlah..."
"Lalu ada berita lainnya? selain itu?"
"Seorang wanita muda, aku takut jika menyebutkan aku pernah mengenalnya, berpakaian sepertimu, menangis diam-diam di hadapan poster-poster itu...
"Apakah kau sudah menjelma menjadi seorang penguping, dara?"
"Ah kau pasti tersentak mendengar apa yang ia katakan...
"Kau telah berhasil membuatku penasaran. Katakan!"

ANgin menelisik pagi, menyuai embun yang gemelayut. Putri adalah diriku yang sepi, menunggu.
Sebuah rumah bernama entah. ditengah padang runput dengan satu jalan keluar masuk.

Apakah aku siap berjalan sendirian? Tentu jalan yang kulewati akan sedikit berbeda. Menembus belantara bukan ide bagus, tapi satu-satunya. Sebelum penyihir itu datang dan menenggelamkan rumah.
"Tenanglah, aku akan memandumu."
Hatiku seolah berkata.
Sjauhnya kuberjalan, menyusuri jejak-jejak yang tak berbekas, berharap selekas-lekasnya jauh dari rumah.
Hingga gelap itu tiba, ada sedikit takut. Aku memutuskan beritirahat di sana, di bawah pohon akasia besar. Menanti, jika saja ada binatang yang bisa berbicara dan menunjukku arah yang benar.

Gemintang di langit. Dulu saat si penunggang itu menemuinya di pesta dengan sinar yang melimpah. Ia teringat benda angkasa bercahaya. Menunjuki bahwa dirinya tak salah menatap. Ah, menyesakkan.
Tapi cukuplah perjalanan malam ini, sebagai penutup bahwa tatapan tak boleh hanya pada satu arah, harus ada kemungkinan lainnya, kemungkinan yang boleh terjadi sebab yang Maha Kuasa menginginkan itu terjadi.

"Apa yang dikatakan perempuan itu?"
"Ulang, perempuan dengan pakaian sepertimu...
"Apa yang dikatakannya? Mengapa ia menangis?"

"Ia menginginkan sesuatu, yang kau miliki. Tapi aku melihat, kau menginginkan sesuatu yang perempuan itu miliki, kau ingin bebas... Ya lupa aku, kau sudah meredeka!"


Rumahku lenyap, dan diriku lenyap, hanya ada satu pasang mata, mengintipku dari celah jendela, menuliskan nama-nama, dan melupakannya begitu saja.

(Az, 05/12/15)





8 Oktober 2015

JANGAN LUPA, GADIS!

Standard
Dengan kepalaku yang mudah-mudahan masih berfungsi dengan baik, kulihat orang-orang saling bertengkar, berkelahi, mengatakan kata kasar, menyalahkan, menyudutkan, mengumpat dan berserapah, satu lawan satu, satu lawan dua, satu lawan banyak, dua lawan banyak, banyak lawan banyak... sedang mereka pernah saling menghargai, saling menyayangi, setidaknya ada salah satunya yang sayang yang cinta, yang penuh kasih, tapi mengapa selalu saja bertikai?
Tidak tahukah mereka, betapa sulit mendapatkan keyakinan?
Banyak orang yang telah bersuami tapi mereka menyia-nyiakan keberadaan suaminnya, ada banyak pula para  lelaki yang telah beristri, tapi seiring waktu mereka mencampakkan ikatan pernikahannya.
Betapa dunia dapat berubah, gampang pula manusia lupa....
Lupa, melupa...
di dunia ini banyak sekali para bujang yang ingin sekali menikah, tapi belum menemukan titik keyakinannya, ada saatnya ia begitu yakin, tapi yang diyakini tak bisa diyakinkan.
Di dunia ini banyak sekali, lebih banyak, para gadis, yang mulai kehilangan masa muda, bersiap mengabdikan dirinya.
Oh bujang, oh gadis. Jangan sampai,
Setelah kau temukan... lalu dirimu menjelma gajah sirkus, pagi bangun, pergi bekerja, tanpa sapa,

Bangunlah istanamu, sedini mula dalam hatimu.
Jangan sampai berita itu sampai di meja makanmu:
Benarkah keinginan itu sebatas pelengkap status?
Lalu saat mereka telah lengkap, mereka menyia-nyiakan pasangannya....?
Bahkan lupa,  bagaimana cara mengancingkan baju kekasihnya.
Itu hanya metafor, ada yang lebih lupa adalah, untuk apa mereka bersatu?
Ingatlah gadis, sejak awal, buat apa kalian bertemu, bersatu?


“Dan masuklah kau beserta istrimu ke dalam syurga yang telah dijanjikan.”

13 Agustus 2015

BUNGA

Standard
Sekuntum bunga yang tumbuh di sebuah pot di sudut rumah akan berbeda dengan sekuntum bunga yang tumbuh di taman terbuka.
Ada banyak cerita yang akan di lewati oleh si bunga pot di sudut rumah. Tapi amboi, bunga di taman terbuka akan rentan sekali oleh jamah tangan pendosa.

Bukankah...
Sebagai bunga, ia tak bisa protes atau sesukanya berpindah tempat, ia hanya menerima.
Toh bunga yang di pot di sudut rumah, ia tak mampu berkata, mungkin saja ia tak pernah memimpikan pergi ke taman, bukan? Saat pagi hari si empunya datang menyiraminya, mengambil helai daunnya yang jatuh, ia begitu suka cita. Itu sudak cukup baginya.

Begitu juga, bunga di taman terbuka mungkin ia selalu menantikan seseorang di sana, sekedar lewat atau duduk sebentar, lalu bercakap padanya lewat seulas senyum. Itu telah membuatnya lebih bermekaran setiap harinya.

namun yangg pasti, diantara keduanya... tak pernah memimpikan apa yang ada di luar keduanya, sehingga menyiksa semuanya. Cukup, itu baginya sudah cukup.

Keduanya begitu tekun dan istikomah dengan rasa penerimaannya.

Keduanya lebih sibuk memikirkan nikmat daripada rasa inginnya atau mimpinya.
Apa yang telah ia terima kini jadi semacam mabuk yang meinmbulkan syukur...

Ya, posisi keduanya, tempat keduanya memang membuat ia dan ia akan berbeda..
Keduanya pasti berbeda...
Tapi masing-masing ia, masing-masing mereka menjadi dirinya.

Adapun aku bukan bunga, aku bisa bergerak dan memutuskan.
Entah untuk ke depan, jika saja rasa jenuh telah membuatku lelah jadi bunga liar di taman terbuka, dengan ijin Mu Rabb, sampaikanlah rasa ingin tertutupku, untuk jadi bunga di pot sudut rumah.

Rabbi...

Jika aku masih senang menjadi bunga yang amat liar, dalam pandangan mereka yang tak terjaga, dalam hidup yang peuh liku, ke sana-sini sendiri. Suatu saat, dimana aku sungguh merindukan sebuah hunian, yang amat sepi karena buah hati yang tidur pulas, lalu ku putar surat Al-kahfi perlahan...

Dimana, bukan debu jalan yang singgah di wajahku, tetapi asap debu dapur untuk menyenangkan perut si teman hidup. Akan ada dimana bunga menjadi mekar di pot rumah, setelah ia diambil dengan terhormat oleh tukang kebun taman, dan dihadiahkan pada anak sulungnya yang salih.

Lalu ditempatkannya aku di sudut rumah, memberikan warna wangi dan kesegaran hijau.
Setiap pagi, menyapaku, bahkan sebelum embun.
Lalu, dimana nikmat yang kudustakan.

Begitulah saat ini, aku masih menunggu takdirku, tentang tukang kebun yang akan datang padaku. Memindahkanku dengan hati-hati, pada tahun-tahun ini, atau tahun-tahun depan, saat kemarau berlalu, dan musim penghujan datang, mengusir pergi.

Hatiku telah bahagia, kini dengan memimpikannya, sudah cukup membahagiakan. Tak boleh ada yang berteriak di rumahku, cukup senyap, lalu senyuman, lalu tertawa yang di tahan, saling sapa, saling mendoakan, saling meyayangi, hanya itu.

Impian sekuntum bunga di taman belakang. Mungkin hanya bunga rumput, yang tetiba bermimpi: angin menghantarkannya pada sebuah pot di sudut rumah. Bagaimana jika sebaliknya?