8 Oktober 2015

JANGAN LUPA, GADIS!

Standard
Dengan kepalaku yang mudah-mudahan masih berfungsi dengan baik, kulihat orang-orang saling bertengkar, berkelahi, mengatakan kata kasar, menyalahkan, menyudutkan, mengumpat dan berserapah, satu lawan satu, satu lawan dua, satu lawan banyak, dua lawan banyak, banyak lawan banyak... sedang mereka pernah saling menghargai, saling menyayangi, setidaknya ada salah satunya yang sayang yang cinta, yang penuh kasih, tapi mengapa selalu saja bertikai?
Tidak tahukah mereka, betapa sulit mendapatkan keyakinan?
Banyak orang yang telah bersuami tapi mereka menyia-nyiakan keberadaan suaminnya, ada banyak pula para  lelaki yang telah beristri, tapi seiring waktu mereka mencampakkan ikatan pernikahannya.
Betapa dunia dapat berubah, gampang pula manusia lupa....
Lupa, melupa...
di dunia ini banyak sekali para bujang yang ingin sekali menikah, tapi belum menemukan titik keyakinannya, ada saatnya ia begitu yakin, tapi yang diyakini tak bisa diyakinkan.
Di dunia ini banyak sekali, lebih banyak, para gadis, yang mulai kehilangan masa muda, bersiap mengabdikan dirinya.
Oh bujang, oh gadis. Jangan sampai,
Setelah kau temukan... lalu dirimu menjelma gajah sirkus, pagi bangun, pergi bekerja, tanpa sapa,

Bangunlah istanamu, sedini mula dalam hatimu.
Jangan sampai berita itu sampai di meja makanmu:
Benarkah keinginan itu sebatas pelengkap status?
Lalu saat mereka telah lengkap, mereka menyia-nyiakan pasangannya....?
Bahkan lupa,  bagaimana cara mengancingkan baju kekasihnya.
Itu hanya metafor, ada yang lebih lupa adalah, untuk apa mereka bersatu?
Ingatlah gadis, sejak awal, buat apa kalian bertemu, bersatu?


“Dan masuklah kau beserta istrimu ke dalam syurga yang telah dijanjikan.”

13 Agustus 2015

BUNGA

Standard
Sekuntum bunga yang tumbuh di sebuah pot di sudut rumah akan berbeda dengan sekuntum bunga yang tumbuh di taman terbuka.
Ada banyak cerita yang akan di lewati oleh si bunga pot di sudut rumah. Tapi amboi, bunga di taman terbuka akan rentan sekali oleh jamah tangan pendosa.

Bukankah...
Sebagai bunga, ia tak bisa protes atau sesukanya berpindah tempat, ia hanya menerima.
Toh bunga yang di pot di sudut rumah, ia tak mampu berkata, mungkin saja ia tak pernah memimpikan pergi ke taman, bukan? Saat pagi hari si empunya datang menyiraminya, mengambil helai daunnya yang jatuh, ia begitu suka cita. Itu sudak cukup baginya.

Begitu juga, bunga di taman terbuka mungkin ia selalu menantikan seseorang di sana, sekedar lewat atau duduk sebentar, lalu bercakap padanya lewat seulas senyum. Itu telah membuatnya lebih bermekaran setiap harinya.

namun yangg pasti, diantara keduanya... tak pernah memimpikan apa yang ada di luar keduanya, sehingga menyiksa semuanya. Cukup, itu baginya sudah cukup.

Keduanya begitu tekun dan istikomah dengan rasa penerimaannya.

Keduanya lebih sibuk memikirkan nikmat daripada rasa inginnya atau mimpinya.
Apa yang telah ia terima kini jadi semacam mabuk yang meinmbulkan syukur...

Ya, posisi keduanya, tempat keduanya memang membuat ia dan ia akan berbeda..
Keduanya pasti berbeda...
Tapi masing-masing ia, masing-masing mereka menjadi dirinya.

Adapun aku bukan bunga, aku bisa bergerak dan memutuskan.
Entah untuk ke depan, jika saja rasa jenuh telah membuatku lelah jadi bunga liar di taman terbuka, dengan ijin Mu Rabb, sampaikanlah rasa ingin tertutupku, untuk jadi bunga di pot sudut rumah.

Rabbi...

Jika aku masih senang menjadi bunga yang amat liar, dalam pandangan mereka yang tak terjaga, dalam hidup yang peuh liku, ke sana-sini sendiri. Suatu saat, dimana aku sungguh merindukan sebuah hunian, yang amat sepi karena buah hati yang tidur pulas, lalu ku putar surat Al-kahfi perlahan...

Dimana, bukan debu jalan yang singgah di wajahku, tetapi asap debu dapur untuk menyenangkan perut si teman hidup. Akan ada dimana bunga menjadi mekar di pot rumah, setelah ia diambil dengan terhormat oleh tukang kebun taman, dan dihadiahkan pada anak sulungnya yang salih.

Lalu ditempatkannya aku di sudut rumah, memberikan warna wangi dan kesegaran hijau.
Setiap pagi, menyapaku, bahkan sebelum embun.
Lalu, dimana nikmat yang kudustakan.

Begitulah saat ini, aku masih menunggu takdirku, tentang tukang kebun yang akan datang padaku. Memindahkanku dengan hati-hati, pada tahun-tahun ini, atau tahun-tahun depan, saat kemarau berlalu, dan musim penghujan datang, mengusir pergi.

Hatiku telah bahagia, kini dengan memimpikannya, sudah cukup membahagiakan. Tak boleh ada yang berteriak di rumahku, cukup senyap, lalu senyuman, lalu tertawa yang di tahan, saling sapa, saling mendoakan, saling meyayangi, hanya itu.

Impian sekuntum bunga di taman belakang. Mungkin hanya bunga rumput, yang tetiba bermimpi: angin menghantarkannya pada sebuah pot di sudut rumah. Bagaimana jika sebaliknya?

3 Agustus 2015

SELAMAT PAGI KESAYANGAN

Standard
Pagi, sesuatu dimulai sejak pagi... ia semangat atau tak semangat, dimulai sejak pagi. Bagaimana sikap ia kala hadapi udara yg terasa sejuk, bobo manis lagi tarik selimut, atau bergegas mandi, cuci ini itu, atau malah duduk sambil seruput kopi?

Aktivitas yang penuh nanti, tak usahlah menjadi trauma, hidup ini mudah kok, hanya pikiran saja yang kadang kala membuat ruwet...

Memiliki banyak tugas, memang sangat membebani, apalagi jika beban itu tak kunjung usai pula. Tugas yang tak usai itu karena diri tak dibiarkan fokus.
Kadang menyebalkan berada pada situasi yang tak kondusif untuk semedi, diam sedikit pasti diteriakin, Eli......................

Allahu Akbar! Ingin rasanya senyap, tetapi aku tak bisa senyapkan diri, rasanya aku pun sering ngerecoki orang kok... jadi anggap saja ini latihan!

Ketika semua orang bertanya jadwal harianku, bagaiamana pun itu sangat mengganggu konsentrasiku. AKu harus menjawabnya? Kalau kata ibu, eli apa susah sih jawab sebentar terus nulis lagi, kerjain tugas lagi?

Tapi ibu, itu sangat menjengkelkan, give me a time, please....
Ini saja, kamu punya waktu justru malah dibuang cuma buat nulis curhat aneh gak jelas ini?
Kalau terbaca orang, ini akan bikin semua tak nyaman karena mereka merasa telah ambil waktu kamu.

Oh mom, bukan itu maksudku. Aku ingin kita saling menghargai dalam hal waktu saja.

 Jadi, eli harus gimana?
Pertanyaan bagus yang berusaha nyari penyelesaian. kebingungan itu hanya ada dalam kepalamu sayang. Sini... tugas itu pasti berlalu dan selesai jika dikerjakan dengan baik sungguh-sungguh... 
Hadapi dengan senyuman, cintai dirimu, dan lakukan yang menurutmu baik, satu-satu saja..

Jangan menyalahkan orang, apalagi merasa tak punya waktu, naudzubillah.. ingat barokah waktu?
Allah yang memilki, meskipun banyak waktu dengan tugas yang sama, jika Allah inginkan mengerjakannya lama ya lama. Minta ke Allah agar tugas itu bisa selesai tanpa buang banyak waktu...

Sayang, banyak dan barokah itu beda. Begitu lah waktu yang kita miliki memang terbatas, itu sebabnya ia menjadi amat berharga kan?

Sekarang, jika terus terusan nyalahin situasi, kamu tak akan pernah menang!
Yok, anak ibu, atur ritme mu, dan ubah cara pandnagmu. Tersenyumlah!

Az.


Rasa suka yang berkurang?

Standard
Selepas mengganti nama di faesbuk dengan nama asliku, dan tentu saja menghapus semua kenangan tentang nama Zahraa.. aku mulai bertanya-tanya tentang isi hati sendiri.
"hei, benarkah engkau suka seseorang itu?"
"Entahlah, kok jadi pudar ya? Kayanya enggak!"

Polos kan?
Memang betul, jika perasaan terus ditanya: apa benar dia yang kamu sukai?
Kok hati jawabnya sering menyalahi.
Alasannya, kenapa pudar?
Mungkin karena kesibukan? Entah lah, tak usah memaksaku. Intinya ada beberapa hal yang memang akan hilang dengan sendirinya. Entah karena suatu peristiwa, ataupun sikap yang ditunjukkan olehnya saat menemui masalah, atau ya memang sudah waktunya pudar.

Tapi, jika saja bisa dicegah, aku ingin rasa suka itu tetap ada, tetapi malah tak bersisa, lalu ampasnya apa? Ampasnya hanya rasa "ilfil".

Entahlah, mungkin aku lelah, untuk sesuatu yang berharga saja bisa pudar, apalagi yang tak berharga.

benar saja, suka atau tak suka itu, Tuhan yang atur, seingin apapun suka, kalau tak suka ya enggak suka aja, titik. atau sebaliknya....

Menuliskan tentang suka atau tak suka, membuatku paham, hanya Allah yang paling kita cintai di atas segalanya.

1 Agustus 2015

ANAS!

Standard
Pagi ini saat hendak masak sayur kentang, ingat teteh.. tetiba saja, selintas, ingat jika Hp pun tak guna, karena tak berpulsa, lewat fb, line atau WA? Hp tetehku masih jaman dulu, yang tak sediakan aplikasi itu.
Akhirnya sambil mengupas kulit kentang, cuma bisa inget saja...
Tring! Hp bunyi, tepat! Itu tetehku, bertanya kenapa jarang sms, marah yah, apa kabarnya... dengan semangat aku balas panjang lebar, sembari curhat ini kentang enaknya diapain ya?
Cuss aja di send, dan hasilnya not deliver, Gagal Donk!
Karena rasa rindu yang tak terkira, mengontak beberapa teman "minta tolong" buat diisi in pulsa, walau tak sahut-sahut pula, dan akhirnya ada saja yang baik hati segera kirim. 30 menitan!
Pesan itu pun terkirim! Alhamdulillah.

Sekilas pesan itu datang lagi dengan isi yang lebih heboh, keponakanku ada yang melamar.
Usiaku dan keponakan hanya selisih satu tahun, sekarang aku segera menginjak 23, dia 22. Saat lebaran kemarin, aku bertanya ke kakak (Ummu nya keponakan itu), "Kapan teteh nikah?"
"Moal waka nikah saurna, ngantosan Bi Eli..."
"Oh..." aku tersenyum saja, "Ish!"

Saat ketemu juga sempat kubertanya langsung, "Udah mau nikah nih? Segera syawal hahaha..."
"Ih, bibi heula wae, abi mah ke atos bibi.."

Syukurlah jika akhirnya kabar itu datang, bibinya masih saja asyik dengan dunia sendiri.
Siapa, siapa yang lamar? Aku setengah kepo. Keponakan yang satu ini memang spesial: tidak suka pacaran, lebih banyak diam, calm lah, sederhana, cantik, bersih, putih dan baik hati... Ah kumaha bibi na da. Hei!

"Ke sini saja," jawab teteh enteng, membalas sms dengan enak, tak tahu adiknya kepo setengah mati.
"Namanya?"
"ANAS!"

Otakku berputar, Anas, Anas mana? Siapa Anas?
"Putranya Bapak A, Ibu B, teman liqoan teteh."

"Hah?"

Seperti halnya cincin yang tak akan tertukar masuk jari, yang baik selalu dipasangkan dengan yang baik, relasi baik-baiklah semua...

Aku melihat diriku, kurang baik, masih senang tertawa, kurang keibuan, dah panjang benar alasanku.
Syukurlah, kabar ini membahagiakan tapi juga menyedihkanku, karena itu tandanya, aku harus lebih berjuang untuk perbaiki diri!

Hikhikshik.... 

27 Juli 2015

JALAN HIDUP

Standard
entah...

Terlalu suka dengan kata jalan hidup, aku amat yakin bahwa jalan hidup telah tertulis sejak aku belum ada di dunia. Kini tengah kulalui bagian yang tak kusukai, rasa perih telah menyita airmataku.. Tuhan aku tahu terluka atau tak terluka, itu mutlak keputusanku, tetapi aku tak mau membohongi... betapa peristiwa ini telah melukaiku, banyak hal yang telah kufokuskan untuk semuanya, yang kini seolah sia-sia...

aku ingin menyalahkan sikapku, aku ingin menyalahkan karakterku, aku ingin menyalahkan diriku sendiri... sampai lelah terus kusalahkan, tapi tak ada yang kudapatkan dengan menyudutkan diri sendiri. aku harus bahagia, bukan orang lain yang akan membahagiakanku, hanyalah hati yang tabah menghadapi ini.... itulah kemenanganku.

seolah-olah aku adalah makhluk kasar tak berperasaan, lalu mengapa kutulis semua ini? Segenap perasaanku mengalir bersama hal yang kusesali, terkadang lisan kehilangan tali kekang dan menyakiti...

Entahlah, ujung mana yang akan memihakku, dan cerita akan terus mengalir, bersikap lemah lembutlah zahraa.. sungguh tiada kebenaran dalam kesombongan dan congkak, dalam keras dan amarah.

Dengarlah, hati kecilmu... tersenyumlah, tak sepenuhnya engkau salah, teriamlah dirimu, maafkan dirimu, dan berjalanlah ke depan, maju terus, jangan hiraukan apapun...
ada kala ujian itu datang untuk menguatkanmu, bahwa kelak kau berhak tersenyum... doakanlah yang terbaik.

Ananda, bunda terluka hari ini, maafkan jika air mata ini kembali tumpah dan bunda akan selalu berusaha agar kuat, bukankah ananda berhak terlahir dari seorang ibu yang tabah?    

Az, 27/7/15; 22:41 WBBI

22 Juni 2015

Masih tentang Skripsi

Standard
Pagi ini, hendak lagi dibagi... 09;26...
Skripsi hampir beres, dan hanya harus bersabar untuk mendapat Acc dosen pembimbing, melengkapi dokumen daftar sidang skripsi... dan aku masih tetepa saja ingin menulis sebentar, sesekali...

Allah, malu sekali. Rupanya ini rasanya menjadi orang yang bodoh, bahkan untuk mengerjakan ini-itu, terpaksa minta tolong, karena tak berkapasistas dalam hal tsb. atau mungkin saja, agar diri bisa jadi makhluk sosial, tak bisa hidup kita sendiri tanpa membutuhkan orang lain...

Ramadhan tahun ini spesial, dan selalu spesial. Jika Tahun lalu disibukkan dengan KKN, tahun kini dengan aktivitas skripsi. Bagaimana dengan ibadahmu? selintas pertanyaan itu datang... meminta direnungkan...

Fagfirli, malu untuk mengakui untuk perubahan sikap ini. Setahun setengah bukan waktu yang singkat untukku bermetamorfosis lebih baik dalam hal kepribadian, kini masa itu sedikit demi sedikit terkikis kembali, dan benteng itu hampir roboh oleh musuh...

Kepribadian yang ku ketahui, keras kepala, kasar, dan seabrek kata lainnya, seolah-olah datang kembali dan membuatku menjadi orang yang jahat untuk sekitarku. Ya Allah dengan berkah Ramadhan Mu, perbaikilah akhlakku...

"Allahumma ini ala dzikrika, wa syukrika, wa husni ibadatikk...."
Rasanya ingin terus melafadz itu, untuk diri yang semakin jauh...

Ingat teh Risa dulu saat tingkat 4, menuliskan bagaimana membuat aktivitas skripsi menjadi aktivitas ibadah? Kita ibarat sedang berjalan dalam koridor, awal dan akhirnya sudah ALlah tentukkan, tinggal kita mengisi sepanjang awal dan akhir itu dengan ibadah atau tidak?

Siang malam di depan laptop sholat tidak khusuk, siang malam baca referensi tilawah keteteran... apa ini? apa ini berkah skripsi?

hati terus meracau...
Apalagi yang kau harapkan dengan seperti itu semua jadi ibadah?
Tahajud sudah jauh kemana, aktivitas gadang telah membuatmu menjadi manusia kerbau yang menjijikan. Duha sudah tinggal cerita, kemana ini kemana? bahkan untuk merapikan kamar saja? Lupa jika Allah menyukai keindahan?

ada yang telah terjadi kemarin Tuhan, dengan segala khilapku...
Bahkan sikapku yang keras sudah mencuri tabiat, membentak sana-sini karena tak sejalan...
Minta bantuan sana-sini, tak peduli laki-laki atau.... siapapun...

Mungkin saja aku lupa, minta tolong pada Tuhan?
Fagfirli... Rabbi...

Ini, ada dalam kehinaanku,
Taubat ya Rabb...

Skripsi ini tak ada apa-apanya jika saja aku mau sedikit kerja keras dengan terus berharap padaMu.
Kalau saja Aa Gym bilang, pasti begini: Tangan ngerjain skripsi, hati ingat ke Allah...

Pagi ini sudah uji turnitin, skripsi hampir beres tinggal membuat daftar isi, daftar tabel, lampiran gambar dan lain-lain. Semoga perjalanan ini adalah perjalanan yang mendewasakan.

____Untuk Cinta ALlah pada hambanya yang luar biasa "Amazing Love"_____

Az. 09.41, Paseh. (terimakasih untuk orang2 baik yang sudah membantuku)


31 Mei 2015

Bolak-Balik

Standard
Bergemuruh dalam jiwaku, rasa sesal yang tak bisa kutarik kembali. telah berlalu sebuah masa, saat amanah tak bisa kujaga. Tak bisa kutarik semua yang telah keluar, dan lalu hilang terbang melayang...

Ada saatnya Allah mengajarkan dengan sebaik pengajaran, bahwa setiap titipan akan diambil kembali. Sejak mula kita tak membawa apa-apa... termasuk hati kita sendiri.

Jangan kaget jika pada mulanya senang berubah jadi tidak senang, karena Allah yang bolak-balikkan hati dengan sekejap. Jangan kaget juga jika asalnya gak seneng, eh malah doyan, itu karena Allah yag buat demikian.

Jadi, jangan minta ke orang buat seneng dengan diri kita, minta Allah saja yang maha membolak-balik hati..... da urusan hati mah Allah yang urus, kita mah, berusaha jadi orang yang disenangi Allah saja. Cukup. Da kita dimuliakan Allah atau dihinakan bukan karena orang lain, tapi karena diri kita sendiri.


_____________________

11 Mei 2015

SKRIPSI

Standard
Skripsi terbaik angkatan 2011, itu salah satu mimpi yang saya tulis di buku "One Hundred Dream"

Ada yang menjadi konsekwensinya, Allah akan menguji sesuatu yang kita yakini. Untuk menguji sudah kukuhkan kita dengan keyakinan itu?
Jika ujian itu semakin membuat dekat kepada Nya, itulah keberuntungan.

Jika ingin menjadi orang dengan skripsi terbaik, tentu langkah yang diambil harus berbeda. Usaha yang dikeluarkan harus lebih ekstra. Jangan fokus pada tujuan akhir yang baik, sekarang fokus pada prosesnya.

Terkadang ingin berlari dan berteriak, tapi sadarlah di dunia ini yang harus sempurna adalah ikhtiarnya. Banyak orang di luar sana yang sedang kebingungan, sama! Tetapi hanya sedikit yang bergerak mencari jalan keluar.

Jika sayang orang tua segera selesaikan, optimalkan. Bersemangat!
Bersihkan hati, maafkan diri, maafkan orang lain, taubat, perbaiki ibadah. Ya Allah, semangat.... zahraa!

Menunda-nunda tak akan menyelesaikan masalah.

15 April 2015

Pundak yang Kuat

Standard
Sampai tulisan ini kutulis, aku masih saja tidak mengerti mengapa sering dalam hidupku aku merasa sendiri dalam keramaian, kelelahan saat orang terlihat segar bugar. Lalu aku duduk di depan laptop dengan mata yang nanar. Pesan singkat itu terus datang dan memintaku melakukan banyak hal. Sering ingin berteriak dan mematikan handphone saja, mematikannya untuk selamanya. Akan tetapi aku selalu sadar, bahwa apalah aku teh apa....

Belum lagi tugas yang utama (baca: skripsi) kubuka (kerjakan), aku telah kelelahan. Sejak kemarin, menuruti perintah pesan-pesan SMS. Ya Allah...

Tolong buatkan makalah ini, sudah beres makalhanya, tolong cari ini materi ini, tolog itukan, tolong balas sms, ini soal-soalnya, sudah beres tugasnya? nanti siang diambil.

Oke, bismillah, sebenarnya tidak apa-apa, aku bisa saja bertahan mengerjakan semuanya. Akan tetapi kasihan pada dia, tak akan bisa berlatih, tak cakap, jika terus mengandalkan orang lain, bahkan siapa yang kuliahnya?

Hanya satu cara saat ini, selain sabar mengerjakan semua permintaannya, adalah mendoakannya. Sudah berulang kali, mengatakan, tolong kerjakan sendiri, ilmu bukan buat orang lain, tapi untuk diri sendiri. Yang ada malah marah, dan menuntut tidak akan kuliah, dan sebagainya. Ya Allah, paahal kuliah juga untuk dirinya sendiri.

Sering jengkel, akan tetapi, Allah pasti sengaja mengirimkan orang seperti dia kedalam kehidupan, untuk  maksud tertentu yang "pasti ada hikmahnya".

Sudah, tidak apa-apa. Semoga ilmunya berkah saja. Maafkan kadang tubuh yang bahkan bukan punya sendiri pun, banyak merasa lelah, dan ingin istirahat. Padahal siapa yang menguatkan? Siapa yang melelahkan? Tak akan terjadi jika Allah inginkan. Maka, kita minta saja pada Allah, agar dikuatkan. Tak akan pundak salah memikul beban.


6 April 2015

Sudah Malam: Tulis saja apa saja

Standard
Assalamualaikum ananda? Sudah lelapkah? Malam ini bunda menulis lagi, dalam sunyi mengharapkan satu dua percakapan dengan bisikan, semoga Allah berkenan.
Ananda, malam ini bunda hanya akan bercerita tentang seekor burung yang kehilangan sayapnya.
Suatu hari ada seekor burung yang tengah asik terbang dengan riangnya, sanat riang, bahagia, tertawa-tawa.
Tanpa ia sadari seorang pemburu tengah memiciingkan matanya, dan siap-siap membidik sang burung.
Saat letusan itu terdengar, sang burung jatuh, jatuh ke dahan pohon rindang.
"bagaimana nasibnya bunda?"
"apakah ia mati?"

Tidak ananda, burung itu merintih di atas dahan. Rintihannya terdengar oleh semut di dahan-dahan.
"kenapa engkau merintih wahai burung?"
"Sayapku, sakit sekali, aw sakit.."
Semut itu memeriksanya, terlihat sayap kiri sang burung berlumuran darah, segar, dan anyir.
"Aku.. aku sakit, tak bisa terbang lagi, bagaimana ini tolong aku."
"Bersabarlah engkau burung, aku akan mengambilkanmu ramuan."
Burung itu terus merintih kesakitan...." cepatlah semut,"

Ramuan apa bunda yang semut bawa?
Bersabarlah ananda, semut itu datang dengan kawan-kawannya. Dijulurkannya lidah mereka. Luka sang burung menjadi kering.

Apakah burung itu bisa kembali terbang bunda?
Tidak bisa sayang.

Kasihan ya Bunda.

Begitulah ananda tidak boleh terlalu riang dan bahagia saat memiliki 2 sayap, karena akan ada dimana kehilangan 1 sayap, masih bisa disyukuri.

Bunda.....
Semut itu baik ya, mau membantu burung.
Iya, walau kecil, ya.

Sekarang, tidur karena hari telah malam. Semoga Allah mencintaimu :)

2 April 2015

Penyemangat :D *_*

Standard
Mengapa belum juga terlelap wahai mata? Sedang lingkar hitam jelas terlihat.
Apa pula yang menjadi alasannya?
Aku bahagia mengetahuinya, bahwa suatu hari aku akan tersenyum dengan riang diantara sela bunga yang kita tanam sendiri dengan kedua tangan.
Aku bahagia mengetahui bahwa bidadari kecil dan pangeran kecil itu telah tumbuh menjadi sosok-sosok yang saliha dan salih.
Aku bahagia mengetahui bahwa di masa depan, aku akan dicintai oleh anak-anak bermata bening yang memanggilku umi.

Siapakah yang paling sengsara umi? tanyanya.
yang paling sengsara ialah orang yang mengemis kasih dari manusia, nak.

Siapakah yang paling rugi umi? tanyanya lagi.
yang paling rugi ialah yang umurnya bertambah, tapi sikap dan pribadinya tak pernah jadi dewasa.

Umi, siapakah yang paling bahagia?
Yang paling bahagia adalah mereka yang beruntung nak.
Siapa kah yang beruntung umi?
Mereka yang khusuk :)

Khusuk umi?
Iya khusuk dalam mengabdi dan mencari ridho serta cinta Tuhannya...
meyakin pertemuan dengan Nya.

Umi, dimanakah Tuhan sekarang?
Aku memeluknya dengan bahagia, bahwa Tuhan ada dan Maha Melihat, Maha Penyayang, dan Maha Mendengarkan, Maha Dekat, dan Maha Mengetahui.

Umi, ceriataknlah bagaimana umi bertemu abi?
Hahaha, rasanya ingin tertawa, tapi tawaku tertahan, karena cerita abi spesial pakai ceplok telor...

Bagaimana umi, bagaimana?
Abi Tuhan takdirkan hadir saat umi diuji dengan berbagai fitnah.

Abi orang baru, yang umi kenal melalui murobbi :)
Murobbi apakah itu umi?
Guru mengaji nak.

Ayo hafalan yusufnya sudah siap?
Siap Umi...
Dan aku bahagia tidak menjadi apapun, tidak jadi istri presiden pun, tidak menjadi sosok pun, karena dunia teramat singkat, dan fana. Untuk jundi Allah... yang terbaik akan dipersembahkan.

menjadi ibu rumah tangga, yang berusaha mencintai kebenaran dan ilmu.
Allah :) bantu untuk cita-cita ini. Will be done!