12 Juni 2012

Bisikan di Dini Hari

Standard

          Bapak, terlalu lelah aku menyusuri jalan ini tanpamu, bisik batin menghiba. Ternyata kau lebih dekat dari angin. Kekuatan itu merayap dipenghujung malam yang enggan berdamai dengan rasa letih dan kantuk.
***
Lima tahun yang lalu tepatnya ketika aku merasa bahagia karena bapak dinyatakan sembuh dari sakitnya. Stroke yang telah lama dideritanya berangsur-angsur pulih, perawatan dan pengobatan yang benar-benar intensif. Padahal aku masih teringat saat pertama Dokter Radian menyatakan bapak mengalami stroke Januari kala itu, kemungkinan oleh dua faktor yang menyebabkan bapak stroke yang pertama karena usia bapak yang mulai menginjak 57 tahun menyebabkan pembuluh darah mengeras dan menyempit, atau karena pola makan bapak yang sembrono tidak mengiraukan kandungan kadar kolesterol, sehingga terjadi penyumbatan aliran darah yang menuju ke otak.
“...dan bapak mu mengalami stroke jenis iskemik, hal ini terjadi karena aliran darah ke otak terhenti akibat penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah, penyebabnya adalah mungkin bapak mu  pola makannya  tidak dijaga, mulai sekarang hindari makan makanan yang banyak mengandung kolesterol, semua jenis makan yang mengandung lemak hentikan, sejenis daging-dagingan dan telur,” jelasnya panjang lebar.
Bapak, mengalami stroke setelah satu tahun sepeninggalan ibu, wanita itu menghilang begitu saja. Muak sungguh jika aku mengingat dia lagi, pekerjaannya memerintah bapak layaknya seorang putri raja pada sahaya, namun bapak selalu tabah dan tersenyum, sungguh aneh. Hingga umurku  15 tahun, tak pernah sekalipun aku diperlakukan  seperti anaknya, nasibku lebih malang dibanding bapak, dia membuat peraturan kapan aku harus bangun tidur, kapan aku harus makan, dan parahnya lagi tidak ada jadwal bermain atau menonton tivi sekalipun, aku harus rodi dipasar itu. Wanita itu menghilang ghaib disuatu pagi tanpa meninggalkan jejak. Raib dalam bayangan malam yang pekat.
Kesembuhan bapak seperti emas permata yang sangat langka bagiku. Kesembuhan bapak seperti sebongkah kehidupan, cahaya yang menyala disaat mulai redup. Bagaimana tidak selama tiga tahun terakhir ini aku hidup dalam bungkam di rumah sebesar keraton ini. Sudah lama tidak ada kata yang mampu bapak ucapkan, hanya bulir-bulir air mata yang sejuk terkadang menggenang di kelopak matanya yang keriput. Oh mungkinkah bapak kecewa dengan perlakuanku saat ini, terkadang orang tua lebih sensitif saat ia sakit. Terkadang aku kebingungan saat bapak sendu tanpa alasan. Terpikirkah bapak tentang ibu?
Semua semakin terasa dekat, saat bapak mulai bisa berkata lagi, “Vira..Elvira..”, aku terlonjak karena ini adalah kata pertama bapak setelah bungkam tiga tahun, “Elvira kamu sudah besar...”, ya bapak benar sejak itu aku beranjak dewasa kematangan ku menginjak 18 tahun, bapak anak mu ini sudah besar tapi baktiku pada mu teramat sedikit, batinku terus berceloteh mengharu biru tak tentu. Aku merasa bahagia, bapakku sembuh, kedekatan kami terasa sekali saat bapak mulai belajar berjalan, belajar makan sendiri, belajar menulis pesanan dan belajar menyisir rambutnya sendiri ketika selesai ku mandikan.
Ngger1, janten anak soleha, asih pada kematian, ajrih pada Gusti Pangeran2, matur nuwun sudah ngurusi bapak selama ini, kamu anak soleha ngger”, bapak berkata dengan kata-katanya yang terbata-bata. Aku hanya terdiam dalam tangis yang tak bisa kutahan. Bapak adalah pria tegar, selama hidup dengan ibu dia rela menjadi kepanjangan telunjuk ibu, ya bapak hanyalah seorang penjual sayuran di pasar dan ibu adalah nyonya besar di rumah ini, dahulu. Bapak yang tetap tersenyum saat ibu membentaknya, bapak yang tegar menanti saat ibu pulang larut malam. Sungguh bapak ini bapak terhebat.
***
            “Bapak... bapak!” teriakku terisak-isak. Lunglai sudah, usahaku mencari bapak nihil. Tidak ada tanda-tanda bapak di dalam rumah, keadaan rumah yang besar membuatku cukup kerepotan mencari-cari. Padahal bapak baru mulai bisa berjalan, dan itupun masih dengan menggunakan tongkat, tapi kemana ia pergi. Mungkinkah di lantai atas? Tidak mungkin karena bapak belum terbiasa lagi menaiki tangga. “Bapak... bapak!” kembali aku berteriak sekuat mungkin. Oh mungkin bapak berjalan-jalan keluar berkunjung pada tetangga, sudah lama sekali bapak tidak keluar, mungkin bapak rindu pada Bi Enah langganan sayurnya di pasar, atau ke Mang Ano yang sering membawa kelapa pesanan bapak.
Rumah kami adalah paling besar di kampung ini, agak berjauhan dengan tetangga, kalau berjalan bisa mencapai lima menitan karena harus melewati dulu kebun jagung dan huma. Rumah ini didesain megah entah oleh siapa, diatas bukit. Sehingga apabila kami hendak ke tetangga harus berjalan menurun dengan pemandangan yang elok. Dan apabila Mang Ano memenuhi pesanan bapak, dia harus rela berjalan bongkok karena jalan yang menanjak. Tapi ditepi jalan itu kami dihibur pemandangan yang indah, diantara jagung dan huma itu nampak sembulan rupa dan warna bunga yang menebar aroma khas, menggoda kupu-kupu singgah dan mata enggan beralih pandang. Pemandangan yang khas disajikan, berundak-undak kebun jagung hijau siap panen, sangat rapi dan teratur. Dipadu dengan lenggang padi yang mulai menguning amat serasi. Tapi terik matahari dan perasaan yang membara karena khawatir yang teramat sangat ini membuatku melupakan nyanyian alam itu. Aku berburu waktu, bapakku dimana? Bapak harus tahu aku telah lulus hari ini.
SMA Bukit Indah hari ini membagikan kelulusan, tentu saja seharusnya bapak hadir dan bertepuk tangan diantara kursi-kursi yang berjejer didepan itu. Bapak harus bangga karena anaknya berhasil lulus dengan nilai terbaik. Namun bapakku belum sembuh benar, ia harus banyak beristirahat. Terpaksa kelulusan ini aku sendiri yang menerimanya. Tak kuasa rasanya ingin sampai di rumah, sepanjang perjalanan aku berlari dan bernyanyi meskipun jalan yang kutempuh sangat jauh dan menanjak melelahkan. Namun setibanya dirumah bapakku pun raib seperti halnya ibu. Jika ibu hilang dipagi hari, mengapa bapakku pun harus menghilang di siang hari begini.
Adzan duhur terdengar sayup saat aku ketuk rumah Bi Enah.
“Tok..tok..tok.. Bibi lihat bapak turun ga hari ini?” tanyaku memberondong Bi Enah yang belum sempat merapikan kerudungnya. “Engg... enggak neng, tidak terlihat dari tadi juga bapak neng turun. Padahal hari ini Bibi nggk kemana-mana kok;” jawab Bi Enah penuh kekagetan. Aku lunglai, jika Bi Enah mengatakan ia tidak melihat bapak itu artinya bapak tidak turun bukit, karena satu-satunya rumah yang dekat ya ini rumah Bi Enah, adapun rumah Mang Ano kami harus berjalan lebih curam lagi untuk sampai disana. Dan artinya bapak tidak mungkin ke rumah Mang Ano, karena untuk kerumah Mang Ano itu artinya bapak harus melewati rumah Bi Enah, dan Bi Enah tidak melihatnya. “Bibi benar tidak melihatnya? Mungkin bibi tadi sempat kemana?” tanyaku penasaran. “Tidak neng, tadi bibi jemur jagung di depan sini, nggk kemana-mana lagi kok, memangnya bapak neng kenapa?”
Aku terduduk lemas, bapakku kemana ya Allah bisikku sangat khawatir. “Gak tau bi, padahal tadi pagi bapak nggk kemana-mana, malah bapak minta pesanan jagung bakar”, kenangku mengingat tadi pagi bapak sangat ingin sekali aku membakar jagung muda untuknya, dan ini sangat aneh karena bapak dari dulu tidak suka jagung.
“Ya mungkin bapak di huma neng...” saran Bi Enah.
Aku segera berpamitan dan kembali kebukit, rumahku nun di puncak sana. Bapakku dimanakah engkau? Napasku terengah-engah, lari bolak balik menuruni dan menaiki bukit mengingatkan aku pada Siti Hajar yang mencari air untuk anaknya Nabi Ismail As. Tapi sekarang aku lari bolak-balik mencari bapakku ke huma-huma yang rimbun jagung dan padi. Nihil tak ada petunjuk.
Lemas dan haus, aku putuskan kembali kerumah. Air wudhu jernih dialirkan dari bukit diatas bukit menyapu wajah yang kemerahan tertimpa terik matahari. Segar dan sejuk. Aku terlambat, duhur telah berlalu sejak satu jam tadi. Ya Allah aku malah melupakan Mu. Mengapa tidak aku adukan semua ini pada mu sejak tadi? Ku reguk dua genggam air jernih ini, tak kuasa menahan haus. Kemudian kusempurnakan wudhu dengan doa yang terimpas angin sepoi.
“Allahu Akbar..” rintihku dalam kamar yang sepi dan tenang. Ku lantunkan doa-doa, merayu Nya dalam ketakutan dan kemeranaanku. Dalam sujud terakhir ku titip salam semoga Allah mengampuni dosaku, bapakku dan ibukku. “Ya Allah perkenankan lah aku mati dalam khusnul khotimah.....”
Alhamdulillah hati terasa lebih tenang jika telah mengadu kepada pemilik musibah dan barakah. Namun kemudian “brukk” dilantai atas terdengar suara aneh keras sekali, seperti sebuah benda besar yang terjatuh. Dengan tergopoh-gopoh aku berlari kelantai atas, siap tahu itu memang bapak.
“Bapak....” teriakku lemah dan sejenak tak ingat apa-apa lagi.
Bapak mengakhiri hidup dengan seutas tali pada lehernya. Ya Rabb tangisan batinku tak kuasa menahan perih, ampuni dosa-dosa bapakku.
***
            Seorang wanita itu terkapar dengan darah merah yang mengucur, hampir-hampir ususnya keluar karena tikaman itu sangat jauh melukai perutnya yang tengah hamil, tapi sangat amat lebih jauh melukai hatinya. Pada detik-detik terakhirnya, ia mengingat dan hendak mengulang kembali rekaman hidup yang telah ia lakoni. Masa kecilnya sebagai putri seorang juragan, menikah dengan seorang laki-laki berwajah jelek pendek hitam dan pesek, karena perjodohan orang tua. Dari perjodohan bodoh itu ia melahirkan seorang putra dan putri yang amat dia benci, kemudian karena tak tahan hidup dalam kepura-puraan mencintai, akhirnya selingkuh dengan mantan kekasih yang dulunya adalah pembantu di rumah orang tuanya, lelaki tampan dan polos. Suaminya pergi mengalah dengan membawa serta putranya. Namun kemudian tak puas pula dengan suami yang hanya tampan, karena ia tidak becus berusaha, ia hanya penjual sayuran, cihhhhh menyebalkan. Keputusan terakhirnya adalah menemui seseorang yang sering mengirim emas permata selama ini, seorang pria kaya yang tak tanggung-tanggung dalam masalah harta, selingkuhan berikutnya. Namun kini ia si durjana hanyalah penghancur semuanya, putrinya yang telah empat tahun tak bertemu sang ibu, habis disikat pula dengan tidak menggunakan nurani. Oh aku salah,  suamiku yang tampan pun mati di tangan si durjana ini, karena aku sering menangis dengan menyebutnya. Dan kini putriku, selama ini aku tak pernah membuat dia merasa seperti putriku yang sesunguhnya, tapi aku tak kuasa jika harus menyaksikan ia mengerang perih dalam bayang-bayang kebejatan penebar-penebar nafsu. Maafkan aku anakku.
***
            Linangan air mataku terhapus dia yang datang seperti angin, seseorang yang mengamitku pada rumah besar seperti istana. Ia menangisi keadaanku (mereka diluar sana bilang aku gila). Ia bapakku begitu ceritanya mengalir, mengusap air mataku dan menyuapiku kue yang telah ia lunakkan. Dia menggenggam tanganku yang dia sebut adalah, “Kau anakku sudah besar nak? Kalung ini masih juga kau pakai padahal kau sudah besar, masih muat nak? Badan mu kurus.”
            Aku berdiri didepan cermin besar ini mengingat masa yang tak pernah aku mengerti. Mengapa waktu berjalan lambat. Dia yang memaksaku untuk memanggilnya bapak, terburu-buru masuk ke ruangan ini yang dia sebut adalah kamarku dan tersenyum, kemudian dia membisikkan ku sesuatu “Aku bapakmu Elvira kecilku sayang.” Aku terdiam karena ini adalah kata yang paling sering aku dengar. Dia menutupi kepalaku dengan kerudung hijau, menggantikan bajuku dengan baju kurung panjang kemudian membawaku keluar ruangan.
            Ruangan beraroma obat, putih dan bersih. “Radian, bisakah kamu mengecek kesehatan Elvira, dia teramat kurus.” Aku terkejut mendapati dokter itu pun terkejut. Siapa dia tanya hatiku? Orang yang memaksakku memanggilnya bapak mengatakan Radian adalah kakakku.
***
            Ya Allah anakku telah besar, terimakasih ya Allah karena Engkau telah kumpulkan kami dalam lindungan Mu Yang Maha Luhur. Radian, Elvira, Rabbi habli minassolihin. Aamiin. (Bisiknya dini hari itu).