4 Desember 2015

Jika Kita Memutuskan Untuk Tak Memutuskan Apapun

Standard

Sederhananya,
jika orang yang kau cintai pergi,
bukan ada yg salah dgn mu,
tapi ada orang yg akan datang,
dan ia lebih siap mencintaimu....

Sederhananya,
yang pergi akan kembali,
mungkin dgn nama yg berbeda....

Syukuri saja, tak ada yg salah dgn mu, tetap perbaiki diri.

--------------------------------------------------------------------------------------------------

setiap manusia mesti bersyukur, Tuhan titipkan sebuah kemuliaan dalam dirinya, sesuatu yang benama "perasaan".
Perasaan yang datang pada kita, memainkan diri kita berlarut-larut, atau perasaan yang membuat sesuatu menjadi lebih indah, bermakna, lebihterasa ada "ruh" nya.

------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari-hari yang kita lewati telah tertulis dalam kitab induk yang nyata, akan terjadi. Pun dengan tulisan ini. Ada kalanya kita hanya harus memilih untuk melewatinya dengan bahagia, atau dengan hati yang keruh. Menulis dengan kekesalan, atau dengan pengharapan.
Itu namanya sebuah keputusan, memilih.

Tetapi ada sesuatu dianatara dua, anatara memilih, anatara tidak memilih. Ada keputusan untuk tak memutuskan apapun.
Benar, itu yang terjadi denganku,
Mengetahuimu, dan segenap masalah yang kau sebut aku tak akan mengerti, dan kau sellau tak tuntas. Rasa jengah membuatku untuk lebih hening, membiarkan belantara diriku hiruk pikuk.....
 Akhirnya, aku memvonis diriku, tak memberi keputusan apapun, ya apapun, agar mengalir kepada Nya.

Duhai Tuhan, inilah diriku, segenap kurangku
Kukembalikan segala apa yang tak pernah kumiliki, pada awalnya, akhirnya...
Engkau urusi diriku dari hal yang tak kumengerti dan kumengerti.. banyak hal yang tak kupahami, tapi kuyakini.

Az.


Rumah bernama Entah

Standard
Ada sebuah rumah bernama entah, dibangun di atas tanah bernama kemungkinan. Berdiri sendiri di tengah padang rumput... sekelilingnya hutan belantara, hanya adu satu jalan masuk, lurus ke arah barat, mengikuti jejak-jejak kaki kuda. Selain itu, tidak bisa dilewati, pohonnya terlalu rapat, jebakan lumpur isap, juga hewan-hewan ganas.
Jalan satu-satunya itu akan mengarah ke danau. Dari danau dibutuhkan sampan kecil untuk melintas dan lalu sampai di jalan raya. benar, daratan ini tepat berada di tengah-tengah danau, pulau kecil saja, dengan satu rumah bernama entah.

Di sanalah aku tinggal, pada mulanya berbanyakan. Sekian lama waktu membuat kebersamaan kami semakin lekat. Lalu satu persatu pergi, jemputan yang kami sering gosipkan menjadi kenyataan... Aku hanya seorang putri biasa, jemputan tak kunjung datang.
Sering bertanya, mengapa jemputanku belum juga ada? Adakah si penunggang terkena celaka?

Kabar demi kabar kudengar, si burung dara mengicaukan nama-nama penunggang yang hari ke hari berpaling jalan.
"Kau tahu, hati itu bisa berubah putri! Si penunggang melewati danau, ah bahkan sebelum sempat ia menemukan kudanya, ia amat mengagumi kedalaman danau, lalu ia tenggelam sebelum sempat menemukanmu."
"Itu ceritamu hari kemarin," sergahku, gusar.
"Aku lupa, si penunggang yang lainnya. Bukankah ia yang telah maaf, mmm.. mmmm.. sempat bertemu denganmu?"
"Ya pesta yang salah, aku harusnya tidak datang."
"Dia sudah melupakanmu kupikir. Kau tahu apa yang membuatnya melupakanmu? Hahaha, kau keras kepala putri. Dia tidak melihatmu dari awal, dia melihat ketangguhanmu saja, kelebihanmu saja, habis kau tak ada lagi yang perlu dibanggakan, adakah alasan lain seseorang untuk tinggal?"
"Ada. Pasti ada alasan."
"Cinta? Kau pikir, cinta terus ada jika tak kau pelihara?"
"AKu tidak memelihara sesuatu yang sudah pasti ada."

"Putri, kau tahu? Seminggu lalu aku terbang ke negri sebrang. Heran sungguh aku dibuatnya. Wajah penunggang yang kau sering lukis di kanvas, terpampang jelas di tembok-tembok kota, di kertas-kertas besar...
"Apakah itu pertanda yang kutakutkan?"
"Aku melihatnya. Ia bahagia dan siap dengan pilihannya. Itu berarti kau putri harus segera mengetahui berapa ukuran tubuhmu, lakukanlah..."
"Lalu ada berita lainnya? selain itu?"
"Seorang wanita muda, aku takut jika menyebutkan aku pernah mengenalnya, berpakaian sepertimu, menangis diam-diam di hadapan poster-poster itu...
"Apakah kau sudah menjelma menjadi seorang penguping, dara?"
"Ah kau pasti tersentak mendengar apa yang ia katakan...
"Kau telah berhasil membuatku penasaran. Katakan!"

ANgin menelisik pagi, menyuai embun yang gemelayut. Putri adalah diriku yang sepi, menunggu.
Sebuah rumah bernama entah. ditengah padang runput dengan satu jalan keluar masuk.

Apakah aku siap berjalan sendirian? Tentu jalan yang kulewati akan sedikit berbeda. Menembus belantara bukan ide bagus, tapi satu-satunya. Sebelum penyihir itu datang dan menenggelamkan rumah.
"Tenanglah, aku akan memandumu."
Hatiku seolah berkata.
Sjauhnya kuberjalan, menyusuri jejak-jejak yang tak berbekas, berharap selekas-lekasnya jauh dari rumah.
Hingga gelap itu tiba, ada sedikit takut. Aku memutuskan beritirahat di sana, di bawah pohon akasia besar. Menanti, jika saja ada binatang yang bisa berbicara dan menunjukku arah yang benar.

Gemintang di langit. Dulu saat si penunggang itu menemuinya di pesta dengan sinar yang melimpah. Ia teringat benda angkasa bercahaya. Menunjuki bahwa dirinya tak salah menatap. Ah, menyesakkan.
Tapi cukuplah perjalanan malam ini, sebagai penutup bahwa tatapan tak boleh hanya pada satu arah, harus ada kemungkinan lainnya, kemungkinan yang boleh terjadi sebab yang Maha Kuasa menginginkan itu terjadi.

"Apa yang dikatakan perempuan itu?"
"Ulang, perempuan dengan pakaian sepertimu...
"Apa yang dikatakannya? Mengapa ia menangis?"

"Ia menginginkan sesuatu, yang kau miliki. Tapi aku melihat, kau menginginkan sesuatu yang perempuan itu miliki, kau ingin bebas... Ya lupa aku, kau sudah meredeka!"


Rumahku lenyap, dan diriku lenyap, hanya ada satu pasang mata, mengintipku dari celah jendela, menuliskan nama-nama, dan melupakannya begitu saja.

(Az, 05/12/15)





8 Oktober 2015

JANGAN LUPA, GADIS!

Standard
Dengan kepalaku yang mudah-mudahan masih berfungsi dengan baik, kulihat orang-orang saling bertengkar, berkelahi, mengatakan kata kasar, menyalahkan, menyudutkan, mengumpat dan berserapah, satu lawan satu, satu lawan dua, satu lawan banyak, dua lawan banyak, banyak lawan banyak... sedang mereka pernah saling menghargai, saling menyayangi, setidaknya ada salah satunya yang sayang yang cinta, yang penuh kasih, tapi mengapa selalu saja bertikai?
Tidak tahukah mereka, betapa sulit mendapatkan keyakinan?
Banyak orang yang telah bersuami tapi mereka menyia-nyiakan keberadaan suaminnya, ada banyak pula para  lelaki yang telah beristri, tapi seiring waktu mereka mencampakkan ikatan pernikahannya.
Betapa dunia dapat berubah, gampang pula manusia lupa....
Lupa, melupa...
di dunia ini banyak sekali para bujang yang ingin sekali menikah, tapi belum menemukan titik keyakinannya, ada saatnya ia begitu yakin, tapi yang diyakini tak bisa diyakinkan.
Di dunia ini banyak sekali, lebih banyak, para gadis, yang mulai kehilangan masa muda, bersiap mengabdikan dirinya.
Oh bujang, oh gadis. Jangan sampai,
Setelah kau temukan... lalu dirimu menjelma gajah sirkus, pagi bangun, pergi bekerja, tanpa sapa,

Bangunlah istanamu, sedini mula dalam hatimu.
Jangan sampai berita itu sampai di meja makanmu:
Benarkah keinginan itu sebatas pelengkap status?
Lalu saat mereka telah lengkap, mereka menyia-nyiakan pasangannya....?
Bahkan lupa,  bagaimana cara mengancingkan baju kekasihnya.
Itu hanya metafor, ada yang lebih lupa adalah, untuk apa mereka bersatu?
Ingatlah gadis, sejak awal, buat apa kalian bertemu, bersatu?


“Dan masuklah kau beserta istrimu ke dalam syurga yang telah dijanjikan.”

13 Agustus 2015

BUNGA

Standard
Sekuntum bunga yang tumbuh di sebuah pot di sudut rumah akan berbeda dengan sekuntum bunga yang tumbuh di taman terbuka.
Ada banyak cerita yang akan di lewati oleh si bunga pot di sudut rumah. Tapi amboi, bunga di taman terbuka akan rentan sekali oleh jamah tangan pendosa.

Bukankah...
Sebagai bunga, ia tak bisa protes atau sesukanya berpindah tempat, ia hanya menerima.
Toh bunga yang di pot di sudut rumah, ia tak mampu berkata, mungkin saja ia tak pernah memimpikan pergi ke taman, bukan? Saat pagi hari si empunya datang menyiraminya, mengambil helai daunnya yang jatuh, ia begitu suka cita. Itu sudak cukup baginya.

Begitu juga, bunga di taman terbuka mungkin ia selalu menantikan seseorang di sana, sekedar lewat atau duduk sebentar, lalu bercakap padanya lewat seulas senyum. Itu telah membuatnya lebih bermekaran setiap harinya.

namun yangg pasti, diantara keduanya... tak pernah memimpikan apa yang ada di luar keduanya, sehingga menyiksa semuanya. Cukup, itu baginya sudah cukup.

Keduanya begitu tekun dan istikomah dengan rasa penerimaannya.

Keduanya lebih sibuk memikirkan nikmat daripada rasa inginnya atau mimpinya.
Apa yang telah ia terima kini jadi semacam mabuk yang meinmbulkan syukur...

Ya, posisi keduanya, tempat keduanya memang membuat ia dan ia akan berbeda..
Keduanya pasti berbeda...
Tapi masing-masing ia, masing-masing mereka menjadi dirinya.

Adapun aku bukan bunga, aku bisa bergerak dan memutuskan.
Entah untuk ke depan, jika saja rasa jenuh telah membuatku lelah jadi bunga liar di taman terbuka, dengan ijin Mu Rabb, sampaikanlah rasa ingin tertutupku, untuk jadi bunga di pot sudut rumah.

Rabbi...

Jika aku masih senang menjadi bunga yang amat liar, dalam pandangan mereka yang tak terjaga, dalam hidup yang peuh liku, ke sana-sini sendiri. Suatu saat, dimana aku sungguh merindukan sebuah hunian, yang amat sepi karena buah hati yang tidur pulas, lalu ku putar surat Al-kahfi perlahan...

Dimana, bukan debu jalan yang singgah di wajahku, tetapi asap debu dapur untuk menyenangkan perut si teman hidup. Akan ada dimana bunga menjadi mekar di pot rumah, setelah ia diambil dengan terhormat oleh tukang kebun taman, dan dihadiahkan pada anak sulungnya yang salih.

Lalu ditempatkannya aku di sudut rumah, memberikan warna wangi dan kesegaran hijau.
Setiap pagi, menyapaku, bahkan sebelum embun.
Lalu, dimana nikmat yang kudustakan.

Begitulah saat ini, aku masih menunggu takdirku, tentang tukang kebun yang akan datang padaku. Memindahkanku dengan hati-hati, pada tahun-tahun ini, atau tahun-tahun depan, saat kemarau berlalu, dan musim penghujan datang, mengusir pergi.

Hatiku telah bahagia, kini dengan memimpikannya, sudah cukup membahagiakan. Tak boleh ada yang berteriak di rumahku, cukup senyap, lalu senyuman, lalu tertawa yang di tahan, saling sapa, saling mendoakan, saling meyayangi, hanya itu.

Impian sekuntum bunga di taman belakang. Mungkin hanya bunga rumput, yang tetiba bermimpi: angin menghantarkannya pada sebuah pot di sudut rumah. Bagaimana jika sebaliknya?

3 Agustus 2015

SELAMAT PAGI KESAYANGAN

Standard
Pagi, sesuatu dimulai sejak pagi... ia semangat atau tak semangat, dimulai sejak pagi. Bagaimana sikap ia kala hadapi udara yg terasa sejuk, bobo manis lagi tarik selimut, atau bergegas mandi, cuci ini itu, atau malah duduk sambil seruput kopi?

Aktivitas yang penuh nanti, tak usahlah menjadi trauma, hidup ini mudah kok, hanya pikiran saja yang kadang kala membuat ruwet...

Memiliki banyak tugas, memang sangat membebani, apalagi jika beban itu tak kunjung usai pula. Tugas yang tak usai itu karena diri tak dibiarkan fokus.
Kadang menyebalkan berada pada situasi yang tak kondusif untuk semedi, diam sedikit pasti diteriakin, Eli......................

Allahu Akbar! Ingin rasanya senyap, tetapi aku tak bisa senyapkan diri, rasanya aku pun sering ngerecoki orang kok... jadi anggap saja ini latihan!

Ketika semua orang bertanya jadwal harianku, bagaiamana pun itu sangat mengganggu konsentrasiku. AKu harus menjawabnya? Kalau kata ibu, eli apa susah sih jawab sebentar terus nulis lagi, kerjain tugas lagi?

Tapi ibu, itu sangat menjengkelkan, give me a time, please....
Ini saja, kamu punya waktu justru malah dibuang cuma buat nulis curhat aneh gak jelas ini?
Kalau terbaca orang, ini akan bikin semua tak nyaman karena mereka merasa telah ambil waktu kamu.

Oh mom, bukan itu maksudku. Aku ingin kita saling menghargai dalam hal waktu saja.

 Jadi, eli harus gimana?
Pertanyaan bagus yang berusaha nyari penyelesaian. kebingungan itu hanya ada dalam kepalamu sayang. Sini... tugas itu pasti berlalu dan selesai jika dikerjakan dengan baik sungguh-sungguh... 
Hadapi dengan senyuman, cintai dirimu, dan lakukan yang menurutmu baik, satu-satu saja..

Jangan menyalahkan orang, apalagi merasa tak punya waktu, naudzubillah.. ingat barokah waktu?
Allah yang memilki, meskipun banyak waktu dengan tugas yang sama, jika Allah inginkan mengerjakannya lama ya lama. Minta ke Allah agar tugas itu bisa selesai tanpa buang banyak waktu...

Sayang, banyak dan barokah itu beda. Begitu lah waktu yang kita miliki memang terbatas, itu sebabnya ia menjadi amat berharga kan?

Sekarang, jika terus terusan nyalahin situasi, kamu tak akan pernah menang!
Yok, anak ibu, atur ritme mu, dan ubah cara pandnagmu. Tersenyumlah!

Az.


Rasa suka yang berkurang?

Standard
Selepas mengganti nama di faesbuk dengan nama asliku, dan tentu saja menghapus semua kenangan tentang nama Zahraa.. aku mulai bertanya-tanya tentang isi hati sendiri.
"hei, benarkah engkau suka seseorang itu?"
"Entahlah, kok jadi pudar ya? Kayanya enggak!"

Polos kan?
Memang betul, jika perasaan terus ditanya: apa benar dia yang kamu sukai?
Kok hati jawabnya sering menyalahi.
Alasannya, kenapa pudar?
Mungkin karena kesibukan? Entah lah, tak usah memaksaku. Intinya ada beberapa hal yang memang akan hilang dengan sendirinya. Entah karena suatu peristiwa, ataupun sikap yang ditunjukkan olehnya saat menemui masalah, atau ya memang sudah waktunya pudar.

Tapi, jika saja bisa dicegah, aku ingin rasa suka itu tetap ada, tetapi malah tak bersisa, lalu ampasnya apa? Ampasnya hanya rasa "ilfil".

Entahlah, mungkin aku lelah, untuk sesuatu yang berharga saja bisa pudar, apalagi yang tak berharga.

benar saja, suka atau tak suka itu, Tuhan yang atur, seingin apapun suka, kalau tak suka ya enggak suka aja, titik. atau sebaliknya....

Menuliskan tentang suka atau tak suka, membuatku paham, hanya Allah yang paling kita cintai di atas segalanya.

1 Agustus 2015

ANAS!

Standard
Pagi ini saat hendak masak sayur kentang, ingat teteh.. tetiba saja, selintas, ingat jika Hp pun tak guna, karena tak berpulsa, lewat fb, line atau WA? Hp tetehku masih jaman dulu, yang tak sediakan aplikasi itu.
Akhirnya sambil mengupas kulit kentang, cuma bisa inget saja...
Tring! Hp bunyi, tepat! Itu tetehku, bertanya kenapa jarang sms, marah yah, apa kabarnya... dengan semangat aku balas panjang lebar, sembari curhat ini kentang enaknya diapain ya?
Cuss aja di send, dan hasilnya not deliver, Gagal Donk!
Karena rasa rindu yang tak terkira, mengontak beberapa teman "minta tolong" buat diisi in pulsa, walau tak sahut-sahut pula, dan akhirnya ada saja yang baik hati segera kirim. 30 menitan!
Pesan itu pun terkirim! Alhamdulillah.

Sekilas pesan itu datang lagi dengan isi yang lebih heboh, keponakanku ada yang melamar.
Usiaku dan keponakan hanya selisih satu tahun, sekarang aku segera menginjak 23, dia 22. Saat lebaran kemarin, aku bertanya ke kakak (Ummu nya keponakan itu), "Kapan teteh nikah?"
"Moal waka nikah saurna, ngantosan Bi Eli..."
"Oh..." aku tersenyum saja, "Ish!"

Saat ketemu juga sempat kubertanya langsung, "Udah mau nikah nih? Segera syawal hahaha..."
"Ih, bibi heula wae, abi mah ke atos bibi.."

Syukurlah jika akhirnya kabar itu datang, bibinya masih saja asyik dengan dunia sendiri.
Siapa, siapa yang lamar? Aku setengah kepo. Keponakan yang satu ini memang spesial: tidak suka pacaran, lebih banyak diam, calm lah, sederhana, cantik, bersih, putih dan baik hati... Ah kumaha bibi na da. Hei!

"Ke sini saja," jawab teteh enteng, membalas sms dengan enak, tak tahu adiknya kepo setengah mati.
"Namanya?"
"ANAS!"

Otakku berputar, Anas, Anas mana? Siapa Anas?
"Putranya Bapak A, Ibu B, teman liqoan teteh."

"Hah?"

Seperti halnya cincin yang tak akan tertukar masuk jari, yang baik selalu dipasangkan dengan yang baik, relasi baik-baiklah semua...

Aku melihat diriku, kurang baik, masih senang tertawa, kurang keibuan, dah panjang benar alasanku.
Syukurlah, kabar ini membahagiakan tapi juga menyedihkanku, karena itu tandanya, aku harus lebih berjuang untuk perbaiki diri!

Hikhikshik.... 

27 Juli 2015

JALAN HIDUP

Standard
entah...

Terlalu suka dengan kata jalan hidup, aku amat yakin bahwa jalan hidup telah tertulis sejak aku belum ada di dunia. Kini tengah kulalui bagian yang tak kusukai, rasa perih telah menyita airmataku.. Tuhan aku tahu terluka atau tak terluka, itu mutlak keputusanku, tetapi aku tak mau membohongi... betapa peristiwa ini telah melukaiku, banyak hal yang telah kufokuskan untuk semuanya, yang kini seolah sia-sia...

aku ingin menyalahkan sikapku, aku ingin menyalahkan karakterku, aku ingin menyalahkan diriku sendiri... sampai lelah terus kusalahkan, tapi tak ada yang kudapatkan dengan menyudutkan diri sendiri. aku harus bahagia, bukan orang lain yang akan membahagiakanku, hanyalah hati yang tabah menghadapi ini.... itulah kemenanganku.

seolah-olah aku adalah makhluk kasar tak berperasaan, lalu mengapa kutulis semua ini? Segenap perasaanku mengalir bersama hal yang kusesali, terkadang lisan kehilangan tali kekang dan menyakiti...

Entahlah, ujung mana yang akan memihakku, dan cerita akan terus mengalir, bersikap lemah lembutlah zahraa.. sungguh tiada kebenaran dalam kesombongan dan congkak, dalam keras dan amarah.

Dengarlah, hati kecilmu... tersenyumlah, tak sepenuhnya engkau salah, teriamlah dirimu, maafkan dirimu, dan berjalanlah ke depan, maju terus, jangan hiraukan apapun...
ada kala ujian itu datang untuk menguatkanmu, bahwa kelak kau berhak tersenyum... doakanlah yang terbaik.

Ananda, bunda terluka hari ini, maafkan jika air mata ini kembali tumpah dan bunda akan selalu berusaha agar kuat, bukankah ananda berhak terlahir dari seorang ibu yang tabah?    

Az, 27/7/15; 22:41 WBBI

22 Juni 2015

Masih tentang Skripsi

Standard
Pagi ini, hendak lagi dibagi... 09;26...
Skripsi hampir beres, dan hanya harus bersabar untuk mendapat Acc dosen pembimbing, melengkapi dokumen daftar sidang skripsi... dan aku masih tetepa saja ingin menulis sebentar, sesekali...

Allah, malu sekali. Rupanya ini rasanya menjadi orang yang bodoh, bahkan untuk mengerjakan ini-itu, terpaksa minta tolong, karena tak berkapasistas dalam hal tsb. atau mungkin saja, agar diri bisa jadi makhluk sosial, tak bisa hidup kita sendiri tanpa membutuhkan orang lain...

Ramadhan tahun ini spesial, dan selalu spesial. Jika Tahun lalu disibukkan dengan KKN, tahun kini dengan aktivitas skripsi. Bagaimana dengan ibadahmu? selintas pertanyaan itu datang... meminta direnungkan...

Fagfirli, malu untuk mengakui untuk perubahan sikap ini. Setahun setengah bukan waktu yang singkat untukku bermetamorfosis lebih baik dalam hal kepribadian, kini masa itu sedikit demi sedikit terkikis kembali, dan benteng itu hampir roboh oleh musuh...

Kepribadian yang ku ketahui, keras kepala, kasar, dan seabrek kata lainnya, seolah-olah datang kembali dan membuatku menjadi orang yang jahat untuk sekitarku. Ya Allah dengan berkah Ramadhan Mu, perbaikilah akhlakku...

"Allahumma ini ala dzikrika, wa syukrika, wa husni ibadatikk...."
Rasanya ingin terus melafadz itu, untuk diri yang semakin jauh...

Ingat teh Risa dulu saat tingkat 4, menuliskan bagaimana membuat aktivitas skripsi menjadi aktivitas ibadah? Kita ibarat sedang berjalan dalam koridor, awal dan akhirnya sudah ALlah tentukkan, tinggal kita mengisi sepanjang awal dan akhir itu dengan ibadah atau tidak?

Siang malam di depan laptop sholat tidak khusuk, siang malam baca referensi tilawah keteteran... apa ini? apa ini berkah skripsi?

hati terus meracau...
Apalagi yang kau harapkan dengan seperti itu semua jadi ibadah?
Tahajud sudah jauh kemana, aktivitas gadang telah membuatmu menjadi manusia kerbau yang menjijikan. Duha sudah tinggal cerita, kemana ini kemana? bahkan untuk merapikan kamar saja? Lupa jika Allah menyukai keindahan?

ada yang telah terjadi kemarin Tuhan, dengan segala khilapku...
Bahkan sikapku yang keras sudah mencuri tabiat, membentak sana-sini karena tak sejalan...
Minta bantuan sana-sini, tak peduli laki-laki atau.... siapapun...

Mungkin saja aku lupa, minta tolong pada Tuhan?
Fagfirli... Rabbi...

Ini, ada dalam kehinaanku,
Taubat ya Rabb...

Skripsi ini tak ada apa-apanya jika saja aku mau sedikit kerja keras dengan terus berharap padaMu.
Kalau saja Aa Gym bilang, pasti begini: Tangan ngerjain skripsi, hati ingat ke Allah...

Pagi ini sudah uji turnitin, skripsi hampir beres tinggal membuat daftar isi, daftar tabel, lampiran gambar dan lain-lain. Semoga perjalanan ini adalah perjalanan yang mendewasakan.

____Untuk Cinta ALlah pada hambanya yang luar biasa "Amazing Love"_____

Az. 09.41, Paseh. (terimakasih untuk orang2 baik yang sudah membantuku)


31 Mei 2015

Bolak-Balik

Standard
Bergemuruh dalam jiwaku, rasa sesal yang tak bisa kutarik kembali. telah berlalu sebuah masa, saat amanah tak bisa kujaga. Tak bisa kutarik semua yang telah keluar, dan lalu hilang terbang melayang...

Ada saatnya Allah mengajarkan dengan sebaik pengajaran, bahwa setiap titipan akan diambil kembali. Sejak mula kita tak membawa apa-apa... termasuk hati kita sendiri.

Jangan kaget jika pada mulanya senang berubah jadi tidak senang, karena Allah yang bolak-balikkan hati dengan sekejap. Jangan kaget juga jika asalnya gak seneng, eh malah doyan, itu karena Allah yag buat demikian.

Jadi, jangan minta ke orang buat seneng dengan diri kita, minta Allah saja yang maha membolak-balik hati..... da urusan hati mah Allah yang urus, kita mah, berusaha jadi orang yang disenangi Allah saja. Cukup. Da kita dimuliakan Allah atau dihinakan bukan karena orang lain, tapi karena diri kita sendiri.


_____________________

11 Mei 2015

SKRIPSI

Standard
Skripsi terbaik angkatan 2011, itu salah satu mimpi yang saya tulis di buku "One Hundred Dream"

Ada yang menjadi konsekwensinya, Allah akan menguji sesuatu yang kita yakini. Untuk menguji sudah kukuhkan kita dengan keyakinan itu?
Jika ujian itu semakin membuat dekat kepada Nya, itulah keberuntungan.

Jika ingin menjadi orang dengan skripsi terbaik, tentu langkah yang diambil harus berbeda. Usaha yang dikeluarkan harus lebih ekstra. Jangan fokus pada tujuan akhir yang baik, sekarang fokus pada prosesnya.

Terkadang ingin berlari dan berteriak, tapi sadarlah di dunia ini yang harus sempurna adalah ikhtiarnya. Banyak orang di luar sana yang sedang kebingungan, sama! Tetapi hanya sedikit yang bergerak mencari jalan keluar.

Jika sayang orang tua segera selesaikan, optimalkan. Bersemangat!
Bersihkan hati, maafkan diri, maafkan orang lain, taubat, perbaiki ibadah. Ya Allah, semangat.... zahraa!

Menunda-nunda tak akan menyelesaikan masalah.

15 April 2015

Pundak yang Kuat

Standard
Sampai tulisan ini kutulis, aku masih saja tidak mengerti mengapa sering dalam hidupku aku merasa sendiri dalam keramaian, kelelahan saat orang terlihat segar bugar. Lalu aku duduk di depan laptop dengan mata yang nanar. Pesan singkat itu terus datang dan memintaku melakukan banyak hal. Sering ingin berteriak dan mematikan handphone saja, mematikannya untuk selamanya. Akan tetapi aku selalu sadar, bahwa apalah aku teh apa....

Belum lagi tugas yang utama (baca: skripsi) kubuka (kerjakan), aku telah kelelahan. Sejak kemarin, menuruti perintah pesan-pesan SMS. Ya Allah...

Tolong buatkan makalah ini, sudah beres makalhanya, tolong cari ini materi ini, tolog itukan, tolong balas sms, ini soal-soalnya, sudah beres tugasnya? nanti siang diambil.

Oke, bismillah, sebenarnya tidak apa-apa, aku bisa saja bertahan mengerjakan semuanya. Akan tetapi kasihan pada dia, tak akan bisa berlatih, tak cakap, jika terus mengandalkan orang lain, bahkan siapa yang kuliahnya?

Hanya satu cara saat ini, selain sabar mengerjakan semua permintaannya, adalah mendoakannya. Sudah berulang kali, mengatakan, tolong kerjakan sendiri, ilmu bukan buat orang lain, tapi untuk diri sendiri. Yang ada malah marah, dan menuntut tidak akan kuliah, dan sebagainya. Ya Allah, paahal kuliah juga untuk dirinya sendiri.

Sering jengkel, akan tetapi, Allah pasti sengaja mengirimkan orang seperti dia kedalam kehidupan, untuk  maksud tertentu yang "pasti ada hikmahnya".

Sudah, tidak apa-apa. Semoga ilmunya berkah saja. Maafkan kadang tubuh yang bahkan bukan punya sendiri pun, banyak merasa lelah, dan ingin istirahat. Padahal siapa yang menguatkan? Siapa yang melelahkan? Tak akan terjadi jika Allah inginkan. Maka, kita minta saja pada Allah, agar dikuatkan. Tak akan pundak salah memikul beban.


6 April 2015

Sudah Malam: Tulis saja apa saja

Standard
Assalamualaikum ananda? Sudah lelapkah? Malam ini bunda menulis lagi, dalam sunyi mengharapkan satu dua percakapan dengan bisikan, semoga Allah berkenan.
Ananda, malam ini bunda hanya akan bercerita tentang seekor burung yang kehilangan sayapnya.
Suatu hari ada seekor burung yang tengah asik terbang dengan riangnya, sanat riang, bahagia, tertawa-tawa.
Tanpa ia sadari seorang pemburu tengah memiciingkan matanya, dan siap-siap membidik sang burung.
Saat letusan itu terdengar, sang burung jatuh, jatuh ke dahan pohon rindang.
"bagaimana nasibnya bunda?"
"apakah ia mati?"

Tidak ananda, burung itu merintih di atas dahan. Rintihannya terdengar oleh semut di dahan-dahan.
"kenapa engkau merintih wahai burung?"
"Sayapku, sakit sekali, aw sakit.."
Semut itu memeriksanya, terlihat sayap kiri sang burung berlumuran darah, segar, dan anyir.
"Aku.. aku sakit, tak bisa terbang lagi, bagaimana ini tolong aku."
"Bersabarlah engkau burung, aku akan mengambilkanmu ramuan."
Burung itu terus merintih kesakitan...." cepatlah semut,"

Ramuan apa bunda yang semut bawa?
Bersabarlah ananda, semut itu datang dengan kawan-kawannya. Dijulurkannya lidah mereka. Luka sang burung menjadi kering.

Apakah burung itu bisa kembali terbang bunda?
Tidak bisa sayang.

Kasihan ya Bunda.

Begitulah ananda tidak boleh terlalu riang dan bahagia saat memiliki 2 sayap, karena akan ada dimana kehilangan 1 sayap, masih bisa disyukuri.

Bunda.....
Semut itu baik ya, mau membantu burung.
Iya, walau kecil, ya.

Sekarang, tidur karena hari telah malam. Semoga Allah mencintaimu :)

2 April 2015

Penyemangat :D *_*

Standard
Mengapa belum juga terlelap wahai mata? Sedang lingkar hitam jelas terlihat.
Apa pula yang menjadi alasannya?
Aku bahagia mengetahuinya, bahwa suatu hari aku akan tersenyum dengan riang diantara sela bunga yang kita tanam sendiri dengan kedua tangan.
Aku bahagia mengetahui bahwa bidadari kecil dan pangeran kecil itu telah tumbuh menjadi sosok-sosok yang saliha dan salih.
Aku bahagia mengetahui bahwa di masa depan, aku akan dicintai oleh anak-anak bermata bening yang memanggilku umi.

Siapakah yang paling sengsara umi? tanyanya.
yang paling sengsara ialah orang yang mengemis kasih dari manusia, nak.

Siapakah yang paling rugi umi? tanyanya lagi.
yang paling rugi ialah yang umurnya bertambah, tapi sikap dan pribadinya tak pernah jadi dewasa.

Umi, siapakah yang paling bahagia?
Yang paling bahagia adalah mereka yang beruntung nak.
Siapa kah yang beruntung umi?
Mereka yang khusuk :)

Khusuk umi?
Iya khusuk dalam mengabdi dan mencari ridho serta cinta Tuhannya...
meyakin pertemuan dengan Nya.

Umi, dimanakah Tuhan sekarang?
Aku memeluknya dengan bahagia, bahwa Tuhan ada dan Maha Melihat, Maha Penyayang, dan Maha Mendengarkan, Maha Dekat, dan Maha Mengetahui.

Umi, ceriataknlah bagaimana umi bertemu abi?
Hahaha, rasanya ingin tertawa, tapi tawaku tertahan, karena cerita abi spesial pakai ceplok telor...

Bagaimana umi, bagaimana?
Abi Tuhan takdirkan hadir saat umi diuji dengan berbagai fitnah.

Abi orang baru, yang umi kenal melalui murobbi :)
Murobbi apakah itu umi?
Guru mengaji nak.

Ayo hafalan yusufnya sudah siap?
Siap Umi...
Dan aku bahagia tidak menjadi apapun, tidak jadi istri presiden pun, tidak menjadi sosok pun, karena dunia teramat singkat, dan fana. Untuk jundi Allah... yang terbaik akan dipersembahkan.

menjadi ibu rumah tangga, yang berusaha mencintai kebenaran dan ilmu.
Allah :) bantu untuk cita-cita ini. Will be done!

31 Maret 2015

Pidato KEMULIAAN AKHLAK RASULULLAH Oleh: Zahra Kelas 4

Standard
 Tidak menyangka loh, kelas 4 SD sudah bisa bikin naskah pidato sendiri. Simak-simak-simak!!!!

ASSALAMU’ALAIKUM............................................

KALAU ANDA MAU KE KOLAM
JANGAN PERGI DI WAKTU MALAM
KALAU ANDA MENGAKU ISLAM
JAWAB SAYA MEMBACA SALAM

Hamdan Wa Syukron lillah, Solaatan wa salaaman ‘ala rosulillah. Ammaa ba’du.
Puji dan syukur  marilah kita panjatkan kehadirat Allah yang maha gofur  yang memberi kita panjang umur semoga kita  tidak kufur. Solawat beserta salam semoga tercurah limpahkan kepada hakim tertinggi jaksa termulia yakni HABI BANA,WANABIYANA MUHAMAD SAW, kepada keluarganya, sahabatnya, para tabiin-tabiatnya, hingga umatnya yang senantiasa menghidupkan sunnahnya hingga akhir jaman. Aamiin.
Yang terhormat Para Alim Ulama’
Yang terhormat Dewan juri
Yang terhormat bapak dan ibu guru yang hadir pada acara ini
Juga teman-teman seperjuangan yang saya banggakan.
Bismillahirrahmanirrahim………………………………
Kemuliaan akhlak Rosulullah saw. Rosulullah saw diciptakan oleh Allah dengan kesempurnaan akhlak yg sangat mulia  sebagai pedoman, sebagai acuan, sebagai contoh bagi umatnya .
Hadirin rohima kumullah
Telah sampaikah kepada kita, betapa mulianya akhlak Rasulullah?  Bukankah beliau yang menjenguk tetangga yang membencinya, bukankah beliau yang menyuapi yahudi buta yang senantiasa menghinanya, bukankah beliau yang meminta kebaikan untuk thoif yang mengusirnya?
Lalu mengapa kita lupa, bukankah Rasulullah yang mengasihi anak yatim, senang menyambung silaturahim, hormat kepada orang tua, santun dalam berkata, tidak pernah mencaci dan mencela, tidak menyimpan dendam?
Sesungguhnya benar surat Al-Ahzab ayat 21, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Hadirin rohimakumullah
Sebagai umat kangjeng nabi muhammad sudah seharusnya kita mencontoh apa yang telah ia contohkan kepada umatnya....tapi ironis sekali dengan apa yang terjadi sekarang ini
Generasi Muda sekarang lebih gemar berbuat maksiat. Tukang mabok, tukang tarok, tukang mukaken androk ,tukang monok jeng nu denok. naudzubillahhimindalik
Benar sekali perbedaan kita dengan Rosul hanya pada kata sedikit saja.
Kalau rosul sedikit makan kita sedikit sedikit makan,  betul?
Kalau rosul sedikit sedikit baca Quran kit`a sedikiiit baca  quran?
Kalau rosul sedikit-sedikit bersedekah , kita sedikit sekali bersedekah .....
Astagfiurllah aladzim……..
Hadirin rohima qumullah
Kejadian seperti itu, pernah terjadi pada jaman Rosulullah saw , oleh karena itu disebut lah dalam sejarah  nabi yaitu jaman jahiliah atau jaman kebodohan. Lalu kondisi seperti itu beransur membaik ketika Rosullullah saw mulai menyampaikan risalahnya.
Maka dalam hadits Riwayat Ahmad dikatakan INNAMA BUNGISTU LIUTAMMIMA MAKARIMAL AHLAQ. SESUNGGUHNYA AKU DI UTUS UNTUK MENYEMPURNAKAN AHLAK MANUSIA.
Hadirin rohimakumullah
Mari bersama sama kita benahi kembali akhlak kita, kembali pada ajaran ajaran Allah, melaksanakan apa yang dicontohkan Rosullullah,  agar kita  benar benar menjadi ummat yang terbaik, yang akan mendapat kan syapaat di hari akhir nanti.  Aamin yarobbal alamiiin
Sekian uraian dari saya, mohon maaf kekurangan dan kehilapannya, yang benar dari Allah ,yg salah jangan dibawa ke rumah. NUN WALKOLAMI WALA YASTURUN WALLAHU WAFIK ILA AKWA MITTORIK.
WASSALAMUALAIKUM WASSALAMUALIKUM WAROHMATILLAHI WABARAKATUH

Pidato untuk Anak SD Beberapa Tema Oleh Eli Nurlela A.

Standard

Demam PPL adalah mendampingi anak untuk lomba. Salha satunya lomba pidato :)
Ada beberapa pidato yang saya buat, dengan beberapa tema. Silakan di baca, semoga bermanfaat.


Tema: Etika Kehidupan

Assalamualaikum wr wb.
Dewan Juri yang saya hormati, bapak ibu guru yang saya cintai, dan teman-teman yang saya banggakan.
Hamdan Wa Syukron lillah, Solaatan wa salaaman ‘ala rosulillah. Ammaa ba’du.
Puji dan syukur  marilah kita panjatkan kehadirat Allah yang maha gofur  yang memberi kita panjang umur semoga kita  tidak kufur. Solawat beserta salam semoga tercurah limpahkan kepada hakim tertinggi, jaksa termulia yakni HABI BANA,WANABIYANA MUHAMMAD SAW, kepada keluarganya, sahabatnya, para tabiin-tabiatnya, hingga umatnya yang senantiasa menghidupkan sunnahnya hingga akhir jaman. Aamiin yaa Rabbal alamiin.
Terimakasih sebelumnya kepada Master of Ceremony (MC), atas waktunya. Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya ………….. perwakilan dari SDN 2 Setiawaras, akan menyampaikan sedikit ilmu tentang bagaimana kita beretika dalam berkehidupan, terutama berlaku sopan santun kepada guru-guru kita.

Berlaku sopan santun merupakan sikap yang mulia. Sikap yang akan meninggikan kedudukan pemiliknya. Ibu bapak guru adalah orang-orang terbaik, yang paling berhak mendapatkan sikap mulia ini.

Kita bisa menulis dan membaca, karena siapa?
Kita jadi bisa tahu beraneka ilmu, karena siapa?
Tentu karena GURU!
Kita bisa jadi ahli komputer, ahli matematika, jago internet, pintar berbahasa. Sebab siapa? Karena guru!
Pepatah jawa mengatakan “Wong tuwo nggedekno rogo, Guru nggedekno roso.” Orang tua yang merawat dan membesarka jiwa dan raga kita, lalu guru membuat kita kaya ilmu.
Sebab itulah, guru sangat berhak mendapat perlakuan mulia, seperti bagaimana kita memuliakan orang tua.

Bagaimana cara berlaku sopan santun kepada guru-guru kita? Berlaku sopan kepada guru, seperti kita berlaku sopan terhadap orang tua.
1.      Tersenyumlah jika berjumpa, lalu ucapkan salam.
2.      Di sapalah jika berpapasan, dan berkabarlah.
3.      Berkata lembut dan tidak membantahnya.
4.      Mendengarkan perkataannya dan mendahulukan kepentingannya.
5.      Dan terakhir adalah, mendoakannya.

Guru-guru kami, terimakasih atas jasa-jasamu. Engkaulah pahlawan, bagiakan embun penyejuk di pagi hari. Tiada bisa terbalas, karena engkau pahlawan tanpa tanda jasa.

Tetaplah berlaku sopan santun pada ibu bapak guru kita. Dimulai dari sekarang, dari sendiri, dan dimulai dari hal yang kecil. Ibda’ bin nafsik, mulai dari diri sendiri untuk selalu membiasaka senyum salam sapa sopan dan santun.

 Dewan Juri yang saya hormati, bapak ibu guru yang saya cintai, dan teman-teman yang saya banggakan. Sekian uraian dari saya. NUN WALKOLAMI WALA YASTURUN WALLAHU WAFIK ILA AKWA MITTORIK. WASSALAMUALAIKUM WAROHMATULLAHI WABARAKATUH.

Pidato 2 Tema: Keterbukaan dan Kejujuran 

Assalamualaikum wr wb.
Dewan Juri yang saya hormati, bapak ibu guru yang saya cintai, dan teman-teman yang saya banggakan.
Puji dan syukur  marilah kita panjatkan kehadirat Allah yang maha Rahman  yang memberi kita kesempatan untuk saling mengenal dan berkasih sayang. Solawat beserta salam semoga tercurah limpahkan kepada hakim tertinggi, jaksa termulia yakni HABI BANA,WANABIYANA MUHAMMAD SAW. Aamiin yaa Rabbal alamiin.
Terimakasih sebelumnya kepada pembawa acara, atas waktunya yang diberikan  kepada saya. Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya ……(nama)…….. perwakilan dari SDN 3 Karangsambung, akan menyampaikan sedikit ilmu tentang bagaimana kita harus memiliki sikap keterbukaan dan kejujuran.
Sikap terbuka dan jujur adalah sikap yang mendatangkan kebaikan-kebaikan, dan setiap kebaikan akan membawa ke Syurga. Begitulah hadistnya. Barang siapa yang jujur maka ia akan mujur, barang siapa yang terbuka ia akan beruntung.
Saat ini kita dapati, sikap terbuka dan kejujuran menjadi barang yang amat mahal. Mengapa mahal? Karena sudah sulit ditemukan. Dimana lagi kita temukan kejujuran digantikan kebohongan, dan keterbukaan digantikan oleh sikap menyembunyikan.
Apa buktinya?
Hal mudah yang paling sering kita temukan adalah perbuatan mencontek saat ulangan, curang saat ujian. Adapun hal besar yang sering saya temukan di berita-berita televisi, adalah maraknya para pejabat bangsa yang korupsi.
Apakah penyebab perbuatan mencontek, curang dan korupsi?
Penyebabnya adalah hilangnya rasa keterbukaan dan kejujuran dari dalam dirinya. Summa naudzubillahimindzalik…

Dewan Juri yang saya hormati, bapak ibu guru yang saya cintai, dan teman-teman yang saya banggakan.
\Barang siapa yang telah hilang dari dirinya kejujuran, maka hidupnya akan ditimpa kesulitan dan selamanya diliputi kebohongan. Barang siapa hidup dalam kebohongan maka ia seorang munafik.
Lalu bagaimana caranya agar kita tidak terjatuh dalam kemunafikan? Bagaimana caranya mengembalikan sikap terbuka dan jujur dari dalam diri kita?
1.      Merasa di awasi oleh Allah.
Sikap ini menjadikan kita selalu berhati-hati dalam bebuat dan berkata, kita tidak bisa berbohong karena yakin Allah menyaksikan segala yang kita lakukan.
2.      Meyakini bahwa keterbukaan dan kejujuran akan mendatangkan kebaikan
Apapun masalahnya, bagaimanapun akibatnya, walaupun pahit, kita yakin jujur membawa kebaikan, maka: akan menjadikan diri kita manusia yang senantiasa jujur dan terbuka, baik pada diri sendiri maupun orang lain.
Saya jadi ingat sebuah lagu yang mengajak kita untuk selalu berkata jujur:
Jujurlah padaku bila kau tak lagi suka
Jujurlah padaku bila kau tak lagi cinta…

Walau lirik lagu tersebut bercerita tentang perasaan, tapi kita ambil hikmahnya, untuk senatiasa menghiasi hidup dengan kejujuran.
Dewan Juri yang saya hormati, bapak ibu guru yang saya cintai, dan teman-teman yang saya banggakan.
Sebagai penutup saya sampaikan sebah hadist: Allah menyediakan sebuah rumah di teras syurga untuk yang menghindari debat walau benar, dan Allah menyediakan sebuah rumah di tengah syurga untuk mereka yang meninggalkan dusta walau ketika bercanda.
Jadi mulai hari ini, mari kita tanamkan dalam diri kita sikap keterbukaan dan kejujuran. Dimulai dari sikap merasa diawasi oleh Allah dan meyakini bahwa keterbukaan dan kejujuran akan mendatangkan kebaikan. 
Dewan Juri yang saya hormati, bapak ibu guru yang saya cintai, dan teman-teman yang saya banggakan.
Sekian uraian dari saya, mohon maaf atas kekurangan. Semoga bermanfaat, wassalamualaikum wr. wb.

Pidato 3 Tema:
Tenggang rasa (empati) antar sesama ( 8 menit )
Assalamualaikum wr wb.
Dewan Juri yang saya hormati, bapak ibu guru yang saya cintai, dan teman-teman yang saya banggakan.
Puji dan syukur  marilah kita panjatkan kehadirat Allah yang maha Rahman  yang memberi kita kesempatan untuk saling mengenal dan berkasih sayang. Solawat beserta salam semoga tercurah limpahkan kepada hakim tertinggi, jaksa termulia yakni HABI BANA,WANABIYANA MUHAMMAD SAW. Aamiin yaa Rabbal alamiin.
Terimakasih sebelumnya kepada pembawa acara, atas waktunya yang diberikan  kepada saya. Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya ……(nama)…….. perwakilan dari SDN 3 Karangsambung, akan menyampaikan sedikit ilmu tentang bagaimana kita harus memiliki tenggang rasa atau berempati pada sesama.
Dewan Juri yang saya hormati, bapak ibu guru yang saya cintai, dan teman-teman yang saya banggakan.
Siapakah manusia yang paling baik?
Siapakah manusia yang akan dicintai oleh sesama?
Manusia yang paling baik adalah yang paling banyak bermanfaat untuk orang lain. Adapun manusia yang akan dicintai oleh sesama adalah manusia yang paling baik akhlaknya.
Akhlak terbaik dari manusia ditunjukkan dengan kepeduliannnya pada sesama. Hari ini di Indonesia telah terjadi banyak bencana, mulai dari bencana lumpur lapindo sidoarjo yang tak pernah tuntas, meletusnya gunung sinabung di Sumatra utara, banjir di kota-kota, sampai kecelakaan air asia. Lalu, bagaimana sikap kita sebagai manusia mendapati kenyataan demikian?
Apakah kita akan terus menutup mata?
Apakah kita akan terus menutup telinga?
Apakah kita akan terus berdiam diri dan berpura-pura tidak tahu?
Tentu saja sebagai manusia, kita tidak boleh berbuat demikian. Kita adalah mereka, mereka adalah saudara kita. Lantas apa yang harus kita lakukan? Jawabannya adalah: Membantu sesama.
Membantu sesama sebagai wujud sikap kita berempati pada mereka, sebagai wujud diri kita memiliki tenggang rasa pada mereka.
Apa yang bisa kita lakukan untuk mereka?
Ulurkan kebaikan kita, apapun yang kita dermakan itu lebih baik daripada membutakan diri dan menulikan diri dari mereka. Makanan minuman, pakaian, obat-obatan, buku-buku, dan motivasi dari kita, itu yang mereka perlukan.
Ingatkah kita? Tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai orang lain, seperti ia mencintai dirinya sendiri. Jadi mari kita tanam dalam diri kita, rasa empati pada sesama, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulai dari sekarang juga.
Berlaku tenggang rasa atau berempati pada sesama, akan menjadikan hidup kita indah dan berkah, menuju Indonesia yang bermartabat dan Berjaya.
Dewan Juri yang saya hormati, bapak ibu guru yang saya cintai, dan teman-teman yang saya banggakan. Sekian uraian dari saya, mohon maaf atas kekurangan. Semoga bermanfaat, wassalamualaikum wr. wb.