30 Desember 2013

Surat Romantis

Standard

(Sedikit kenangan tentang Gebyar November)

Salam penuh cinta untuk sahabatku yang mungkin sekarang tengah dalam keadaan yang harap-harap cemas menghadapi kegiatan yang begitu luar biasa akan terselenggara.
The Aprilia sahabatku, maafkan daku untuk amanah yang selalu tertangguhkan, ini. Mohon ampun atas segalanya, sampai dengan saat ini, hanya ini yang bias eli kerjakan untuk selebihnya silahkan teteh isi atau coret saja jika dalam proposal tersebut banyak cacatnya (hikz)
Bukan Eli tidak ingin menghadiri rapat ini, sungguh bukan itu. Andai saja tubuh ini bias dibagi, atau punya jurus seribu ah jangan seribu dua bayangan saja, niscaya amanah yang begitu besar ini tak akan ku lupakan dan abaikan.
Sungguh meskipun raga ini tak bertemu eli tidak akan mngecewakan teteh, lagi. Teteh Eli mohon bantuan untuk:
1.       Sama-sama merumuskan tujuan gebyar November ini
2.       Minta rekapan dana dari bendahara, Atau tiap bidang membuat rekapan dana dikumpulkan ke sekretaris.
3.       Acara dari seminar guru cerdas berkarakter
4.       Surat-suarat yang akan didahulukan dikeluarkan
Berdasarkan pengalaman FSA kemarin, surat harus segera dikeluarkan, darurat bahkan sebelum proposal jadi:
1.       Suarat Undangan untuk ikut lomba mipa dan seminar oleh sekretaris, dengan lampiran:
Lampiran juknis pelaksanaan dari acara.
Lampiran  formulir dari kesekretariatan.

Famflet juga dari publikasi
2.       Jadi untuk semuanya: yang ingin gebyar November jadi tanggal sekian, harus bekerja cepat.
Teteh afwan jidan, karena mungkin pa cece kesininya besok, eli targetkan proposal beres besok ya J adapun tujuannya segera dilengkapi atau disepakati atau di isi  dulu. Nanti malam eli ke kostan teteh ya untuk mengambil hasilnya dan juga untuk editing. ^^
Salam cinta dari saudarimu


Eli Nurlela A.

Hanya Mau Nulis

Standard
Mari kita sejenak jernihkan pikiran kita dari masalah-masalah yang telah kita titipkan untuk diselesaikan oleh Tuhan.

Mari kita sejenak menjadi pribadi yang utuh dalam bersyukur, dan menikmati setiap detik yang berlalu ini dengan penuh rasa terimakasih.

Bahwa hidup memang harus dilalui entah dengan cara bagaimana, kita boleh menentukan mau dengan cara seperti apa melewati jalan kehidupan ini. Apakah dengan tergesa penuh ketakutan, atau dengan tenang dan penuh kesabaran?

Ada kalanya kita harus berhenti untuk memastikan jalan yang kita tempuh ini benar atau salah, dan belum lah terlambat jika kita mau menelususri kembali jalan-jalan itu, atau kembali pada titik saat kita merasa benar atau sedang dalam kondisi terbaik.

Tapi sungguh, waktu akan terus berlalu dan meninggalkanmu. Jadi, mulailah kenali waktumu dan manfaatkan ia dengan penuh syukur.

Sungguh tak ada yang lebih berharga selain waktu yang kita gunakan untuk sepenuhnya menjadi hamba yang menjernihkan diri dihadapan Tuhan dan bersimpuh dihadapannya dengan perasaan rendah lagi hina.

Semoga Allah menutup aib hamba aamiin.

Jika tadi malam ada seorang hamba berbuat dosa. Satu malam ini Allah menutup aibnya dari manusia dan mungkin telah memaafkannya, maka apakah kamu jika berada dalam posisi seorang itu akan menceritakannya dengan bangga? Bahwa tadi malam begini dan begini? Dan Allah menutup aibmu, sedang mulut kamu sendiri yang tak menjaganya. Sungguh berbangga dengan dosa adalah pangkal hilangnya rasa malu.

Semoga Allah mengampuni aib-aib hamba aamiin.

Jika seseorang melakukan kesalahan terhadap Allah. Jika seseorang berbuat jahat dan menganiaya dirinya sendiri. Maka Allah sama sekali tidak dirugikan. Maka kembali pada cinta Nya adalah jalan yang harus dipilih agar selamat, mohonlah ampunan dan simpan kesalahan itu untuk dirimu sendiri. Sesali ia, cukup, jangan kau ceritakan pada orang lain, agar Allah memaafkan segala aib yang bahkan kita sendiri merasa aib itu tak terampuni.

Tidak, bahkan janganlah kau berputus asa dari rahmat Allah, sungguh Allah mengampuni dosamu semuanya. Jangan pernah berpikir bahwa dosa-dosamu terlalu banyak dan melampaui ampunan Allah, sama sekali jangan. Kasih sayang Allah pada hambanya melebihi kasih sayang seorang ibu pada anaknya.

“Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ampunilah hamba, dosa-dosa hamba, orang tua hamba, dan semua dosa mukmin mukminat. Tutupi aib hamba, dan mohon jagalah hati dan lisan hamba. Karena sungguh Engkaulah sebaik-baiknya penjaga. Bahagiakanlah dan selamatkanlah kami di dunia dan di akhirat. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.”

(Az, 03;52)
My Sweet Room (27/12/13)

Mati

Standard

Jika aku mati esok pagi, apa yang akan terjadi?
Masih akan samakah wajah dunia tanpa hadirku. Atau malah dunia ini akan lebih baik?
Tak perlulah aku menjawab pertanyaan aneh itu, masihkah Tuhan ridho hambanya yang penuh cela ini hidup dengan bebas seperti ini?
Bebas menghirup udara, bebas menatap dunia, bebas mengekpresikan pemikiran ini bahkan dengan masih kuat menulis dan menulis.
Tapi ah, jika aku mati esok. Apakah wajah dunia ini masih sama?

A

Standard
"Kita dapat nilai apa ya untuk listening?"
"Kayanya C deh."

Kita sedang pesimis, dan hanya tangan Tuhan yang bisa kami harapkan. Setelah sadar bahwa selama ini usaha kita belum maksimal, terus minta hasil maksimal ke Tuhan. Malu, sangat malu.
Bagaimana ya caranya biar Tuhan mau memaksimalkan hasil sok padahal usaha kita tidak sebanding?

Hubungi ibunya biar dapat tugas tambahan saja?
Ah, apa bisa ya?

Kuliah, dan merasakan sedang menjadi seorang mahasiswa. Menyenangkan, sangat menyenangkan. Terimakasih ya Allah, saya bisa merasakan bagaimana nikmatnya kuliah.

Gak apa-apa nilai A juga (hehehe), yang penting bermanfaat saja ilmunya nanti. Ayo belajar lebih keras dan lebih cerdas!

Az.

Annisa Zahraa

Standard
Seharusnya malam ini ia terpejam. Tapi musik di rumah sebelah membangunkan. Ada apa ini? Mengapa malam-malam begini begitu ramai? Ia melihat jam dinding tua di sudut ruangan, waktu masih menunjukan pukul dua dini hari. Masih malam, tapi mengapa begitu ramai di luar sana? Ada apa gerangan?

Tiba-tiba ia merasa kedinginan. Selimut tebalnya berada tepat dibawah kakinya. Ah, ia kembali bergumul dengan selimut yang ia cintai. Tiba-tiba musik di rumah sebelah terdengar lebih kencang dengan nada-nada yang aneh dan sumbang.
Ia tak bisa memejamkan mata, udara semakin dingin dan selimut tebalnya yang ia cintai tak lagi bisa menahan rasa dinginnya yang mematahkan bulu dan merontokkan gigi. Benar-benar dingin, ia kedinginan.

Musik di rumah sebelah kini melemah. Dan suara-suara tawa bergantian seperti menggantikannya, terbahak -bahak menertawakan nasib satu orang ke orang. Ada apa malam-malam begini tertawa? Tidakkah cukup siang hari mereka bercanda dengan hidup?

Ia tak kuasa untuk tidak melihat, siapakah gerangan yang malam-malam begini tertawa-tawa? Tuhanpun meminta manusia untuk bangun dini hari bukan untuk tertawa melainkan untuk menangis dan berdoa.

Masih dengan berselimut tebal, ia berjingkat mendekati jendela. Dibukanya jendela yang menghadap ke rumah si tetangga. Diluar temaram, tampak langit malam berwarna abu, dan rumah sebelah mendadak sepi. Tak ada musik atau orang tertawa.

Ia tidak percaya. Ini seperti mimpi? Benar, mungkin ini hanya mimpi. Mimpi terkadang seolah nyata, pikirnya.
Ia bermaksud menutup jendela dan melupakan musik aneh dan orang yang tertawa terbahak. Namun, saat ia hendak menutup jendela.........................
Awan hitam menjelma...
Angin bertiup sangat kencang......
dan auman srigala terdengar menyayat nyayat..
anjing-anjing liar menyalak di kejauhan....

Ia melihat sesuatu bergerak kearahnya, hitam tinggi berkelebat dengan cepat, sangat cepat, melesat seperti kilat.
Belum sempat ia membuka mulutnya, atau mengedipkan matanya, atau menutup jendela, makhluk itu telah berada tepat di depannya dan bertanya, "Dimanakah rumah Annisa Zahraa?"

Ia terhenyak, baginya ini pertanyaan kutukan. Siapa yang perduli. Siapa makhluk ini. "Annisa Zahraa telah berpulang, dua malam kemarin." Ia menjawab tiba-tiba, seperti terkena sengatan.

Makhluk ini menyeringai, menakutkan. Seperti kedatangannya, kepergiannya pun terasa sekejap mata, secepat angin membawa harum melati dari nisan bertuliskan: "Annisa Zahraa, lahir 08-09-1992". Ia terduduk dengan menangis di bawah jendela jam dua dini hari lebih dua puluh menit.


*Dengan uraian air mata. Az.





Menulis dan Cinta

Standard
"Sebegitu cintakah engkau pada menulis?"
Benar, saya mencintainya. Dalam keterbatasan saya mencintainya.
Ada banyak kemelut yang menggerogoti otak ini, dan bahkan hampir-hampir kepala ini pecah. Menulis adalah meledakkan semua kemelut itu. Meskipun pada awalnya pemikiran ini rumit, sangat kompleks, seperti benang kusut, maka dengan menulis dengan satu kali ledakan: Darrrrrrrrrrrrrr semua beres!

Aku melihat bahwa orang-orang mulai banyak memiliki masalah seiring bertambahnya usia. Tidak terlihat lagi keceriaan masa kecilnya, meskipun nyatanya saat menghadapi masalah mereka sering merengek tak ubahnya anak kecil.
Maka kini dengan caraku, dengan menulis aku belajar untuk tidak merengek.

Aku sering melihat bahwa orang-orang mudah melupakan setiap kejadian yang dilaluinya atau dialami orang lain. Sehingga timbul dalam jiwaku, bagaimana cara orang-orang itu tidak pernah lupa akan makna kejadian itu, tentu melalui pengalamanku yang ku refleksikan dengan pengalamannya.

Maka kini dengan caraku, aku mencintai menulis, dengan kata yang sederhana, ada saatnya aku menjadi pembelajar sukses yang takkan berhenti sampai aku tiada di bumi.

Lantas Salah Siapa?

Standard
Siapa di dunia ini yang ingin disalahkan? Sama sekali tidak ada. Bahkan semut kecil atau nyamuk kurus yang menggigit diam-diam tidak mau disalahkan.
Maka wahai manusia, yang dengan Cinta_Nya, Ia karuniakan padamu hati untuk merasa: Berhentilah menyalahkan diri sendiri atas orang lain atas apa yang telah menimpamu.
Semangat, orang lain hanya bisa berkata sedang kamu sendiri yang akan memutuskan untuk mendengar atau tidak.

20 Desember 2013

Ijinkan

Standard
Ijinkan malam ini kubertutur dengan jujur, entah bintang akan percaya atau tidak. Karena malam ini kelabu, amat kelabu.

Bukan karena sedang bersendu, namun kelabu karena ia tengah rindu. Rindu kembali pada jalan Allah yang indah.

Jalan Allah mungkin sulit, tapi hati yang lapang akan paham. Bahwa ada keindahan dibalik durinya mawar, bahwa ada kesejukan dibalik kabut pagi. Sungguh hanya hati yang tenang yang akan paham.

Wahai hati yang tenang, ijinkanlah hati melihat lebih terang, ijinkanlah hati mendengar lebih tajam. Jalan-jalan Allah yang telah nampak lurus, tinggal dilalui saja dengan rela. Karena sungguh Allah telah menyeru kita untuk kembali padaNya dalam keadaan rela atau terpaksa.

Wahai hati yang kini lembut, ijinkanlah waktu memberi keteguhan bahwa sungguh jika saatnya telah tiba semua akan sangat sangat sangat indah. Bukankah Allah telah berjanji, Allah akan mengganti semua hal yang kau lepaskan karena Allah dengan sesuatu hal yang lebiiiiiiih baik? Allah tak pernah menyalahi janjiNya. Jadi mengapa harus risau? Tunggu saja kejutan dari Nya dengan hati yang berbunga.

Telah kuijinkan hatiku bertutur dengan juur. Meski langit malam masih tetap kelabu, dan ini bukan berarti sendu. Rindu kembali menjadi diri yang tegar. Perih indah, tegar indah, dan menagis itu indah.

Semua yang indah-indah memang terlahir dari kerelaan.

Padepokan, UPI Tasikmalaya
Az.


13 Desember 2013

Penantian itu Perlu Sabar

Standard
Benar, penantian itu perlu sabar. Ketika cerpen-cerpen itu telah diedit semampunya. Kini tersendat di penerbitan. Entahlah, bagaimana ini bisa terjadi.

Kesal, hanya sesal. "Iya, nanti dikirim dulu ya, lay outnya."

Tapi gak muncul-muncul juga diemail.

Aduhh, zahraa ayo belajar memancing, biar lebih sabar :)

Antologi cerpen ayooolah lahir, daku tak sabar T_T

Berjalanlah

Standard
Wahai Zahraa yang hatinya lembut, berjalanlah kedepan, biarkan hatimu yang memimpin.
Luka karena tusukan tak usah kau hiraukan
atau cubitan yang menyesakkan usahlah buatmu gulana

Ada air tawar segar yang tersedia disana
Ada anggur segar yang manis

Tersenyumlah zahraa

Bintang disana tak ingin kau luka
Malam pun tak beranjak jika kau muram
Tersenyumlah dan lepaskan penatmu.

Biar lisan tetaplah berkata semaunya, percantik hatimu dengan kesabaran
Penantian dan kematangan
akhirnya akan berbuah sangat sangat sangat maniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiisssssssssssssssssssssssss!

Tutuplah mata dan telinga
tetaplah minta Allah berikanjalan terbaik
Terindah.

(Aula, 22:02 13-12-13)

20 November 2013

Hati-hatilah

Standard
Berhati-hatilah kawan dengan lisan, sekali ia telah meluncur ia tak bisa ditarik kembali. Jagalah lisanmu kawan, semakin banyak ia berkata, semakin banyak pula ia menyakiti.
Berhati-hatilah berkata :)
Berhati-hatilah
Tak ada yang lebih menyakiti
Kecuali lisan
Jika luka karena tusukan pisau ia bisa sembuh
Tapi luka karena tusukan kata-kata ia akan membekas di hati

Berhati-hatilah kawan dalam berucap
Kendalikan lisanmu
Saudaramu jangan kau sakiti
Sesalah apapun ia
lakukanlah dengan caramu yang terbaik

Kala paham bahwa ia tak sempurna
 Sahabatmu penuh cela
janganlah lisanmu sampai menyakitinya .

Keep smile

#Az

19 November 2013

Epilepsi

Standard
Epilepsi atau ayan atau kejang-kejang
Terjadi aktivitas listrik abnormal dalam otak
Ini bukan kutukan
Tidak menular
Epilepsi terbagi dua:
Epilepsi umum (hilang kesadaran sebentar)
Epilepsi parsial

Hidup dengan epilepsi memerlukan perjuangan :)
semangat dan salam juang untuk mu para epilepsi
Subhanallah hidupmu begitu istimewa :)

16 November 2013

Catatan Harian Zahraa (Annisa Zahraa Bidadari Allah)

Standard


 Mengedit sebuah karya, seperti terjerumus kedalam karya itu sendiri. Mengaduk-aduk perasaan, menyelami kata dan isyarat maknanya. Memang asyik, tapi melelahkan jika tidak sepenuh hati.

Di pagi buta ini, aku telah duduk dan siap kembali menyabik-nyabik karya. Peralatannya sudah terkumpul, pisau pikiran yang focus dan tajam, dua cawan yang mengimpun darah salahnya, dan sedikit penghilang sakit, kopi hitam manis. Mimpiku untuk sebuah organisasi kepenulisan: membuat sebuah buku perdana, “Antologi Cerpen” menjadi pemicunya. Buku ini harus “harus” terbit sebelum masa kepercayaan ini berlalu. Sebelum mentari pergi dan hanya nama yang dijadikan pajangan untuk dikenang. Sebelum 05 Pebruari nanti.
Dalam hidupku, inilah satu-satunya organisasi yang sangat kunikmati perjalanannya. Sangat terasa hari-harinya, mulai dari nol saat ada tekad untuk merubah haluannya, mulai dari mengandung dengan rasa bebannya dan sampai saat anak itu telah lahir, kini sedang belajar mengunyah kata….dan mendengar banyak bunyi.
“Semangat Zahraa….!” Bisik bathinnya sendiri.
Ada banyak cara Tuhan untuk menguji mimpinya ini, telah banyak tangisan yang ia berikan untuk melahirkan mimpi ini. Terluka memang, ada. Tapi di sisi lain, Tuhan tak pernah berhenti mengirimkan kecupan-kecupan penyemangat hatinya. Tuhan berikan ujian sepaket dengan cara penyelesaiannya, Tuhan berikan sakit dihati sepaket dengan obat pelipurnya, Tuhan berikan panas sepaket dengan kesejukannya. Tuhan berikan kesempatan ini sepaket dengan akhir yang pasti menyenangkan. Yakini itu Zahraa.
Baru empat cerita pendek yang ia rampungkan dan terasa sempurna baik dalam pemilihan kata, penulisan kata, tata letak, dan tanda baca. Dan masih ada 21 cerpen lainya mengantri untuk dibedah.
Ini bukan pertama kalinya ia terus mengotak-atik cerpen ini. Namun selalu saja ada yang kurang lengkap di matanya. Zahraa memang menginginkan yang terbaik untuk karya pertama ini, tak ingin ada kesalahan pun luput dari pantauannya. Tak ingin, bahkan satu koma atau titik pun harus berada pada tempatnya.
November, bulan ini terlalu cepat berjalan kah? Ataukah mimpinya yang berjalan seperti keong, amat sangat lambat? Mimpinya untuk menerbitkan dan melounching buku antologi cerpen  telah ia rancang sejak Juni lalu. Dan memang jauh dari perkiraan, jika prosesnya akan sedemikian lama dan rumit,  sampai dengan kini nasibnya masih terseok tanpa penyelesaian. Proses, ya proses.
“Zahraa, menulis itu bukan masalah bagaimana tulisan ini cepat selesai dan buku segera jadi. Tapi  menulis itu bagaimana kamu menghasilkan karya yang baik, yang berkualitas, yang bukan sekedar tumpukan kata, yang bukan hanya berisi kata-kata sampah tak guna.”
Astagfirulloh, Subhanalloh, tamparan yang keras, tapi rasanya nasihat ini begitu menyejukan J. Nasihat seorang tua, seorang kakak, atau seorang pemerhati, atau seorang kawan kepadanya.
Benar, proses menulis itu jauh lebih indah untuk dituliskan. Benar proses menulis itu jauh kebih mengesankan dibanding menikmati tulisan dan berkata-kata rumit.
Kini tak ada lagi kata “main-main” dengan proses. Kini tak ada lagi kata “asal jadi” dalam proses. Kini tak ada lagi kata “menyerah” dalam proses. Proses bagi Zahraa seperti daur yang tak henti-henti yang harus diperjuangkan dengan keras dan penuh perasaan. Proses, kata ini begitu nikmat jika disandingkan dengan kata hamasah. Proses dan hamasah. Satu paket. Aku dan kamu satu paket. Baca dan Tulis satu paket. Cinta dan Benci satu paket.
Zahraa..
Satu paket tulisan ini, naskah ini telah kugauli setiap malam, setelah hari-hari lalu kuabaikan ia, kubiarkan sepi sendiri tanpa pemenuhan harapan.
Tanggal 22 November ini, sore hari mudah-mudahan mendung, Zahraa berniat bertemu dengan orang yang akan menjamah paket tulisannya lebih jauh di Bumi Siliwangi sana. Yang akan menerbangkan kata dan ceritanya seperti kunang-kunang dimalam pekat. Yang akan membuat dan menyuguhkan tarian untuk para pecinta hujan, langit dan senja (adik-adik). Yang akan memberikan jawaban atas kegundahan hati para pujangga.
Naskah ini, satu paket, telah kububuhi cinta. Setiap subuhnya kujejali ia dengan  bumbu-bumbu kopi hitam manis dari cangkirku. Naskah ini akan segera terbit akhir November ini, dan segera ku lounchingkan dalam gemerincing rindu awal Desember. I will make it happened!
Keindahan dibulan Desember akan terbit. Daku merindu. Biarkan hujan tetap datang, dan tanah gembira menyambutnya, dan pohon bunga rumput bernyanyi riang. Biarkan mendung mendayung sendu, daku tetap berjalan dan menjelmakan asa di hatiku sendiri. Hanya ketika aku sendiri yang mengerti, dan  akan tiba pada akhirnya, merekapun akan mengerti: Jika langit basah bukan karena hujan, melainkan karena sesuatu yang masuk kedalamnya, kedalaman hatinya.
Zahraa masih berkutat dengan cerita yang menunggu ia bedah dengan secangkir kopi hitam manis. “Ini proses Neng, bersemangatlah. Penulis hebat lahir dari seriusnya ia berproses! Never Give up! Be Best, Be Strong, and Be Your Self. Tanpa citra dan penilaian makhluk. Keep Do Best for your God, your parents and for everyone who loving you.”
Zahraa tersenyum, diliriknya kalender dan jam dinding kamarnya. 17 November 2013, 07:00. Tepat, tanggal ini menakjubkan, dimana ia menyadari tentang hati, tentang pengorbanan, tentang sakit, tentang keluarga, tentang cita-cita.
Tanggal ini pula dia dan seorang sahabatnya bermimpi: Menjadi KAYA. Hehehe J
KAYA Hati, Kaya Harta, Kaya Harti, Kaya karya. Aamiin.
Allahku, Rabbku, Tuhanku yang Maha Lembut, Zahraa tersenyum memanggil-manggil nama Tuhannya. Terimakasih ya Allah, hari ini begitu melegakan. Cintamu bukan cinta yang lain, akan kujaga untuk senantiasa dan selamanya mengisi hari-hariku, menjadi penyemangatku, menjadi inspirasi setiap tulisanku. Menjadi cinta yang kudendang disetiap malamku. Biarlah hanya hati yang mengerti, ampuni kelalaian selama ini. Saat ini Engkau pasti tengah mengawasiku, selalu mengawasiku, betapa sejuknya^_^. I’am everything I’am, because You love me.....
Rancabango, November di pagi hari.