8 September 2017

Hadiah

Standard
Ini adalah tahun syukur, bulan penuh berkah, Dzulhijjah..

Masih jelas tertulis di dalam buku diary usangku, aku akan menikah tanggal 15 September 2017.
Bagaimana pun, Allah penggenggam rencana.. selalu memberikan nikmat percis sama dengan yang kita minta, bahkan jauh lebih indah dari yang kita harapkan.


Alhamdulillah, rasa syukur kepada Allah eli akhirnya sampai pada ujung penantian ini...

Ujungnya yang membahagiakan, setelah melewati masa uji 2016, yang bahkan eli gagal melaluinya, tapi Allah tak pernah mengurangi imbalannya...

Eli ingin berterimakasih, buat banyak orang yang sudah mendoakan eli diam-diam, terang-terangan, sabar dengan akhlak kurang baik dari eli, pengertian, dan selalu memaafkan... makasih ya semuanya...

Eli tidak bisa membalas semua kebaikan yang eli rasakan hari ini, terutama keluarga, tapi eli hanya punya Allah, yang maha kuasa dan gagah, mudah bagi Allah memblas kebaikan semuanya, semoga Allah membalsanya dengan yang lebih baik...

Juga buat kamu, yang kini ku tahu namanya, alamatnya, dan nama orang tuanya... Beberapa hari lagi kita akan saling menemukan, semoga Allah luruskan niat kita, hingga segala yng kita lewati ke depan, menajdi sumber pahala tiada putus...

Akan ada banyak hal ke depan yang kita tak tahu, karena belum pernah menjalaninya berdua, tapi berjanjilah, apapun yang akan kita temukan ke depan, kita akan saling memaafkan kekurangan masing-masing... musibah dan masalah itu pasti selalu ada, jadi mari biasakanlah.

Aku ada di belakang, di sini, di rimbun-rimbun doa, meminta pada Allah, agar kamu ada dalam penjagaannya, hingga keadaanmu baik-baik saja hingga kita bertemu dalam keadaan sudah saling terikat janji kepada Allah.

Bismillah, semoga ruhani kita semakin kuat ya, biarlah sudah hari kemarin yang masih salah, kita mulai menata esok dengan lebih "taat ke Allah", bersabarlah... ini tak lama.

See you, jaga kesehatan.

(On my special bornday, i pray to Allah: hope you, will be my only one, be the best for my future: Jannah)

30 Juli 2017

Lebih Cenderung Mana?

Standard
Assalamu'alaikum kamarku yang berantakan, blogku yang isinya tak karuan...hehehe
Mumpung lagi sendiri, di kosan baru (baru pindahan dua hari), and this is second night i here...!

Dear malam sebelumnya uring-uringan karena chat seseorang yang nggak membuat nyaman. Siapapun tak akan nyaman sih, jika dimintai klarifikasi atas masalalunya. Seperti Khalid bin Walid yang terus menerus dimintai tanggung jawab atas perang Uhud (yang banyak menggugurkan para syuhada) ketika ia sudah masuk islam, plis... itu gak terjadi kan? Semua orang maklum, semua orang jug abisa salah. Seperti hal nya Umar Al Khattab, musuh islam no 1 saat ia masih jahiliyah, apatah ia tak berhak jadi sahabat kesayangan Rasul? Maslalu itu tertinggal sangat jauh di belakang... siapapun sekarang dan esok berhak jadi orang baik! Maka islam melihat bukan ia di masalalu tapi kesungguhan ia di masa kini.

Kita cenderung yang mana?
Tak bisa move on dari masa lalau orang lain, lalu tak mmeberi ruang padanya untuk lebih baik. Dan dengan santai menjalani maksiat (toh yang dia katanya baik tetep aja sama kayak kita).... Runtuhnya zaman, bukan karena kedzaliman kemaksiatan semata, tapi karena diamnya orang-orang baik. Lalu, pembunuhan karakter orang baik (itu strategi syaitan) agar apa? Iya agar rusak lah teladan, lalu putus asa lah mereka, dan mereka tenang menjalankan maksiat...

Menuduh orang lain kemudian... sampai lupa bahwa setiap orang teh berhak berubah. Kalo udah negatif yang terpola di otak tentang si A, mau si A berubah sebaik apapun, tetap aja kurang meyakinkan: jangan2 ada maksud nih si A baik terus, dia munafik, pinter ya di depan baik, di belakang busuk, dan sebagainya. Tak puas juga, gunjingkan sama teman, "jangan bilang-bilang ya", masih belum puas: gunjingkan ke tetangga.

Well, wahai diriku, aku mengingatkanmu: Berilah orang lain sebuah ruang, timbanglah ia dengan sebuah neraca keadilan, tempatkan ia di tempat kosong, zero based... adillah engkau memperlakukan orang bahkan sejak engkau mempersepsikan orang itu... pandnaglah dari titik NOL.

Karena kita tak pernah tahu ujung kehidupan seseorang. Bukankah keselamatan itu di tentukan oleh ujung hayat seseorang, lebh cenderung pada kebaikan atau kemaksiatan?
Kita pun payah untuk mengistiqomahkan diri, agar tetap ada pada jalan yang diridhoiNya, dan berharap menemukan ujung usia di jalan itu... aamin... Robbana afrig 'alaina sobrow watawaffana muslimin..

Ya Allah karuniakan eli (dan yng baca tulisan ini) kesabaran, dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (muslimin). Aamiin...


Az. (30/7/17) : 23:39 WBBI.

3 Mei 2017

April 2016 dan April 2017 (Welcome Mei)

Standard
April 2017.
Alhamdulillah ya Allah, sagala anu atos dipaparin ku Gusti pikeun abdi. Teu aya cela sagala rencana Gusti anu pang saena, alhamdulillah.

-----
26 April 2016.

Bismillah…
05: 38 PM
Menulis sampai jam 6 sore.
Ini bukan tulisan yang khusus untuk siapa-siapa, hanya untuk diriku yang tidak tahu, situasi seperti ini akan sampai kapan menekanku?
Menghitung hari… demi hari.. demi hari… kulalui, senin kemarin, dan kini selasa, esok rabu, lalu kamis, jumat, dan selesai…. Toleransinya di sana, pekerjaan yang lama kutunda…
Aku tidak menulisnya sebagai beban, itu adalah kewajibanku, mesti tertunaikan… perlahan-lahan…
Aku tidak menyesal telah menjadi aku yang sekarang, aku bahagia menjadi diriku, dengan segala yang menjadi amanhku… ini adalah amanah Allah yang sebisa mungkin harus kujalani dengan sebaik-baiknya.
Dear diriku
Kamu jangan terlalu bersedih dengan dunia ini, ini hanyalah persimpangan, sejatinya kamu akan meninggal, dan kamu tidak akan dihisab sebab perbuatan orang lain, kamu dihisab dengan perbuatanmu sendiri.
Soleha, jadilah dewasa, solehlah dirimu, solehkanlah hatimu…
Berbuat baiklah, dan berkorbanlah untuk membahagiakan orang lain.
Tidak apa-apa kamu tersusruk tidungdung titajong tisoledat, teu nanaon soleha, sok sing jembar, sing dewasa, unggek we jeung unggeuk, ulah ngabantah, ulah deui-deui siga Kamari, bedegong heuras, maksa ka batur, sok sanajan apal naon anu makasa eta kahadean…. Heup geulis, sok we sing ngarasa rumasa, sing rasa rumasa, anjeun lain sasaha asalna, sing ulah nganyerikeun ibu jeung bapa, heup, heup bageur…geulis, heup! Sing karunya ka kolot.
Sok geura ceurik, tapi ulah hareupeun batur, sok geura nyegruk, ulah ek bebeja ka sasaha, aya Allah anu tos maha uninga karurupet anjeun geulis, sok balilihan sok geura ceurik, anjeun kuat. Allah masihan ujian ka anjeun kusabab Allah apal anjeun kuat nandanganna.

Naon anu matak jadi rupet ka anjen geulis?
Kahayang anjeun pikeun ngadahup teu diluluskeun? tuluy merebet kaditu kadieu, ka kulawarga asli anjeun?
Leres?
Eumhhh geulis, emh soleha… eta the sanes datang ti ibu atau bapa atau kulawarga, eta datang salawasna ti Gusti Allah, aya maksad hade anu kudu ku hidep di ala, dipipit sarina, dicrukcruk nepika karasa naon hikmahna, sing sabar ngalakonanna.
Heup anjen soleh, sing khusu ibadah, loba tobat, sing dipasihan kakiatan, kasabaran, katabahan, in sya Allah, anjeun tangtu apal yeh Allah gampang pisan ngabolak-balik hate, kitu oge mung umpama anjeun masrahkeun sagala karupet hidep ieu ka Allah.
Hayu ayeuna, urang solat, tuluy dzikir, tuluy maos quran, pek anjeun nyuuh ka gusti, pek anjeun menta, pek anjeun mundut, Allah nu bakal ngurus urusan anjeun geulis, tos ulah deui ngarasa boga masalah, masalah anjeun ieu deet, deet pisan, tuh tingali masalah Rasul ditolak ku umatna, tuh tingali palestina, tuh tingali gadis2na,anu tiap poe dilecehkeun ku tentara zionis, tuh tingali Syria, masalah anjeun mah deet, heup, ulah ngagugulung diri sorangan, hayu buka diri, doakeun asalah batur nu leuwih ebat, masalah nagara… doakeun we pa jokowi, doakeun pak budi, doakeun ustadz anasah, kabeh pamimpin anu keur narima amanah sing dikuatkeun… loba keneh jalma anu keur menderita, keun ayeuna eli sing kuat nya.

---
Mangga, nuhun…

Alhamdulillah.

5; 58 PM
 Az.


19 April 2017

Jurnal Syukur 2

Standard
Alhamdulillah untuk hari ini, hari Rabu yang seperrti biasa selalu ditunggu-tunggu.
Terimakasih atas kesempatan bangun sebelum subuh (karena sedang diuji susuah bangun), terimakasih atas kesempatan sehat masih bisa nyuci, beres-beres, makan lahap, duha, dan beraktivitas lainnya...
Hari ini sudah memperbaiki printer alhamdulillah, semoga barokah untuk semuanya.
Alhamdulillah hari ini juga sudah diberi waktu untuk memuhasabah niat, karena niat ini sangat penting dalam setiap moment hidup yang kita lakukan, jadi kalau salah niat habis sudah...

Seperti biasa, eli hari Rabu memngajar les privat caca-ardel...
Memnag diakui, niat pertama kali untuk menambah penghasilan agar perbulan bisa ngasih bantu SPP untuk yang lagi sekolah di Kujang :D tapi di pikir-pikir... sambil bawa motor, dipikirin terus... Kalau niat cuma itu, ya itu yang akan aku dapat, ya cuma dapat dunia doank, akhirat ZONK, "famang kana hijrotuhu fidunnya yusibuha...aduh jadi ingat hadist ke 1.

Padahal mengajari anak-anak baca, nulis, dan hitung, itukan bisa jadi amal jariah? bener gak? Kenapa niatnya bukan karena Alla saja, supaya anak2 kelak bisa mendapatkan ilmu yang lebih banyak dengan bisa membaca, bisa menulis.... Kalau niat karena Allah semata, semua bisa di dapat, ya pahala Allah didapat, ya uang bulanan juga udah pasti, ya itu tea jdinya kalo karena Allah mah, kita (guru) bisa lebih sabar menghadapi anak-anak...

Alhamdulillah, ini muhasabah niat...

Termasuk niat menikah. #eh.

Alhamdulillah, maka Allah akan tambah. Alhamdulillah.

16 April 2017

Jurnal Syukur 1

Standard
Menyela waktu sebentar, mencoba menulis jurnal syukur akhir-akhir ini.
Biarkan saja waktu mengalir, menyeret kita pada episode demi episode, biarkan saja semua terjadi, kita terlibat di dalamnya selama masih bernafas... yang jelas, selalu inget Allah saja, ituh.

Alhamdulillah, untuk hari ini ya Allah.
Untuk semua hal yang aku rasakan, aku terima, aku takutkan, aku sesali, dan aku inginkan.
Alhamdulillah, Engkau jadikan segala yang kurasakan yang kupikirkan sebagai pemanis hidup yang bernilai. Wa syukurillah, engkau jadikan rasa senang dalam hatiku tumbuh perlahan, semoga rasa syukur ini membuatku semakin dekat padaMu.

Tada berkah dalam urusan, jika urusan itu membuatmu melupakan Allah.
Senantiasa ingatkan eli ya Allah. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.

18 Maret 2017

jari tentara

Standard
Rindu adalah jelmaan kematian yang mengintai
Sedangkan jari-jari kita adalah tentara yang berjuang

Aku ingin menghentikan tentara itu untuk diam sejenak, tapi aku tak mau menjadi orang lain. Lalu kubiarkan ia mengetik lagi, di malam-malam sunyi, saat semuanya lelap. Apakah untuk mengklarifikasi segala jenis tuduhan yang menyakitkan? Tidak.

Ada saatnya, kita tak perlu menjelaskan apapun tentang diri kita pada orang lain, tentang keputusna kita, tentang sikap kita, tentang kelakukan kita, tentang tulisan kita... akan ada saatnya orang itu tahu dan paham sendiri terhadap apa yang menjadi keputusan kita, akan ada saatnya...

Karena aku sellau yakin, tak usah kita payah-payah menjelaskan siapa kita pada orang lain, toh orang yang mencintai kita tak membutuhkannya, pun orang yang membenci kita tak akan mempercayainya. Biarkan saja, abaikan, skip, tetap baik sangka, tetap mendoakan, tetap mendoakan kebaikan... karena hakikat manusia adalah makhluk yang bermoral, yang dalam hatinya akan cenderung pada kebaikan, dan berpotensi menjadi baik terus menerus... juga kita, aku tak mau menjadi hakim untuk siapapun, entah diriku sneidri, dia,, atau kamu.. bukankah kamu juga begitu?

Aku lelah membahas ini lagi, terus menerus, tapi kiranya ini sangat penting bagi kita.
Bahwa apapun yang menimpa kita yang berhubungan dengan orang lain, aku ingin menegaskan satu hal: aku tak akan membenci siapapun. Apakah itu juga berlaku untuk kamu?

Dear waktu, tunjukan padaku hati yang terjaga?

Rabb, tarbiyahlah diri ini dengan segala yang kurasakan, segala yang kuterima.

Jangan biarkan hati ini beku karena nasihat. Bersihkanlah diri ini dari debu-debu pengotor jiwa.

Bismillah, kuatlah, karena Allah tahu dan kamu tak perlu menjelaskan apapun.
Tetap tenang dalam diam, dan tetap berbuat dalam hening.
Setiap kata yang keluar dari lisan kita akan di hisab, berkata yang baik lah salihah.
Allah mudahkanlah urusanku, dan sampaikanlah aku pada Mu melalui penghamabaanku yang cacat ini.

Allahu ghoyatuna...




13 Maret 2017

Cahaya Bulan

Standard
Hari ini aku bertanya, pada diriku yang sendirian di tengah keramaian diantara mobil yang mendenging, klakson yang menusuk telinga, membelah jalanan kota... aku terus bertanya pada diriku, siapa aku, menagpa aku di sini, apa yang kucari, siapa aku sekarang, mengapa aku sibuk sendiri?

Tiba-tiba saja, perasaan berat itu ada di dalam dadaku, memukul seperti godam, sampai terasa sesak.
Aku sendirian, sedangkan aku kecil, ku tatap langit dari celah jendela, benar betapa aku lemah, lihat... jika mobil ini masuk jurang, sedang aku ada di dalamnya, lalu aku bisa apa? 
Segera kutepis pikiran buruk itu, ada apa denganku, mengapa pikiranku meracau.

Buih-buih kegamangan itu masih tersisa, semestinya aku sudah berubah, bukan lagi manusia bimbang dan galau, apalagi kembali dari titik nol, titik aku mencari diriku... atau akan terus kucari sesautu hal, apa yang kucari, aku tak mau mencari apa yang bertentangan dengan hatiku.

Wajah Mu menyapaku, desiran angin menyelinap, tuas-tuas jendela yang dibuka mengabarkannya...
Aku sadar tentang keputusanku hari ini, akan menjadi tidak mudah untuk di jalani, karena aku akan berkali-kali membunuh diriku, melukai hatiku, dan terus seperti itu sampai aku yakin merasa terbebas. Siapa yang akan membebaskanku?

Jika boleh aku menoleh atau mengintip jalan hidup orang lain, aku melihat dalam usianya yang sama dneganku 24 menuju 25, sudah nampak sisi kedewasaan dalam dirinya, apa yang ia pikirkan bukan lagi soal mati-matian berada pada jalan yang benar, tapi bagaimana menebar jalan kebenaran itu agar dapat dinikmati banyak orang. Ah, Allah, rupanya aku masih belum selesai dengan diri sendiri.

Aku termenung di tepi danau, menatap lekat ketenangan yang biru, jernih air gemericik, permukannya mengkilau di basahi cahaya bulan. Aku sendirian, dalam alam pikiran. Menemui seseorang yang bernama kekosongan, memulai bercakap dengannya dengan bahasa isyarat.

Lalu aku tak mampu melanjutkan tulisan ini, mataku berkaca-kaca. Pipiku basah, ini kah sajak kerinduan itu, juga sajak takut yang ku bacakan setiap malam.

Aku takut kehilangan wajahMu, karena banyak sebab.
Aku takut hatiku melupa, karena hal lain, -kepada Mu aku meminta perlindungan`

Sayangilah aku ya Allah, tidak ada yang mampu mencegah kebaikan, jika Engkau sudah menyayangi seorang hamba. 

Semoga cahaya bulan ini, adalah utusanMu untuk menenangkan jiwaku.


28 Februari 2017

Tidak Jelas Berantakan

Standard
Di kamar redup yang berantakan dengan kertas, sebuah leptop menyala terang, tiga program beroperasi bersamaan. Sebuah film anime Jepang terkenal sedang dimainkan, jari-jemari mengetik, dan sebuah lakon tengah dimainkan. Pekerjaan yang sebenarnya di aplikasi lain, word, meminta segera diketikan sesuatu berbahasa asing...

Ada banyak sekali tugas yang harusnya dirunut dan diselesaikan satu-satu, tentang membuat resume (jurnal kuliah), proposal thesis, juga ngakngiknguk lain yang aku enggan menyebutnya sebagai beban. Semua slelau berhasil dikerjakan dan berlalu, hanya saja aku harus lebih serius sekarang. Sudah cukup label si tukang deadline, sudah cukup label ini itu, tapi mengapa masih sering muncul dalam kepalaku ide yang tak baik? ide untuk menunda dan melakukannya di akhir waktu.

Ada prioritaas yang seharusnya kita pilah untuk di pilih, tapi semua itu memang harus dan akan dikerjakan. Hanya karena semua terasa serba sulit, bingunglah kita memulainya... biarkanlah semuanya berlalu, jangan lupakan alarm kehidupan, apa yang sedang kucari sebenarnya?

Saat pertemuan di sebuah taklim dengan seorang akhwat, beliau mengatakan tentang oreintasi seorang hamba. Dulu katanya, saat beliau belum menikah...beliau sangat konsentrasi untuk menjadi mahasiswa terbaik, segalanya demi nilai terbaik, dan orientasi itu berujung pada kehidupannya yang serba kerja keras dan tidka tenang.... Beliau kini sudah menikah, ada ketenangan yang dirasakannya jauh lebih kuat, oreintasi bukan lagi mendapatkan nilai terbaik, atau jadi mahasiswa terbaik... tapi bagaimana ia mendapat ridho suami dengan menjadi istri yang baik, bagaiamna menyenangkannya dalam ketaatan dan kepatuhan... ya salah satunya ia mampu mengerjakan tugas tepat waktu, karena jika saja ia berleha dan keteteran ada banya urusan penting lainnya yang akan terbengkalai, seperti menjadi cuek atau abai pada suami, misalkan. Semua tindak-tanduknya diukur dengan orientasi yang lebih jauh, yakni keridoan Allah... tdak ada lag dalam hati iri pada teman yang nilainya besar, atau dengki pada teman yang aktif seklai di kelas, karena itu sudah merupakan perhiasan yang baginya tak menarik lagi... Masya Allah..

Dari yang kudengar itu aku mencoba mencari hikmah, tidak smeata ia mengatakannya jika bukan karena Allah menyayangiku.. lalu menunjukinya gara berkata demikian padaku.
Kurenungkan maknanya dengan diam, apakah aku pun akan demikian... saat ini semuanya serba tipuan, termasuk tipuan kesibukan yag seolah ada padaku, benarkah aku sibuk? Apa yang menajdi kesibukanku?

Apa kah semuanya akan seprti itu, apakah setiap orang akan menjadi sadar orientasinya saat sudah menikah, lalu jika tak sadar bagaimana walau sudah menikah? aku khawatir pertanyaan terakhir itu terjadi padaku.

Aku masih asyik mengetik di kamar yang redup. Punggung kutegakkan lurus, kaki kulipat dan tangan-tangan mulai mengetik. Pikiranku terlalu cepat memberi kode, banyakk sekali kata yang ditulis terbalik karen ajariku tak mampu mengimbangi pikiranku yang loncat ke sana-kemari...

AKu mulai akan mencerna perkataan selanjutnya dari  akhwat tadi, tentang ridho.
Ridho seorang gadis terletak pada orangtuanya, sebelum ia mengkhidmat pada suaminya.
Jadi orientasi itu bisa dimulai sejak saat ini, saat belum menikah, saat kita terobsesi menjadi orang baik, kita sadar motivasinya adalah orang tua. Kita sering berjauhan dengan ibu dan bapak, dan berbuat baik kepadanya menjadi sangat susah karena jarak dan waktu, siapa tahu, dengan kita menajdi orang baik di sini (atau dimanapun), maka Allah akan memberkahi orangtua kita dengan mendatangkan orang baik kepada mereka berdua... karena doa-doa kita dari jauh, atau sbeab apapun yang menyebabkan Allah meridoi kita dan keluarga.

Adapun ada satu kebaikan terkahir yang bisa dipersembahkan seorang anak pada orang tuanya sebelum ia menikah: mengikuti keinginan orang tua selama itu tidak bertentangan dengan syariat.

Aku diam sejenak mendengar kalimat terakhir darinya, kebaikan terakhir yang dilakuakns ebleum meniakh adalah, mengikuti keinginan orang tua...

Saat seorang gadis memutuskan untuk menikah dengan seorang laki-laki, secara agama gadis itu lebih utama khidmat pada suaminya, karena ikatan pernkahan adalah perjanjian yang teguh antara suami dan wali (ortu), dimana suami mengambil alih peran ortu untuk bertanggungjawab penuh pada istri baik lahir batin, dunia dan akhirat.

Saat sudah bersuami, maka seorang istri tidak bisa lagi berbuat sesukanya, ia dituntun secara agama untuk meminta kerelaan suaminya. Termasuk berhubungan dengan orang tua. Yah, walau banyak sekali orang tua sekarang tidak mampu menerima kenyataan itu, dan mengatakan itu dogma semata... Tapi seorang suami yang saleh tentu akan paham bagaimana hubungan dirinya dan istrinya terhadap orang tua dan mertua.

Dalam hal ini, kita sedang belajar merenda sebuah jembatan yang bahan utamanya dari benang woll. Aku seperti merenda dari ujung sini, juga kau merendanya dari ujung sana. Aku ingin berbuat banyak untuk orang tuamu, juga kamu ingin memberikan yang terbaik untuk orang tuaku. Begitulah ungkapan yang pantas untuk dua orang yang akan membangun keluarga. Kita sangat berhati-hati, jangan smapai jarumnya patah, atau serampangan menggunting benang.

Kebaikan terakhir yang bisa kupersembahkan untuk ibuku juga bapakku adalah mengikuti kehendaknya dengan terus bersabar dan memperbaiki diriku, mengondisikan jiwaku agar lebih memiliki kelapangan hati atas apa yang aku alami, aku lalui dan aku rasakan. Semoga dengan itu, kebarokahan dalam menantimu menjadi terasa oleh semua orang.

Ada sekali banyak yang ingin kutulis tentang berantakannya kamar-kamar jiwa. Namun semua seolah lenyap, aku takut salah menulis, aku pun takut salah berkata. Aku tidak ingin merusak rencana Allah, termasuk ketidakmampuanku menjaga perasaan.

Apakah menyukaimu adalah sesuatu yang salah, jika itu terjadi saat ini?
Aku tidak mengerti. Kondisiku sangat tidak bagus jika ditanyakan tentang ini. Dalam kondisi apapun, aku berusaha ingin ridho pada takdir Allah, termasuk jika orang yang aku nanti bukan kamu.

Ada banyak kebijaksanaan yang kita lewatkan jika kita terburu-buru mengakhiri penantian ini, mungkin itu salah satu hikmahnya, bahwa waktu pada akhirnya akan membawa kita pada tempat dan orang yang tepat.

Setiap hal telah terukur dengan benar, porsinya dan kadarnya, tapi kita sellau tidak tenang sebelum semuanya menjadi pasti... ah bukan kita, tapi aku, aku yang tidak bisa tenang.. aku tahu ada banyak rindu yang aku ingin menutupinya dari mataku tentang kamu, aku ingin menghindarimu, aku tidak ingin berbicara lagi... tapi semua ke-tidak-inginan itu menjadi satu: aku ingin.

Apa yang menajdikan aku sellau serba salah, aku hanya harus mengikuti waktu saja, hari ke hari, minggu ke minggu dan bulan-ke bulan. Sudah cukup aku menyadarinya, bahwa tidak terasa satu tahun telah berlalu, juga saat ini, aku hanya harus diam, tidak membuat onar dan smeuanya akan terjadi... menagpa hatiku risau terus menerus? Apakah aku takut terhadap karunia Allah?

Kamar masih berantakan, neuronku penuh, sinaps terbangun terjalin kuat, dan aku mendnegar suara adzan yang dihantarkan udara melaluii celah-celah jendela... aku terlampau memelihara khauf, lalu roja kemana... kemana harapan itu? Jika ternyata harapan itu sedang membersamaimu, di tempat yang jauh, yang aku tak tahu. Suatu saat ketakutan dan harapan itu akan menjaidkan kita kuat, satu sama lain.

Duhai pemilik alam semesta, yang kepadanya tertuju segala kebaikan, puji, dan kesempurnaan...beri kami hidayah untuk tetap mensyukuri nikmat, dan sellau berada dalam jalan yang Engkau ridhai, aamiin... ya Allah ya Rabbal alamin.


Az, 1/3/17







26 Februari 2017

Sukabumi

Standard
Demi mendengar segala kurangmu, aku tahu, bahwa aku pun tak sempurna
Demi langit yang mengandung hujan, aku hanya ingin menamnimu, bukan merubahmu,
Jikalau suatu hari kau menyadarinya atau meminta pendapatku tentang kekurangan itu
Maka aku hanya ingin memastikan, itu adalah dirimu,
Jangan berubah demi menyenangkanku, berubah demi dirimu sendiri dan karena Rabbmu

Sekali lagi bumi, aku tak ingin merubahmu, aku hanya ingin tumbuh bersama, membersamai, menjadi lebih baik dari hari ke hari....

20 Januari 2017

Deadline ESAI

Standard


Menulis adalah mengayun emosi. Bagaimanapun menulis kembali sisa-sisa kenangan masalalu, membuatku harus banyak diam. Dengan diam aku merasa sunyi, dan hanya melalui sunyi, cerita ini pun mengalir, menetes seperti air dicelah-celah batu, membasahi permukannya yang mengkilap di terpa sinar mentari pagi hari.
Malam ini, di depan leptop merah, aku memejamkan mata yang memang sejatinya ia ingin terpejam, sudah tiba saatnya dia beristirahat, tapi tidak… ada hati yang terus menerus berteriak, agar ia membuka kelopak. Mengapa protes? Ada tangan-tangan lentik yang minta menari di atas keyboard demi sebuah catatan perjalanan, tentang LPDP. Bukankah ini malam deadline?
Aku lelah, aku ingin istirahat. Siang tadi perjalanan hampir 100 km kutempuh dari ujung Tasikmalaya Selatan hingga Bandung Utara, dengan mengendarai motor. Bayangkan seorang seorang perempuan, siapa yang tak lelah? Ditambah lagi ada janji yang harus ditepati, tentang amanah membimbing anak membaca permulaan, demi amal demi ilmu, rasa lelah tak boleh dirasa… lagi pula aku pun merasa malu dengan yang sudah memberi dana. Seorang awardee pantang baginya menyerah pada keadaan. Tidak mengenal kata lelah dan mengeluh, ayolah mulai mengetik bujuknya lagi.
Matapun terbuka, ia harus lebih ikhlas mmenerima segala bujukan hatinya.
Sebuah catatan perjalanan pun dirangkai, tentang air mata dan kekukuhan tekad, keangkuhan mimpi, besarnya harapan, dan tingginya cita-cita.
Lihat lah ia dulu, seorang anak SD yang bahkan tak tahu rumahnya dimana, tak tahu bagaimana nasibnya esok hari, tak mengerti dengan perihnya kehidupan yang jalani, kini ia sudah kuliah, bahkan s2. LPDP bahkan mungkin adalah bagian dari doa-doanya di masa kecil, bagaimana bisa?
Semenjak ia relakan dirinya diadopsi, sma sekali, ia tak ingin merepotkan keluarga barunya. Toh baginya, hidup dengan memiliki rumah pun sudah istimewa, kini bahkan keluarga, ia punya keluarga baru, satu harapannya ia ingin sekolah dengan tanpa merepotkan orang tua angkatnya.
Semenjak itu, tak ada yang dibacanya setiap malam kecuali doa-doa melaluii surat yasin bahkan sampai 3 kali bolak-balik, itu nasihat Emak, “Jika inginkan sesuatu pada Allah, mintalah dengan perantara  kebarokahan Surat yasin. Ya Rabb satu saja keinginannya, ingin sekolah setinggi-tingginya.
Ia melihat, ketujuh kakaknya hamper semua tamatan SD. Laki-laki menjadi buruh bangunan, perempuan jadi petani atau sekedar jadi ibu rumah tangga tanpa kemampuan ataupun keterampilan, hidup serba sulit, dan ah tentu saja kesulitan itu selalu jadi pemicu ketidak-rukunan antara satu dengan yang lain.
Kita pun mestinya sadar ya, bahwa hidup kita ini mestilah punya berbedaaan (sebuah keistimewaan), sudah waktunya melakukan sebuah tranformasi. Apa yang bisa kulakukan?
2011, Allah jawab mimpi itu dengan adanya program bidikmisi yang baru berjalan 2 tahun.
2016, Allah jawab mimpi itu dengan adanya program BPI-LPDP yang baru berjalan beberapa tahun-tahun ini juga.
Bagaikan sebuah puzzle, mimpi itu telah Allah susun dan rangkai dengan indah. Semudah itukah mendapatkannya? Tentu saja tidak, ada sebuah proses yang panjang. Pertama kalinya 2014, mulai terdengar nama LPDP dari seorang dosen, “Sekarang untuk s2 akan jauh lebih mudah karena pemerintah sudah mengalokasikannya dari dana abadi, namanya lpdp, lembaga pengelola dana pendidikan, yang dipantau langsung oleh kemetrerian keuangan.”
Hmmmmm, LPDP, S2?
S1 pun belum selesai, bahkan tersendat-sendat, keuangan bidikmisi yang berkisar Rp 600 ribu, lebih banyaknya tak mampu mengcover kebutuhan sebagai seorang mahasiswa yang hidup di kota besar. Mungkinkah bisa melanjutkan, atau…
Waktu memang seperti air disungai, satu kali lewat, ia menyentuh jemari kita, kita tak akan sanggup membuat air yang sama kembali, ia akan terus berlalu menuju muara… begitupula, perkuliahn s1 usai, dan sebagai sarjana tanpa pengalaman, mengalami masa yang disebut dengan shock society, mengalami masa transisi yang luar biasa, anatara dunia kampus, dan dunia nyata di masayarakat. Setelah wisuda, kita dihadapkan banyak pilihan. Pilihannya adalah bekerja, menikah, pulang kampong, atau sekolah lagi.
Mana yang harus kuambil? Aku melihat di sekitarku, setiap detail dan ciri idealism mulai tertanggalkan satu-satu, dunia nyata lebih menuntut kita memiliki kemampuan-kemmapuan praktis. Banyak yang banting haluan, sarjana pendidikan tapi  bekerja menjadi pegawaii , pengusaha, politikus… ah mereka bilang inilah dunia yang nyata, kampus hanyalah miniature. Jika idealism tak bisa damai dengan kenyataan, maka berdamailah dengan diri sendiri…
Aku sendiri?
Berdamai dengan kenyatan membutuhkan waktu yang lama, aku tak rela menanggalkan statusku sebagai seorang sarjana pendidikan untuk sebuah kedai ramen yang ingin kurintis. Aku berusaha merenung, apa yang kubutuhkan? Teringatlah sebuah nama yang dulu terngiang-ngiang di kelas, LPDP, lanjutkan sekolah ke s2 menambahh ilmu, membuka mata, memperluas cakrawala.
UPI Tasikmalaya, 2015, taka da satupun alumni yang berhasil mendapatkan LPDP dari kampusku. Entah, karena alasan apa, mungkin karena kebanyakan karena alumni kampus kami tidak mendaftar…
Let to be the first! Aku ingin jadi orang yang pertama, jika memang belum ada.
LPDP… terus terngiang, sampai suatu hari karena tak tahan lagi dengan dengungnya, aku terpakas mendownload panduan, memprint persyaratan yang mungkin mudah. Pertama kali yang dilakukan adalah meminta surat rekomendasi pada dosen, sebagai bentuk integritas, setidaknya kita menjaid sangat termotivasi dengan ditanda-tanganinya rekomendasi tersebut.

(Penghujung Desember 2016)
Az. 

8 Januari 2017

Assalamu'alaikum Salihah

Standard
Alhamdulillah bini'mati tatimus sholihat...
Alhamdulillah, bisa menulis lagi, membuang lagi sampah emosi di kamar blogku yang berantakan ini...

Tadinya ingin merampungkan LPJ sebuah kegiatan, tapi entah kenapa, setelah membuka laptop malah tertarik kutak ketik yang tidak jelas ini...

Sambil nunggu adzan dzuhur, yu kita buat refleksi tahun 2016 kemarin.
Tahun ujian, TOTAL.

"Allah akan menguji dengan hal yang sama, selama kita tidak tahan (kalah/menyerah) dengan ujian tsb, benar?"

Ujian seperti itu terus datang, dan aku selalu yakin pada tulisanku sebelumnya bahwa, "sosok dia datang" saat aku didera dengan "fitnah".
Dan kehadirannya saat deraan fitnah ujian cobaan ini datang, membuatku ketakutan...
Seperti sebelumnya, aku takut semua ini akan menyakitiku lagi, semuanya berlalu sebelum aku sempat melakukan apa-apa... Atau jangan jangan aku yang membuat takdir ini berubah rusak?

Naima menggigit bibirnya sendiri, ia tahu jika ia salah langkah, semuanya akan seperti kemarin lagi...
Tidak, kali ini ia harus menahan semuanya dengan kesabaran yang penuh, toh jika saja masih tak sesuai, walau ia sudah sabar, itu adalah keputusan terbaik dr Allah...

Apa yang selama ini tak mampu ia tahan, adalah lisannya... ia begitu banyak berkata tentang segala isi hatinya, harapannya... sampai-sampai tak dapat dibedakan lagi mana doa, harapan, kesedihan, atau lelucon, semuanya tersamar oleh gelak tawa candanya yang mengkhawatirkan...

Aduhai yang hatinya was-was, sudahkah kau intip bagaimana hubunganmu dengan Allah saat ini?
Ingat: ORANG DIHISAB ITU SENDIRI-SENDIRI, MASING-MASING!

Jagalah hatimu, perbaiki.
Semoga tahun ini, jad tahun yang baik untuk kita, Naima.


6 Januari 2017

2017 Sweat Years

Standard
Lima tahun yang lalu, 2012. 

de mata, yogya, 18 des 16

Masih sangat jelas, teringat, tergambar.. saat diri meneropong hidup di tahun 2017, apa yang sudah berubah denganku?
atau apakah masih ada usia.. ah lima tahun pikirku waktu itu, akan terasa sangat lama..
Lima tahun memnag tidak sebentar, kesedihan, kehilangan, kepahitan, kebahagiaan, anugerah, datang silih berganti...
hampir tak percaya akan smapai pada tahun ini, sweet 17...
Hm...
Tapi tidak, sekarang hari ini, aku hidup di tahun 2017, benar?
dengan keadaan yang masih baik-baik saja, benar?
walau jelas ku akui, dosa bertambah....benar?

2017, September
Itu dulu bulan dimana sangat kuinginkan terjadi pernikahan bulan itu tahun itu...
Sekarang cuma bisa senyum saja...
Karena apa yang kita harap kadang bisa lebih cepat, ada yang tak berharap tapi terjadi, ada yang amat berharap tapi dikabulkan lebih cepat, bisa saja...

Selamat datang 2017, semoga hati kita semakin lebih baik, kehidupan semakin manis...
Hubungan dnegan Allah pun semakin membaik, ya Rabb, aamiin.