28 Januari 2016

Rp 0 Biang kerok

Standard
Sebelum ini, sempat sekali berpikir tentang sesutau yang wah, tentang tema menulis di blog. Tapi ketika sudah ada waktunya kini menulis, sesuatu yang wah itu entah menguap kemana...
Sebagiannya sudah tertindih lagi oleh bagian-bagian lain, peristiwa sehari-hari yang bisa dibilang begitu cepat bergulir...
Hari kemarin alhamdulillah bisa merasakan lagi menangis sambil abwa motor, tenang.... pasalnya bukan patah hati...
kemarin sore sengaja berkunjung ke salah satu temanku, bercakap tentang sesuatu yang tak bisa kukendalikan,,,, mengapa mulut ini begitu mudah mengucapkan penghakiman kepada seseorang yang bahkan sebenarnya ia memiliki hati yang mulia...

Ku katakan padanya, sesuatu yang melukainya.
Aku tak suka tulisannya di mading tentang Rp 0....
aku juga tak suka status fb nya tentang profesional itu...
Lalu kuutarakan sesautu, dan ia menangis,
Aku merasa kejam telah jadi hakim
kesalahanku adalah terlalu ikut campur....


Ia jelas menangis di bahuku, dan aku menangis, "Kok dunia ini kaya kejam banget ya mempermainkan perasan kitanya, keterlaluan!!!!!"

Posisiku memang terjepit.
Satu diantara dua yang tak bisa saling terbuka...

Satu merasa benar. Dua juga sama.
Kalo sudah begitu, tak akan ketemu titik selesai. Kecuali mengusahakn salha satu dari keduanya untuk merasa diri salah, dan mau memperbaiki diri. Itu yang sedang kulakaukan, kepadanya, karena tahu posisi ia (ruhani) lebih kuat dari yang lainnya....

Dan ia kembali bbm, dengan cerianya menyapaku, syukurlah ia sudah sembuh!
Semoga kita dihindarkan dari pengaruh syaitan yang emebisiki kesalahan.


13 Januari 2016

Terbaik

Standard
Menjadi pemeran utama kadang tak enak, bahkan bisa menjadi beban pula.
Padahal kita sejatinya satu-satunya, pemegang lakon utama panggung hidup kita sendiri, bukan?
Selepas wisuda kemarin tanggal 15 Desember 2015, kemarin? bukannya hari ini sudah Januari tengah Bu?---kehidupan masih belum bnayak berubah, masih tetap sama, ya sama berjalan, sesuai tatanannya...
Satu-satunya yang berubah adalah status seorang sahabat, asalnya lajang menjadi "sudah menggenap".
Lagi-lagi membahas ini Zet?
Sebenarnya sudah sangat giung dengan tema menggenap, tetapi baiklah menjadi tetap bersikap netral.
Oktober lalu, setahun lalu, sempat ingin memberikan kesempatan pada seseorang untuk menjalani proses yang serius, tetapi desember awal kemarin, proses itu dengan penuh kesadaran sepenuhnya kuhentikan, lalu mengapa?
Pada mulanya seorang itu datang dengan maksud mulia, menggenapi.
Lalu i'tikad itu mulai berpudar seiring waktu, tak kunjung pula ia menentukan sikap, yang jelas ia malah meminta belajar bersama.
Bukan hanya belajar bersama, seolah aku pun mesti terus berkomunikasi dengannya.
Demi Allah, bukan itu yang diinginkan oleh hatiku.
Maka tak boleh ada yang bertentangan dengan syariat sesuai yang kupahami, walaupun seringnya ia berkali-kali mengatakan agama itu luwes.
Namun maaf, untuk masalah satu ini, keluwesan itu tak berlaku.

Aku benar-benar menginginkan keberkahan, jalan yang berkah, jika harus menyakiti diri sendiri pun, tak mengapa.
Jalan itu terus kulalui, seiring waktu....
Semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik, dan semoga niat ia menggenap menyampaikannya pula pada orang yang lebih baik daripada diriku yang fakir ilmu, fakir amal ini, dan lebih siap tentunya.

Januari menjelang, dan sempat pula menatapnya dengan sedikit ragu, "Allah ampuni atas ketidak mampuan diri melakukan yang terbaik".

Yang kupahami itulah yang mesti kujalani.